1. News
  2. Mojok
  3. Gempa Jogja Adalah Guru yang Tidak Kita Inginkan, tapi Kita Perlukan

Gempa Jogja Adalah Guru yang Tidak Kita Inginkan, tapi Kita Perlukan

gempa-jogja-adalah-guru-yang-tidak-kita-inginkan,-tapi-kita-perlukan
Gempa Jogja Adalah Guru yang Tidak Kita Inginkan, tapi Kita Perlukan

“Tetap kuat! Tetap kuat!”

Teriakan itu menggema di telingaku sampai detik ini. Bahkan setelah 20 tahun berlalu. Ketika Aku yang masih bocah mengira bahwa ajalku tiba. Dinding roboh, perabot berderak, debu menusuk mata, dan masa depan seperti berhenti di 27 Mei 2006 pukul 05.53. Ya, gempa Jogja yang fenomenal itu bukan hanya jadi berita bagi hidupku. Tapi memori yang melahirkan kesiagaan serta paranoia penuh setiap saat.

Sampai tiba hari bencana itu, Aku tidak pernah memahami dan peduli pada gempa. Juga tidak pernah mendapat pendidikan yang layak perihal bencana. Dan tiba-tiba pembahasan tentang gempa menjadi sesuatu yang penting dan krusial. Dari dalam rumah, sekolah, sampai kantor membahas siaga bencana. Setidaknya itu yang kuingat sampai Aku remaja.

Sekarang? Semua terasa lebih kendor. Padahal ancaman gempa megathrust masih membayangi kehidupan warga Jogja bahkan Indonesia secara umum. Sial, semangat tanggap bencana memudar bahkan ketika bencana datang silih berganti.

Kembali mengingat gempa Jogja 2006, ia adalah guru yang kita perlukan. Tentu kita tidak ingin menjadi korban bencana, tapi ia tetap perlu sebagai kofaktor. Cara cepat membuka mata masyarakat tentang pentingnya bersiaga setiap saat. Tapi apakah kita harus menanti 6 ribu lebih orang gugur untuk belajar? Atau kita harus belajar dari sekarang dan seterusnya?

BACA JUGA: Yogya Pernah 12 Kali Diguncang Gempa Dahsyat, Abdi Dalem Keraton Gelar Simulasi

Gempa dan Trauma

Aku tidak akan pernah lupa dengan momen gempa 2006. Bahkan kuabadikan dalam bukuku yang berjudul “Sebelum Kami Digusur”. Aku yang baru selesai mandi hanya berbalut handuk sederhana. Bersiap untuk berangkat sekolah dengan sepeda yang belum lama kubeli. Menyapa mama dan kedua eyangku yang sedang mengunyah informasi dari koran Kedaulatan Rakyat.

Tiba-tiba bumi berderak. Suara gemuruh memekakkan telinga. Aku yang membatu langsung diseret mamaku lari ke halaman. Disusul kedua eyangku yang tertatih-tatih berlari kecil. Dan yang tersisa tinggal separuh bangunan roboh, debu memenuhi halaman, tangisanku dan mama, serta pantat yang kedinginan karena masih berbalut handuk melorot.

Guncangan gempa itu tidak bisa kulupakan. Bahkan sampai saat ini Aku masih trauma. Setiap kasurku atau lantai gazebo berderak, Aku langsung melotot siaga. Bahkan bisa melonjak jika goncangan terasa keras, seperti saat gempa. Apalagi jika terjadi gempa sungguhan. Aku bisa bangun melawan vertigo dan tekanan darah rendah, lalu membuka pintu dengan begitu presisi. Dan dalam sekejap mata, Aku sudah berdiri di halaman. Membuat teman satu kantor heran kenapa tubuh gempalku mendadak lincah.

Aku bersyukur reflekku pada gempa terbentuk setelah jadi korban 20 tahun lalu. Tapi tidak bagi banyak orang. Terutama mereka yang tidak merasakan gempa Jogja 2006. Banyak yang kebingungan atau malah membeku ketika terjadi gempa. Maka boleh Aku sesumbar, gempa Jogja adalah guru yang kita semua perlukan.

Kamu mau tahu bagaimana gempa berkekuatan 5,9 SR (atau 6,3 SR menurut penelitian terkini) menjadi guru terbaik bagi Jogja dan Indonesia? Ini tidak hanya perkara kesigapan dan tanggap pada bencana. Tapi mengubah bagaimana cara hidup masyarakat.

Dengan gempa Jogja yang mengerikan itu, masyarakat teringat realitas. Kita tidak hidup di atas tempurung kura-kura kosmik raksasa. Tapi di atas cincin api geologis yang setiap saat siap bergetar. Gempa Jogja, dan juga Tsunami Aceh, menjadi alarm paling awal dari perubahan hidup di masyarakat.

