Revisi skripsi belum selesai, tugas kuliah terus bertambah, rapat organisasi sering berakhir larut malam, sementara pertanyaan tentang masa depan diam-diam ikut memenuhi kepala. Bagi banyak mahasiswa di UIN Jakarta, kehidupan kampus sering terasa seperti perlombaan yang tidak pernah benar-benar memberi waktu untuk berhenti sejenak.
Di tengah hari-hari seperti itu, musik lokal sering hadir dari tempat-tempat sederhana. Dari speaker kecil di pelataran fakultas, tongkrongan selepas kelas, gigs kecil di sekitar Ciputat, hingga lagu yang diputar pelan ketika tugas belum selesai. Dari ruang-ruang kecil itulah banyak mahasiswa menemukan jeda, merasa dipahami, dan bertahan di tengah kehidupan kampus yang semakin melelahkan.
Hubungan musik lokal dengan kehidupan kampus terasa sangat dekat, termasuk di UIN Jakarta. Saya mulai menyadari hal itu ketika menulis skripsi tentang lagu “33x” milik Perunggu. Dari situ, saya melihat bagaimana musik perlahan hadir dalam keseharian mahasiswa, mulai dari pelataran fakultas, perjalanan pulang menggunakan KRL, hingga tongkrongan selepas kelas. Dalam ruang-ruang sederhana itu, musik sering menjadi teman ketika kepala terasa terlalu penuh.
Mahasiswa hari ini hidup di tengah tekanan yang tidak sedikit. Tugas kuliah, revisi skripsi, tuntutan organisasi, magang, persoalan ekonomi, hingga kecemasan tentang masa depan membuat banyak mahasiswa menjalani hari sambil membawa banyak hal yang jarang sempat mereka bicarakan. Di UIN Jakarta, saya sering melihat mahasiswa yang tampak baik-baik saja pada siang hari ternyata menyimpan banyak hal yang tidak pernah benar-benar mereka ceritakan.
Saya semakin menyadari hal tersebut selepas rapat organisasi di pelataran Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi. Malam itu, beberapa mahasiswa memutar lagu-lagu dari musisi lokal seperti Perunggu, Rumahsakit, dan FSTVLST melalui speaker kecil. Tidak ada yang terasa terlalu istimewa. Hanya kopi dari warung Madura dekat kampus, laptop yang masih terbuka, dan obrolan tentang tugas yang belum selesai.
Namun, ketika lagu diputar, suasana perlahan berubah menjadi lebih tenang. Obrolan melambat. Beberapa mahasiswa ikut bernyanyi pelan, sementara yang lain memilih diam sambil mendengarkan. Tidak ada yang benar-benar membahas isi lagunya, tetapi semua orang seperti memahami sesuatu yang sedang hadir malam itu. Dari momen sederhana itulah saya mulai memahami mengapa musik lokal terasa begitu dekat dengan kehidupan mahasiswa.
Bagi sebagian mahasiswa, musik lokal bukan sekadar teman untuk mengisi waktu luang. Musik menjadi ruang aman ketika kehidupan terasa terlalu bising. Ada mahasiswa yang memutar lagu favoritnya saat duduk sendiri di KRL selepas kuliah. Ada yang mendengarkannya sambil mengerjakan revisi skripsi hingga dini hari. Ada pula yang datang ke gigs kecil hanya untuk mencari suasana yang membuat hidup terasa sedikit lebih ringan.
Musik akhirnya terasa personal karena sering hadir pada saat-saat ketika mahasiswa bahkan sulit menjelaskan apa yang sebenarnya sedang mereka rasakan.
Lagu-lagu musisi independen hari ini terasa relevan karena berbicara tentang kehidupan yang benar-benar dialami anak muda. Tentang rasa kehilangan arah, tekanan hidup, relasi pertemanan, hingga usaha untuk tetap berjalan meski sedang tidak baik-baik saja. Salah satu contohnya dapat ditemukan dalam karya-karya Perunggu yang terasa dekat dengan pengalaman banyak mahasiswa.
