Berbicara soal Semarang pasti tidak akan jauh-jauh dari Lawang Sewu, lumpiahingga Kota Lama yang katanya semakin hits sejak dipugar. Konten-konten wisata soal wisata Semarang hanya memotret sudut-sudut dan momentum yang indah.
Jarang ada yang benar-benar memotret hidup di Semarang yang sebenarnya. Semuanya serba seragam, semuanya cantik, dan semuanya tidak mencerminkan kota ini apa adanya.
Saya tidak sedang bilang Semarang jelek. Saya bilang ada hal-hal yang tidak akan pernah masuk frame kamera para pembuat konten perjalanan itu. Dan, justru hal-hal itulah yang membentuk kota ini lebih dari sekadar destinasi wisata di akhir pekan.
Itu mengapa, di tulisan ini saya ingin mengajak kalian semua untuk melihat sisi lain dari Semarang yang jarang kalian lihat di konten-konten maupun brosur wisata daerah ini.
#1 Panasnya kota Semarang bukan sekedar cuaca, tapi ujian mental
Yogyakarta punya panas yang bisa ditoleransi. Solo punya angin yang sesekali menolong. Semarang? Semarang punya panas yang terasa seperti kamu berdiri di dalam penanak nasi yang belum dicabut dari stopkontak.
Ini bukan lebay. Semarang memang terkenal sebagai salah satu kota terpanas di Jawa dan kelembaban udaranya tinggi karena berada di pesisir utara. Artinya, panas kering pun tidak akan kamu rasakan di sini yang ada adalah panas basah yang menempel di kulit seharian.
Orang yang baru datang dari kota lain biasanya butuh dua sampai tiga minggu untuk berdamai dengan fakta ini. Sebagian tidak pernah berdamai sama sekali.
Konten wisata tidak akan cerita soal ini karena mereka datang pagi, foto-foto, lalu kabur ke mal ber-AC sebelum matahari naik sempurna.
#2 Rob bukan sekadar banjir, itu bagian dari rutinitas
Banjir rob di Semarang sudah bukan berita yang asing. Sisi yang mengejutkan, fenomena ini mulai diwajarkan untuk warlock yang tinggal di kawasan Semarang Utara dan sekitar Kaligawe. Jalan tergenang air, motor harus diangkat, aktivitas terganggu dan semua ini terjadi bukan hanya saat hujan deras, tapi kadang di hari cerah sekalipun karena air laut pasang.
Warga yang sudah lama tinggal di sana punya cara unik menghadapi banjir rob. Salah satunya, membangun rumah dengan lantai yang terus ditinggikan dari tahun ke tahun, memarkir motor di teras tetangga yang lebih tinggi, atau cukup mengangkat kaki sambil sarapan. Adaptasi yang luar biasa, tapi juga menyedihkan kalau kamu mau jujur pada diri sendiri.
Konten wisata jelas tidak akan menyentuh ini. Rob tidak fotogenik. Rob tidak viral. Tapi, rob adalah kenyataan hidup sebagian warga Semarang yang tidak pernah masuk narasi kota yang “terus berkembang.”
#3 Kemacetan di sini punya logika tersendiri yang sulit dipahami orang luar
Semarang bukan Jakarta, tapi macetnya punya karakter yang lebih membingungkan. Tidak ada pola yang bisa kamu prediksi. Jalan Pemuda bisa macet parah jam dua siang tanpa sebab yang jelas. Simpang Lima Semarang bisa tiba-tiba penuh di hari Selasa biasa. Dan, entah kenapa, lampu merah di beberapa titik terasa seperti dirancang oleh orang yang tidak pernah menyetir sendiri.
Yang lebih unik banyak warga Semarang yang sudah menyerah mencari logika di balik ini dan memilih jalan tikus yang sistem navigasinya hanya ada di kepala mereka sendiri. Jalan-jalan kecil di kawasan Gajahmungkur, gang-gang sempit di Pleburan semua itu adalah infrastruktur paralel yang hidup di luar peta resmi manapun.
Baca juga Dear Driver Feeder BRT Semarang, Tobatlah untuk Ngebut di Jalanan, Kalian Bukan Pembalap!
#4 Warga Semarang punya cara bertahan hidup yang jarang disadari pendatang
Hal yang paling menarik dari Semarang sebenarnya bukan bangunannya, bukan kulinernya, bahkan bukan tempat wisatanya. Yang menarik adalah cara warga menjalani hidup.
Mereka hidup berdampingan dengan panas, tanjakan, rob, kemacetan di beberapa titik, dan berbagai persoalan kota lainnya. Namun entah bagaimana, banyak yang tetap terlihat santai.
Kedai kopi selalu ramai. Angkringan tetap penuh. Obrolan tetap mengalir.
Tidak sedikit pendatang yang awalnya mengeluh soal cuaca atau kondisi jalan. Lalu beberapa tahun kemudian berubah menjadi orang yang sama santainya dengan warga lokal.
Mungkin karena tinggal di Semarang mengajarkan satu hal penting karena tidak semua masalah harus dihadapi dengan panik. Kadang cukup dijalani saja sambil minum es teh dan berharap cuaca sedikit lebih bersahabat besok pagi.
#5 Kuliner Semarang jauh lebih kompleks dari sekadar lumpia dan wingko
Sebenarnya ini bukan realitas pahit, tapi jarang disorot oleh pendatang. Kuliner Kota Atlas ini sebenarnya sangat beragam. Lumpia dan wingko Babat memang enak, tapi kuliner Semarang sebenarnya lebih dari itu.
Ada tahu gimbal yang dijual di sekitar Simpang Lima dengan kombinasi tahu goreng, lontong, dan gimbal udang dengan bumbu kacang petis yang tidak akan ditemukan versi autentiknya di kota lain.
Selain itu, ada juga nasi ayam Semarang yang berbeda dari nasi ayam versi kota lain karena kuahnya lebih gurih dan porsinya tidak pelit. Ada warung-warung mie kopyok yang buka hanya malam hari dan tidak punya papan nama karena pembelinya sudah tahu sendiri di mana mereka berada.
Semarang memang bukan kota yang akan memaksamu jatuh cinta dengan tampilan luarnya. Tapi, kalau kamu mau meluangkan waktu lebih dari sekadar foto di Kota Lama dan makan lumpia, kamu akan menemukan kota yang jauh lebih jujur dari representasinya di media sosial. Dan, kejujuran itu, bagi sebagian orang, justru jauh lebih menarik.
Penulis: Alifia Putri Nur Rochmah
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini dari.
Terakhir diperbarui pada 13 Juni 2026 oleh