maka kebugaran yang ditampilkan di layar kaca gawai kita sesungguhnya adalah kebugaran yang rapuh
Jakarta (ANTARA) – Setiap akhir pekan, kawasan Sudirman hingga Gelora Bung Karno (GBK) menjelma menjadi teater visual raksasa. Orang-orang pergi berolahraga bukan cuma berlari, tapi membawa identitas yang siap dikurasi.
Di pinggir jalan, fotografer lepas dengan lensa tele siap membidik. Di dalam arena olahraga dengan raket dan net, orang-orang berdandan modis.
Olahraga di kota besar kini tidak lagi diukur dari berapa kalori yang terbakar atau seberapa jauh jarak yang ditempuh. Persepsi itu bergeser menjadi seberapa estetis momen tersebut tertangkap kamera dan seberapa masif impresi yang dihasilkan di media sosial.
Argumen bahwa fenomena ini murni refleksi dari kesadaran kesehatan masyarakat urban yang meningkat adalah sebuah simplifikasi yang keliru. Jika kesehatan fisik adalah satu-satunya motif, aktivitas ini bisa dilakukan tanpa pelari harus mengenakan pakaian lari premium, sepatu seharga jutaan rupiah, atau pemain padel harus mengoordinasikan warna bajunya agar senada dengan estetika lapangan.
Realitas yang terjadi adalah sebuah pergeseran sosiologis yang tajam. Olahraga telah bergeser dari aktivitas biologis demi endorfin (hormon kebahagiaan) menjadi aktivitas performatif demi validasi digital.
Pergeseran ini paling kentara terlihat pada olahraga raket terbaru yang sedang naik daun di Jakarta: padel.
Berdasarkan data resmi Dinas Cipta Karya, Tata Ruang, dan Pertanahan DKI Jakarta per 23 Februari 2026, terdapat 397 lapangan padel yang tersebar di wilayah ibu kota. Lonjakan masif ini bahkan memicu pengawasan ketat dari pemerintah daerah terkait izin Persetujuan Bangunan Gedung (PBG), di mana 185 di antaranya sempat teridentifikasi belum melengkapi perizinan akibat pembangunannya yang begitu agresif dan terburu-buru demi mengejar pasar.
Mengapa padel, dan sebelumnya tenis lapangan, begitu cepat merebut hati kaum urban kelas menengah ke atas mengalahkan bulu tangkis, yang secara historis jauh lebih merakyat dan sudah puluhan tahun jadi identitas olahraga Indonesia? Jawabannya terletak pada fungsi olahraga sebagai instrumen pemisah kelas sosial.
Biaya sewa lapangan padel dan tenis di kawasan premium seperti SCBD, Senayan, atau Rasuna Said sebagai filter ekonomi yang eksklusif. Olahraga ini menawarkan kombinasi antara intensitas fisik yang moderat dan ruang sosialisasi yang menyerupai kafe estetik.
Ketika seseorang mengunggah foto dirinya sedang memegang raket padel dengan latar belakang dinding kaca lapangan yang modern, ada pesan yang dikirimkan kepada para follower di media sosial bukan tentang kesehatan, tapi menyeret gaya hidup kelas atas.
Exercise selfie culture
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.