Biji Hanjeli Pernah Dianggap Makanan Kampung, Sekarang Diburu Peneliti untuk Riset Pangan Masa Depan
Banyak orang mengenal nama jali-jali hanya dari lagu Betawi yang populer sejak lama. Padahal, jali atau hanjeli merupakan tanaman pangan tradisional yang pernah cukup akrab di berbagai daerah Indonesia. Kini keberadaannya mulai jarang ditemui, bahkan banyak generasi muda yang tidak pernah melihat atau mencicipinya secara langsung.
Di tengah tren pangan lokal dan pencarian sumber karbohidrat alternatif, hanjeli kembali menarik perhatian karena kandungan gizinya yang tinggi serta potensinya sebagai bahan pangan masa depan.
Secara ilmiah, hanjeli memiliki nama latin Coix lacryma-jobi dan termasuk dalam keluarga rumput-rumputan atau Poaceae, satu kelompok dengan padi dan jagung. Tanaman ini berasal dari Asia Timur dan Malaya, lalu menyebar ke berbagai wilayah tropis dunia.
Di Indonesia, hanjeli tumbuh di banyak daerah seperti Sumatera, Jawa, Kalimantan, hingga Sulawesi. Tanaman ini juga cukup fleksibel karena mampu hidup di lahan basah maupun lahan kering, termasuk di lingkungan yang kurang subur.
Di Jawa Barat, masyarakat Sunda mengenalnya dengan nama hanjeli. Salah satu daerah yang masih membudidayakan tanaman ini adalah Kabupaten Sukabumi, terutama di Kecamatan Waluran. Di wilayah tersebut, hanjeli tidak hanya dipertahankan sebagai tanaman tradisional, tetapi juga mulai dikembangkan menjadi produk pangan modern.
Bukan Cuma Tanaman Liar
Secara fisik, hanjeli tumbuh dalam rumpun besar dengan batang tegak yang tingginya dapat mencapai tiga meter. Daunnya berbentuk pita memanjang dengan tekstur agak kasar. Buahnya berbentuk bulat lonjong dan ketika tua memiliki kulit keras berwarna putih atau biru keunguan, tergantung varietasnya.
Ada dua varietas hanjeli yang umum dikenal. Varietas pertama adalah Coix lacryma-jobi var. lacryma-jobi yang memiliki cangkang keras dan sering dimanfaatkan sebagai bahan manik-manik atau aksesori. Sementara itu, varietas kedua yaitu Coix lacryma-jobi var. ma-yuen merupakan jenis yang dapat dimakan dan sudah lama digunakan dalam tradisi pengobatan Tiongkok.
Di perdagangan internasional, hanjeli juga dikenal sebagai Chinese pearl wheat atau “gandum mutiara Cina”, meskipun secara kekerabatan tanaman ini lebih dekat dengan jagung dibanding gandum. Bulirnya memiliki tekstur kenyal tetapi tidak lengket setelah dimasak, sehingga cocok diolah menjadi berbagai jenis makanan.
Berpotensi Jadi Pangan Alternatif
Salah satu alasan hanjeli mulai kembali dilirik adalah kandungan gizinya. Biji hanjeli mengandung karbohidrat, protein, lemak nabati, serta kalsium dengan nilai gizi yang disebut setara dengan beras. Selain menjadi sumber energi, kandungan seratnya juga membantu melancarkan pencernaan dan buang air besar.
Dalam pengobatan tradisional Tiongkok, hanjeli sudah lama dimanfaatkan sebagai bahan herbal. Tanaman ini diketahui memiliki kandungan antioksidan dan zat aktif bernama coixenolide. Senyawa tersebut dipercaya memiliki manfaat kesehatan, termasuk sebagai peluruh air seni dan antitumor. Karena itu, hanjeli sering disebut memiliki potensi sebagai bahan pendukung pengobatan tradisional kanker, meskipun penggunaannya tetap memerlukan penelitian medis lebih lanjut.
Keunggulan lain dari hanjeli adalah kemampuannya tumbuh di lahan yang tidak terlalu subur. Kondisi ini membuatnya potensial dikembangkan sebagai sumber pangan alternatif di tengah tantangan perubahan iklim dan kebutuhan diversifikasi pangan nasional. Ketika ketergantungan pada beras masih sangat tinggi, tanaman seperti hanjeli dapat menjadi pilihan tambahan sumber karbohidrat masyarakat.
Beragam Olahan Hanjeli
Meski sempat dianggap makanan lama yang tertinggal zaman, hanjeli sebenarnya sangat fleksibel untuk diolah menjadi berbagai produk modern. Teksturnya yang kenyal membuat biji ini cocok dijadikan bubur, tape, dodol, hingga tepung.
Di Sukabumi, pegiat hanjeli bernama Asep Hidayat Mustopa mencoba membuktikan bahwa tanaman tradisional ini masih memiliki masa depan. Ia mengolah hanjeli menjadi berbagai produk seperti pengganti nasi, bubur, rengginang, peuyeum atau tape hanjeli, hingga tepung hanjeli. Bahkan, ia tengah mengembangkan inovasi yogurt berbahan dasar hanjeli.
Upaya tersebut menarik perhatian wisatawan lokal maupun mancanegara. Produk olahan hanjeli buatan Asep disebut pernah dikunjungi dan dipelajari oleh tamu dari Jepang, Australia, hingga akademisi seperti Akita University dan Prof. Asahi dari Izu Peninsula Geopark.
Fenomena ini menunjukkan bahwa pangan lokal sebenarnya memiliki nilai ekonomi dan budaya yang besar jika dikembangkan dengan serius. Hanjeli bukan hanya soal nostalgia atau tanaman tradisional, tetapi juga peluang untuk menghadirkan pilihan pangan yang lebih beragam.
Menghidupkan Kembali Pangan Lokal
Kehadiran hanjeli di Indonesia hari ini memang belum sepopuler beras atau jagung. Namun, meningkatnya minat terhadap pangan lokal dan makanan sehat membuka peluang baru bagi tanaman ini untuk kembali dikenal masyarakat luas.
Selain kaya nutrisi, hanjeli juga memiliki sejarah panjang dalam budaya masyarakat Indonesia. Lagu “Jali-jali” mungkin membuat namanya tetap diingat, tetapi keberlanjutan tanaman ini bergantung pada apakah masyarakat masih mau menanam, mengolah, dan mengonsumsinya.
Di tengah perubahan pola makan dan tantangan pangan global, hanjeli menunjukkan bahwa tanaman lokal yang hampir terlupakan pun masih bisa memiliki masa depan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News