Menurut saya, angkringan paling aneh ada di Wates, Kulon Progo. Dan saya tidak tahu harus kagum atau bingung ketika pertama kali duduk di angkringan ini.
Di sebelah kiri, kereta lewat sesekali menyapa para pengunjung angkringan. Di depan, hamparan sawah membawa angin sepoi-sepoi. Dan di sebelah kanan, ada kamar jenazah RSUD WatesKulonprogo.
Iya, ada pemandangan kamar jenazah di sebelah kanan angkringan ini. Kamar jenazah itu berdiri dengan penuh percaya diri seolah-olah juga bagian dari pemandangan yang akan “memanjakan” para pengunjung. Dan, tahukah kamu, angkringan aneh di Kulon Progo ini selalu ramai.
BACA JUGA: 5 Angkringan Jogja yang Perlu Dihindari biar Nggak Menyesal Setelah Makan di Sini
Semua menikmati keunikan di Kulon Progo ini
Kalau kamu pikir pemandangan aneh di angkringan Kulon Progo ini bikin orang malas makan, kamu salah besar. Justru banyak yang mampir untuk makan di tempat.
Mayoritas memang pegawai RSUD Wates, Kulon Progo, yang sudah kenyang berurusan dengan hal-hal berat di dalamnya. Jadi wajar kalau mereka butuh istirahat di luar. Yah, meski “luar”-nya tetap nggak jauh-jauh dari suasana yang sama.
Yang menurut saya jadi seru adalah banyak dari mereka yang momong anak. Bawa anak kecil, duduk manis, makan, ngobrol, ketawa-ketawa, sementara kamar jenazah ada di belakang mereka. Dan mereka santai saja.
Nggak ada yang mempermasalahkan. Nggak ada yang berbisik menakut-nakuti anak-anak. Misalnya dengan bilang, “Dek, itu lho tempatnya orang meninggal, sini jangan deket-deket.” Nggak ada. Anaknya lari-lari, orang tuanya makan nasi kucing.
Filosofi makan orang Jawa: Nggak peduli pemandangan dari angkringan, yang penting kenyang
Orang dewasa takut pada kamar jenazah karena tahu apa artinya. Tapi anak kecil itu? Mereka ikut makan di angkringan dan lari-lari di sana dengan muka paling bahagia di dunia. Mereka belum punya beban untuk takut, belum punya definisi tentang hal-hal yang harus dijauhi.
Atau, mungkin justru anak-anak itu yang lebih benar. Bahwa hidup dan mati itu berdampingan. Satu di dalam gedung, satu di angkringan sambil ngunyah gorengan dan nggak ada yang perlu dibuat dramatis.
Orang Jawa punya cara sendiri untuk berdamai dengan kenyataan. Salah satunya: makan dulu, urusan eksistensial belakangan.
BACA JUGA: Panduan Tidak Resmi Makan di Angkringan Jogja agar Tampak Elegan dan Santun
Angkringan sebagai ruang demokrasi paling jujur
Angkringan itu nggak pilih-pilih tamu. Nggak peduli kamu baru selesai dinas malam, baru mengantar jenazah, atau baru dapat kabar duka. Kursinya ya tetap tersedia untukl siapa saja, tehnya tetap panas, gorengannya tetap menggoda.
Di sinilah saya rasa angkringan di samping kamar jenazah di Kulon Progo ini justru punya kedalaman yang nggak dimiliki kafe-kafe yang berusaha terlalu estetik. Tempat ini jujur banget. Ia tahu di mana dia berdiri, secara harfiah maupun filosofis.
Pemandangan di sini memang absurd dan aneh. Tapi justru karena itu, angkringan jadi terasa nyata. Hidup, dalam versi paling sederhana dan paling sebenar-benarnya bagi sebagian masyarakat Kulon Progo.
Penulis: Nur Anisa
Redaktur: Yamadipati Seno
BACA JUGA Bagi Saya, Angkringan Jogja Itu (Kini) Overrated, Tidak Perlu Dipuji Sampai Setinggi Itu
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini dari.
Terakhir diperbarui pada 22 Mei 2026 oleh