1. News
  2. Berita
  3. Legenda Peu Mana Meinegaka Sawai, Cerita Rakyat dari Papua

Legenda Peu Mana Meinegaka Sawai, Cerita Rakyat dari Papua

legenda-peu-mana-meinegaka-sawai,-cerita-rakyat-dari-papua
Legenda Peu Mana Meinegaka Sawai, Cerita Rakyat dari Papua

Legenda Peu Mana Meinegaka Sawai, Cerita Rakyat dari Papua


Ada sebuah legenda yang berkembang di tengah masyarakat Papua yang menceritakan tentang legenda Peu Mana Meinegaka Sawai. Peu Mana Meinegaka Sawai adalah sebuah kabut yang muncul di Gunung Zega yang diyakini sebagai penanda terjadinya perang di tengah masyarakat Kampung Bilai.

Bagaimana kisah lengkap dari legenda Peu Mana Meinegaka Sawai tersebut?

Legenda Peu Mana Meinegaka Sawai, Cerita Rakyat dari Papua

Dinukil dari buku Cerita Rakyat Nusantara, alkisah pada zaman dahulu ada sebuah kampung yang berada di daerah Paniai, Papua. Kampung tersebut bernama Kampung Bilai.

Di dekat Kampung Bilai ada sebuah gunung yang berdiri tegak dan menjulang tinggi. Masyarakat Kampung Bilai mengenal gunung tersebut dengan nama Gunung Zega.

Bagi masyarakat Kampung Bilai, Gunung Zega bukanlah sekadar gunung biasanya. Mereka meyakini jika ada penghuni yang mendiami wilayah gunung tersebut.

Jika ada wabah penyakit yang menyerang Kampung Bilai, maka masyarakat akan meminta bantuan penghuni dari Gunung Zega lewat perantara seorang pawang. Pawang ini diyakini memiliki kesaktian yang tinggi.

Pada suatu hari, muncul sebuah rasa penasaran di tengah masyarakat Kampung Bilai. Mereka penasaran dengan wujud asli dari penunggu Gunung Zega.

Oleh sebab itu, masyarakat kemudian mengundang pawang untuk berdiskusi. Mereka berkata ingin melihat wujud asli dari penunggu Gunung Zega tersebut.

Sang pawang memahami rasa penasaran masyarakat. Dirinya kemudian bersedia untuk mengantarkan masyarakat menuju puncak Gunung Zega.

Ternyata sang pawang juga penasaran dengan wujud asli Gunung Zega. Selama ini dia tidak pernah melihat wujud dari penghuni gunung tersebut.

Semua persiapan kemudian dilakukan untuk perjalanan ini. Keesokan harinya, para lelaki dewasa dari Kampung Bilai bersama sang pawang berangkat menuju puncak Gunung Zega.

Perjalanan menuju puncak Gunung Zega ternyata penuh dengan tantangan. Mulai dari mendaki tebing terjal, melewati sungai deras, hingga melewati hutan lebat menjadi perjalanan yang dilewati oleh rombongan ini.

Setelah berjalan cukup lama, akhirnya rombongan tersebut sampai di puncak Gunung Zega. Mereka kemudian memutuskan untuk beristirahat sejenak dari perjalanan panjang yang sudah dilakukan.

Ketika sedang beristirahat, tiba-tiba seekor biawak besar melintas di antara mereka. Hal ini tentu mengejutkan rombongan tersebut.

Apalagi biawak tersebut memiliki bentuk yang berbeda dari biawak pada umumnya. Biawak tersebut memiliki kepala manusia.

Semua kaum laki-laki langsung mengangkat senjata yang mereka bawa. Mereka bersiap untuk menyerang biawak tersebut.

Namun sang pawang berusaha menenangkan rombongan tersebut. Dirinya berkata jika bisa saja biawak tersebut adalah sosok penunggu Gunung Zega.

Para lelaki ini kemudian mendengarkan perkataan sang pawang. Mereka kemudian memutuskan untuk menangkap biawak berkepala manusia tersebut dan membawanya ke Kampung Bilai.

Begitu tiba di Kampung Bilai, biawak tersebut dimasukkan ke sebuah kandang. Keberadaan biawak ini menarik perhatian semua masyarakat.

Tiba-tiba biawak tersebut bisa berbicara layaknya seorang manusia. Dirinya berkata jika bisa memenuhi semua permintaan masyarakat yang ada di sana.

Namun ada sebuah syarat yang mesti dipenuhi untuk mendapatkan keinginan tersebut. Biawak itu berkata jika masyarakat mesti menyerahkan satu kepala suku atau kepala perang sebagai tumbal untuknya.

Semua masyarakat yang ada tergiur akan ucapan biawak tersebut. Akhirnya mereka berlomba-lomba mencari kepala suku untuk diserahkan kepada sang biawak.

Perang antarsuku pun akhirnya tidak terelakkan. Banyak kepala suku dan kepala perang yang menjadi korban dari peperangan tersebut.

Lama kelamaan kaum lelaki yang mendiami Kampung Bilai mulai berkurang. Masyarakat kemudian sadar akan kesalahan yang sudah mereka lakukan.

Masyarakat Kampung Bilai kemudian bersepakat untuk membinasakan biawak tersebut. Sebab dari ucapannyalah peperangan terjadi di antara mereka.

Semua masyarakat kemudian melemparkan tombak ke arah biawak tersebut. Akhirnya biawak berkepala manusia itu tewas dan menemui ajalnya.

Sebelum menghembuskan nafas terakhir, biawak itu meninggalkan sebuah pesan pada masyarakat. Dia berkata jika kelak ada kabut yang muncul di puncak Gunung Zega, maka itu akan menjadi pertanda terjadinya perang di antara mereka.

Penduduk Kampung Bilai pun mempercayai kabut di puncak Gunung Zega yang menjadi penanda adanya peperangan. Kabut inilah yang kemudian dikenal dengan nama Peu Mana Meinegaka Sawai.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Legenda Peu Mana Meinegaka Sawai, Cerita Rakyat dari Papua
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us