Setahun yang lalu, tepatnya 10 Januari 2025, saya menulis tentang efek kenaikan pertamax ke pertashop. Satu setengah tahun kemudian, alih-alih keadaan membaik, yang terjadi justru mereka digebuk dengan senjata yang sama.
Bayangkan, usahamu yang hidup segan mati tak mau itu malah digorok tepat di tenggorokan. Usaha yang dulunya dianggap visioner dan menyelesaikan masalah distribusi bahan bakar, kini dibunuh oleh kebijakan yang harusnya mengayomi mereka.
Dua kali seminggu, saya menyusuri jalan Wonogiri-Jogja. Sepanjang jalur yang saya lewati, ada 8 pertashop yang berdiri. Semenjak kenaikan pertamax yang awalnya 9 ribuan per liter jadi 13 ribuan, satu tutup permanen. Empat yang lain seringnya tutup, sesekali buka. Yang dua masih buka, tapi amat sepi.
Padahal dulu 8 pertashop ini jaya. Setidaknya, selalu ada pelanggan setiap saya lewat. Tak jarang saya mengantre. Saya tak pernah ketakutan kehabisan bahan bakar, sebab, ya, saya bisa mampir ke situ kapan saja.
Pertashop sebenarnya adalah salah satu bisnis yang punya dampak paling positif pada hidup saya. Selain bebas antrean super panjang yang identik di POM bensin besar, outlet mereka kerap berdiri di daerah ramai pengendara, tapi bukan jalan utama.
Bagi pejuang AKAP seperti saya, yang tidak selalu melewati jalan raya utama, tentu saja keberadaan mereka berarti. Jauh lebih berguna ketimbang manusia-manusia yang mengaku penyampai aspirasi rakyat.
Tapi kini, sepertinya, mereka tak menemui opsi lain kecuali siap-siap “mati”.
Harga pertamax naik, lagi
Kenaikan harga pertamax kali ini nggak masuk akal bagi saya. 16 ribu itu harga yang tak masuk akal di saya. Pemasukan saya memang tidak UMR, jauh di atasnya malah, tapi kenaikan ini bikin biaya yang harus saya sediakan hanya untuk bahan bakar melonjak drastis.
Anggap saja begini: dulu, biaya bensin saya tak sampai 5 persen pemasukan bulanan dari gaji pokok. Tapi kini malah menyentuh sepuluh persen. Iki edan sih.
Gara-gara itu, saya memutuskan untuk tidak lagi mengunjungi pertashop sebagai penyedia bahan bakar saya. Saat pertamax naik pertama, saya beralih ke pertalite memang. Tapi karena perubahannya begitu kerasa di motor saya, mau tak mau beralih ke pertamax lagi. Saya bisa beradaptasi lah dengan pengeluarannya, dengan memangkas sana sini.
Tapi kini, tak bisa lagi. Masak uang 30 ribu bahkan hanya cukup buat sekali perjalanan ke tempat kerja, kan nggak masuk akal.
Nah, ini saya yang pemasukannya tetap, dan di atas UMR. Bayangkan yang tidak tetap, dan tidak UMR, po ra tambah mumet?
BACA JUGA: Pertashop Beneran Bangkrut Berkat Nalar Timpang Pertamina
Pertashop dulu solusi, tapi…
Pertashop dulu itu solusi. POM bensin utama kerap hanya ada di jalan utama, jauh dari kampung. Lalu muncullah pertashop. Ada di desa-desa yang agak ramai, lalu harga bahan bakarnya terpaut tidak begitu jauh dari pertalite. Waktu pertalite masih Rp7,650, pertamax di angka Rp9,500. Setidaknya, uang 10 ribu, masih bisa dapet seliter punjul sitik.
Lalu pertalite naik jadi 10 ribu, pertamax di angka 13.250, terus turun terakhir di angka 12.200. Masih okelah, 20 ribu masih dapat lumayan. Sekarang, ketika pertalite 10 ribu, tapi pertamax 16 ribu, ya orang tak sudi menatap pertamax. Kaceke wis ra ngutek. 20 ribu udah nggak lagi dapet 1.5 liter, ya nggo ngapa mbok?
Yang kena ya jelas pertashop. Udah mereka hanya bisa jualan satu jenis bahan bakar, kenanya yang harga mahal lagi. Itu yang udah balik modal mungkin bisa nutup kapan saja. Lha yang belum gimana?
Itu baru dari segi bisnis. Lalu bagi pengendara, ya ikutan pusing. Pertashop pada tutup, jadi mereka tak bisa beli bahan bakar kapan saja, plus aksesnya jauh, antrenya panjang lagi. Pengendara, selain rugi harus bayar lebih mahal, jadi rugi karena kehilangan opsi.
Bangkrutnya pertashop, tak bisa dimungkiri, tak hanya berefek di sisi bisnis saja, tapi juga ke konsumen. Konsumen yang sudah beralih habit, jadi harus beralih lagi karena opsinya dibunuh. Plus, mereka kehilangan hal yang memudahkan mereka.
Kalian bisa bilang, pertamax memang harus naik, ini bukan bahan bakar subsidi, ini langkah yang harus diambil. Ya, saya sih paham, tapi kalau tiap kebijakan yang diambil selalu bikin rakyat yang jadi korban, ya yang saya pertanyakan kapabilitasnya sih.
Penulis: Rizky Prasetya
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.a
Terakhir diperbarui pada 14 Juni 2026 oleh