Musik lokal akhirnya tidak hanya didengar, tetapi juga dirasakan. Bagi banyak mahasiswa, musik lokal terasa dekat karena lirik dan suasananya seolah memahami hal-hal yang sering mereka simpan sendiri. Karena itu, hubungan mahasiswa dengan musik lokal terasa lebih personal dibanding sekadar mengikuti lagu yang sedang viral.
Ada satu hal menarik dari kehadiran musik lokal di lingkungan kampus. Ia memberi ruang bagi mahasiswa untuk berhenti sejenak dari tuntutan menjadi selalu baik-baik saja. Di tengah kehidupan akademik yang penuh target dan persaingan, musik menjadi ruang kecil yang tidak menuntut apa-apa.
Tidak ada IPK yang dibandingkan. Tidak ada jabatan organisasi yang diperebutkan. Tidak ada tuntutan untuk selalu terlihat kuat. Ketika musik diputar, mahasiswa dapat menjadi dirinya sendiri tanpa takut dinilai. Mungkin itu sebabnya banyak mahasiswa lebih mudah jujur tentang perasaannya melalui lagu dibanding melalui percakapan biasa.
Di lingkungan kampus, musik lokal juga tumbuh bersama komunitas mahasiswa. Di sekitar UIN Jakarta dan kawasan Ciputat, gigs kecil sering menjadi ruang pertemuan berbagai komunitas. Acara musik sederhana yang diadakan di kafe atau ruang kreatif sekitar kampus kerap dipenuhi mahasiswa dari berbagai jurusan.
Mereka datang bukan hanya untuk menonton penampilan band, tetapi juga mencari ruang yang terasa lebih akrab di tengah kehidupan kampus yang serba cepat. Dalam ruang seperti itu, mahasiswa sering kali lebih mudah mengenal seseorang dari lagu yang ia putar dibanding dari jurusan atau organisasinya. Musik akhirnya menjadi bahasa yang mempertemukan banyak mahasiswa tanpa harus saling mengenal lebih dahulu.
Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi dapat duduk bersama mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum atau Fakultas Ushuluddin tanpa mempersoalkan latar belakang organisasi maupun jurusan. Mereka dipertemukan oleh lagu yang sama, suasana yang sama, dan rasa lelah yang sama.
Dalam suasana seperti itu, musik lokal bukan hanya menciptakan hiburan, tetapi juga membangun rasa memiliki. Kampus yang biasanya terasa sibuk dan individual perlahan berubah menjadi ruang yang lebih hangat ketika musik dimainkan bersama.
Skena musik lokal di sekitar kampus juga membuat mahasiswa merasa lebih dekat dengan kota tempat mereka belajar. Bagi mahasiswa rantau, Ciputat mungkin awalnya hanya terlihat sebagai kota yang sibuk dan melelahkan. Namun, melalui gigs kecil, komunitas musik, dan ruang-ruang kreatif di sekitar kampus, Ciputat perlahan terasa lebih hangat.
Mahasiswa mulai mengenal kota bukan hanya dari jalanan dan gedung-gedungnya, tetapi juga dari orang-orang yang hidup di dalamnya. Dari musisi lokal, penonton gigs, penjaga warung kopi, hingga teman-teman baru yang dipertemukan oleh musik.
Di tengah kehidupan kampus yang penuh persaingan dan tuntutan, musik lokal menghadirkan ruang yang lebih manusiawi. Musik membuat mahasiswa merasa bahwa tidak semua hal harus dijalani sendirian. Ada banyak orang lain yang ternyata sama-sama lelah, bingung, dan sedang berusaha bertahan.
Karena itu, hubungan musik lokal dengan kehidupan kampus bukan sekadar hubungan antara hiburan dan pendengar. Hubungan tersebut merupakan ikatan emosional yang tumbuh bersama pengalaman hidup mahasiswa itu sendiri.
Di era ketika banyak orang berlomba menjadi viral, musik lokal justru tetap hidup melalui hal-hal kecil yang terasa manusiawi. Dari lagu yang diputar di pelataran kampus, gigs kecil yang dipenuhi mahasiswa, hingga obrolan selepas acara musik selesai.
Barangkali, sebelum seseorang benar-benar menemukan tempat pulang, ia lebih dulu menemukannya dalam lagu yang diputar pelan di tengah malam.
Penulis adalah mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.