Indonesia belum pernah lagi menempatkan wakilnya sebagai juara sejak edisi 2001, saat Ellen Angelina menjadi yang terbaik
Jakarta (ANTARA) – Rivalitas dua tunggal putri papan atas dunia, An Se-young dan Akane Yamaguchi, kembali tersaji pada final BWF World Tour Super 1000 Polytron Indonesia Open 2026 setelah keduanya memastikan tiket partai puncak di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Sabtu.
Final tersebut menjadi panggung lain dari persaingan panjang An dan Akane yang dalam beberapa musim terakhir kerap menghadirkan duel berintensitas tinggi.
Akane lebih dulu memastikan tempat di final setelah mengalahkan wakil Korea Selatan Sim Yu-jin dua gim langsung 21-14, 21-7. Kemenangan tersebut sekaligus menggagalkan peluang Korea Selatan menciptakan final sesama wakil mereka di sektor tunggal putri.
Pada laga tersebut, Akane tampil sangat solid sejak gim pertama. Pebulu tangkis Jepang tersebut mampu mengendalikan tempo reli, memaksa Sim banyak bergerak, dan tidak memberi banyak ruang bagi lawannya untuk mengembangkan permainan.
Dominasi Akane makin terlihat pada gim kedua. Sim yang berupaya keluar dari tekanan justru semakin kesulitan menghadapi variasi pukulan dan kecepatan Akane dalam mengubah arah serangan. Akane pun menutup pertandingan dengan margin yang telak untuk kembali menjejak final turnamen level Super 1000 tersebut.
Sementara itu, An harus melalui jalan yang jauh lebih dramatis untuk mengamankan tiket final. Tunggal putri nomor satu dunia asal Korea Selatan itu menang atas rival lainnya Chen Yu Fei dari China melalui pertandingan tiga gim 21-17, 19-21, 23-21.
Duel An melawan Chen berlangsung ketat sejak awal. An membuka pertandingan dengan permainan solid dan mampu merebut gim pertama. Ia bahkan sempat berada dalam posisi nyaman pada gim kedua setelah unggul 11-4 dan kemudian 16-11.
Namun, Chen menunjukkan kualitasnya sebagai salah satu pemain paling berpengalaman di sektor tunggal putri. Juara Indonesia Open 2023 dan 2024 itu bangkit, mengejar ketertinggalan, lalu membalikkan tekanan untuk merebut gim kedua 21-19.
Momentum sempat berpindah ke tangan Chen pada gim penentuan. Ia unggul 11-6 saat interval dan semakin menjauh hingga 17-7. Dalam situasi itu, An berada di ambang kekalahan.
Namun, juara bertahan Indonesia Open tersebut tidak menyerah. An perlahan mengikis jarak, memaksa Chen bermain di bawah tekanan, dan menyelamatkan sejumlah match point sebelum akhirnya berbalik menang 23-21.
Kemenangan itu kembali memperlihatkan salah satu kekuatan terbesar An, yakni ketenangan dalam situasi paling sulit. Saat lawan sudah berada sangat dekat dengan kemenangan, An justru mampu memperpanjang reli, memaksa kesalahan lawan, dan mengambil alih kendali pada fase akhir pertandingan.
Final melawan Akane akan menjadi pertemuan ke-34 antara keduanya sepanjang karier. Dari 33 pertemuan sebelumnya, An masih unggul dengan 18 kemenangan, sedangkan Akane mengantongi 15 kemenangan.
Pertemuan terakhir mereka terjadi pada final Singapore Open 2026 pekan lalu. Saat itu, An keluar sebagai juara setelah mengalahkan Akane dalam laga tiga gim 21-11, 17-21, 21-19.
Khusus di Indonesia Open, keduanya juga pernah bertemu pada edisi 2025. Pada semifinal tahun lalu, An mengalahkan Akane dua gim langsung 21-18, 21-17 sebelum melanjutkan langkahnya hingga menjadi juara setelah menundukkan wakil China Wang Zhi Yi 13-21, 21-19, 21-15 di final.
Final kali ini juga mempertemukan dua pemain yang sudah pernah merasakan gelar Indonesia Open. Akane menjadi juara pada edisi 2019 setelah mengalahkan PV Sindhu dari India dengan skor 21-15, 21-16 pada final di Istora.
Sementara itu, An sudah dua kali menjuarai Indonesia Open. Selain pada edisi 2025, ia lebih dulu menjadi kampiun pada 2021 ketika turnamen digelar di Bali setelah mengalahkan Ratchanok Intanon dari Thailand 21-17, 22-20.
Dengan catatan tersebut, final Indonesia Open 2026 menjadi ujian lanjutan dalam rivalitas dua pemain dengan karakter berbeda. An datang dengan status unggulan utama dan konsistensi luar biasa, sementara Akane membawa pengalaman, kecepatan, dan kemampuan bertahan yang selalu membuatnya berbahaya di laga besar.
Bagi An, final ini menjadi kesempatan untuk mempertahankan gelar sekaligus mempertegas dominasinya atas sektor tunggal putri dunia. Adapun bagi Akane, laga puncak di Istora menjadi peluang untuk membalas kekalahan dari An dalam beberapa pertemuan terakhir dan kembali mengangkat trofi Super 1000.
Pertarungan An dan Akane di final juga menjanjikan duel taktik yang menarik. An dikenal dengan pertahanan rapat, penempatan bola yang matang, serta kemampuan mengubah tekanan menjadi peluang. Sementara Akane memiliki kecepatan kaki, variasi pukulan, dan daya juang yang membuat reli panjang kerap berjalan melelahkan bagi lawan.
Dengan sejarah panjang dan kualitas kedua pemain, final tunggal putri Indonesia Open 2026 berpotensi kembali menjadi salah satu sajian utama di Istora.
Paceklik tuan rumah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.