Denpasar (ANTARA) – Ajang loncat tebing akrobatik dunia, Red Bull Cliff Diving World Series 2026 siap digelar di Broken Beach, Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali pada 21-23 Mei 2026, yang menjadi pelaksanaan pertama kompetisi itu di Pulau Dewata.
Direktur Olahraga Red Bull Cliff Diving Orlando Duque saat konferensi pers di Denpasar, Rabu, menjelaskan putaran pertama dan kedua awalnya direncanakan berlangsung di Air Terjun Kroya, Desa Sambangan, Kabupaten Buleleng.
Namun, kondisi cuaca dan sedimentasi yang terbawa arus dari hulu menyebabkan kedalaman air berkurang sehingga dinilai kurang ideal untuk pelaksanaan kompetisi.
Menurut dia, meski beberapa titik masih cukup aman untuk melakukan lompatan, panitia memilih memindahkan seluruh putaran ke Broken Beach demi keselamatan atlet, kru, serta tim penyelam pengaman.
Baca juga: TNI siapkan KRI-helikopter amankan Red Bull Cliff Diving Nusa Penida
“Keselamatan atlet dan semua kru menjadi prioritas utama. Karena kondisi kedalaman berubah akibat sedimen, akhirnya seluruh ronde dipindahkan ke Broken Beach,” kata Duque.
Ia menyebut keputusan tersebut memang disayangkan karena Air Terjun Kroya dinilai memiliki potensi besar sebagai lokasi kompetisi kelas dunia.
Bahkan pihak penyelenggara membuka peluang untuk kembali mencoba venue tersebut pada musim berikutnya.
Orlando juga memuji Bali sebagai lokasi yang lengkap untuk penyelenggaraan olahraga ekstrem internasional.
“Bali punya semuanya. Siapa yang tidak mengenal Bali, alam, budaya, atmosfirnya semua ada di sini,” ujarnya.
Sebanyak 24 atlet terbaik dunia (12 perempuan dan 12 laki-laki) akan bersaing dalam sebuah pencapaian bersejarah yang menempatkan Pulau Dewata dalam peta destinasi sport tourism premium dunia itu.
Pada kompetisi tersebut, atlet perempuan akan melompat dari ketinggian 21 meter, sedangkan atlet pria dari ketinggian 27 meter dengan kecepatan masuk ke air mencapai sekitar 85 kilometer per jam.
Orlando menambahkan, kondisi pijakan tebing di Bali yang lebih curam dibanding lokasi lain juga menjadi tantangan tersendiri bagi para atlet sehingga mereka harus beradaptasi khusus sebelum bertanding.
Meski venue di Buleleng batal digunakan, atlet wildcard Aidan Heslop tetap sempat mencoba lokasi Air Terjun Kroya.
Ia mengaku mendapat pengalaman baru karena harus melakukan lompatan dengan tingkat presisi lebih tinggi, termasuk saat melakukan pendaratan ke titik air tertentu.
Aidan juga menceritakan proses pemulihannya sebelum kembali tampil di kompetisi dunia tersebut. Setelah 15 tahun berkarier sebagai atlet cliff diving, ia sempat menjalani masa pemulihan selama satu tahun penuh akibat cedera sebelum akhirnya kembali berkompetisi di Bali.
“Setiap tempat memiliki karakteristiknya masing-masing sehingga kami harus siap beradaptasi dengan situasi dan kondisi di lapangan. Bali saya pikir berbeda dan ini akan sangat menantang,” katanya.
Sementara itu, atlet wildcard perempuan Xantheia Pennisi mengatakan para atlet tidak hanya mengejar performa maksimal, tetapi juga menjaga kondisi tubuh agar tetap konsisten sepanjang kompetisi.
Atlet cliff diving profesional asal Brisbane, Australia, yang telah menjadi salah satu nama paling dikenal di Red Bull Cliff Diving World Series itu mengatakan faktor keselamatan juga harus diperhitungkan dalam setiap kompetisi.
“Atlet ingin tetap konsisten di setiap lompatan dan menghindari cedera,” ujar perempuan berdarah Australia-Filipina itu.
Setelah Bali, seri kompetisi dunia ini akan berlanjut ke sejumlah negara lain seperti Copenhagen, Bosnia, hingga Oman yang untuk pertama kalinya menjadi tuan rumah Red Bull Cliff Diving World Series.
Baca juga: Indonesia tuan rumah pembukaan Red Bull Cliff Diving World Series 2026
Pewarta: Rolandus Nampu
Editor: Michael Teguh Adiputra Siahaan
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.