Efek gempa Jogja

Lihatlah bagaimana rumah yang dibangun setelah 2006. Fondasi cakar ayam bukan lagi barang mewah, tapi keharusan. Atap asbes, meskipun berbahaya bagi kesehatan, jadi primadona karena lebih ringan. Narasi ‘rumah tahan gempa’ akhirnya mendatangkan berbagai model material bangunan modern di pasar Indonesia. Dari hebel sampai galvalum menggunakan narasi tahan dan aman gempa sebagai narasi penawaran.

Mental tanggap bencana juga ikut bertumbuh di tengah masyarakat. Dari bagaimana evakuasi personal saat bencana terjadi, sampai menyiapkan tas tanggap bencana. Aku sendiri punya satu tas berisi seluruh dokumen penting yang siap dibawa kapan saja jika bencana. Entah gempa, banjir, atau gerakan rakyat masif melawan pemerintah.

Masalahnya pendidikan tanggap bencana seperti ini mulai memudar. Aku sudah jarang melihat ada simulasi bencana di sekolah-sekolah. Bahkan saat aku masih kuliah, simulasi bencana juga tidak diadakan. Seolah semua orang hanya bisa ikhlas ketika bencana datang.

Pentingnya Selalu Siaga

Sebenarnya perkara pelatihan tanggap bencana tidak benar-benar sirna. InJourney Destination Management (IDM) bersama Kemenko PMK melalui program InJourney Community Care mengadakan Pelatihan Tanggap Bencana Gempa Bumi yang diikuti oleh anak-anak muda. Pesertanya 1.000 siswa dari dari 10 sekolah di Kabupaten Gunungkidul, Bantul, Kota Yogyakarta, dan Sleman. Sekolah yang dipilih berada di jalur area sesar opak. Pelatihan ini membantu peserta meningkatkan pemahaman, kesadaran, dan keterampilan dasar menghadapi situasi darurat bencana alam.

Tapi ini saja belum cukup. Pelatihan seperti ini tidak hanya bisa mengharap pada satu pihak. Melainkan harus diinisiasi dan dimotori instainsi pemerintah yang lain. Toh mereka punya cukup kapital untuk melakukan pelatihan seperti ini. Bukankah pemerintah kita jago dalam membuat program mendadak dengan dana triliunan dan melibatkan jutaan manusia dalam satu tarikan napas?

Pelatihan tanggap bencana seperti ini bukan hanya jadi opsi. Tapi sebuah keharusan seperti menghafal Pancasila. Kita hidup di zona rawan gempa dan bencana alam lain. Belum lagi bencana ekologis ulah manusia yang tidak bermoral. Jika mentalitas siap siaga akan bencana mengendur, jangan kaget jika banjir air mata yang memilukan selalu terulang setiap bencana terjadi.

Masyarakat yang sudah sadar bencana juga tidak boleh kendor. Mungkin melihat kelompok takut kiamat seperti the preppers terkesan bodoh. Tapi ketika bencana terjadi, pasokan pangan kering dan tas dokumen penting mereka akan krusial. Dan mereka yang santai-santai saja akan meratap dalam ketidakmampuan.

Kapan Kita Mau Belajar?

Mungkin sudah banyak manusia yang lahir setelah gempa Jogja 2006. Bahkan yang mengalami juga sudah mulai lupa kekacauan hari itu. Bagaimana ketidakpastian hidup, hoaks tsunami, sampai raungan ambulance setiap hari pernah menjadi realitas 20 tahun lalu. Tapi bagaimana sekarang? Apakah kita sudah belajar?

Mungkin sudah banyak yang kita pelajari, namun belum cukup untuk benar-benar siap menghadapi bencana. Rentetan bencana alam dan ekologis di tahun 2024-2026 adalah bukti valid bahwa kita belum benar-benar belajar. Bencana memang terjadi tiba-tiba. Tapi ketika kita siap, kita tahu apa yang akan dilakukan. Baik saat atau setelah bencana terjadi. Kita memang meratap dan merintih pilu, tapi kita akan tahu kemana kaki melangkah setelah bencana alam seperti gempa Jogja 2006.

Penulis: Prabu Yudianto
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Trauma Gempa Jogja yang Tak Kunjung Hilang, Seorang Lelaki Tua di Bantul Tak Berani Tidur di Kamar Selama 17 Tahun

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini dari.

Terakhir diperbarui pada 21 Mei 2026 oleh

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Gempa Jogja Adalah Guru yang Tidak Kita Inginkan, tapi Kita Perlukan
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us