Langka Sani, pendiri Alobi Foundation, mengubah hobinya memelihara satwa liar menjadi gerakan penyelamatan.
Langka Sani mengakui bahwa ia pernah mencintai satwa dengan cara yang keliru.
Pria asal Bangka Belitung itu dulu gemar keluar masuk hutan untuk mencari satwa liar yang akan dipelihara. Baginya, seperti banyak pencinta satwa lainnya saat itu, memelihara adalah bentuk kasih sayang.
Aktivitas dan cara pandang itu kemudian berubah total pada 2014, setelah ia bertemu Dirjen Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Rasio Ridho Sani. Dari Sani KLHK, Langka Sani taubat dari title penghobi dan beralih menjadi penyelamat satwa liar.
“Arti sesungguhnya mencintai satwa liar itu kami dapatkan setelah bertemu Dirjen Gakkum KLHK Rasio Ridho Sani,” ujar Langka, dikutip dari Mongabay Indonesia.
Sejak saat itu, komunitas pencinta satwa yang dibentuk pada 2013 mengubah haluan. Mereka tidak lagi mengoleksi satwa, melainkan menyelamatkannya. Visi baru itu kemudian melahirkan Yayasan Pelestarian Flora dan Fauna Bangka Belitung atau Alobi Foundation.
Kini, ia dan kawan-kawannya telah membantu mengembalikan ribuan hewan ke habitat alaminya.
dari Posko Kecil, Kini Memiliki 50 Kandang Satwa
Pada awal perjalanannya, Langka dan sejumlah relawan hanya membuka posko penyelamatan sederhana. Mereka menerima satwa yang diserahkan warga, satwa korban konflik dengan manusia, hingga satwa hasil penindakan hukum.
“Hewan-hewan hasil penyelamatan kami tampung, kami rawat dalam kandang, kami beri pakan, kemudian kami lepaskan,” kata Langka.
Aktivitas itu terus berkembang menjadi Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Alobi di Air Jangkang, Dusun Sinar Rembulan, Desa Riding Panjang, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka. Kawasan seluas sekitar 4,5 hektare tersebut kini memiliki sekitar 50 kandang rehabilitasi.
Menurut data Mongabay Indonesia, sejak 2014 hingga awal 2022 Alobi telah mengembalikan 7.164 satwa liar ke habitatnya. Angka tersebut terus bertambah. Dalam wawancara dengan Kukangku pada Juli 2023, Langka menyebut jumlah satwa yang berhasil direhabilitasi dan dilepasliarkan telah mencapai sekitar 7.874 individu.
Angka itu menjadikan Alobi sebagai salah satu pusat penyelamatan satwa paling aktif di Sumatera bagian selatan.
Bukan Sekadar Menyelamatkan Satwa, tetapi Menyelamatkan Rumahnya
Pada aksinya, Alobi tidak hanya menyelamatkan hewan. Mereka paham betul bahwa untuk menyelamatkan satwa, manusia juga perlu membantu memulihkan tempat tinggal mereka. Sebab, pelepasliaran satwa tidak cukup hanya dengan membuka kandang. Habitatnya juga harus memiliki sumber pakan dan tempat berlindung yang memadai.
Dalam ilmu konservasi, upaya seperti ini disebut restorasi habitat. Artinya, memperbaiki kembali lingkungan yang rusak agar mampu mendukung kehidupan satwa liar secara alami.
Di kawasan Taman Hutan Raya Menumbing, relawan Alobi menanam sekitar 500 pohon sisil. Di Taman Wisata Alam Permisan mereka menanam 750 pohon sisil, 275 pohon pelawan, dan 73 pohon ketapi. Sementara di Tahura Bukit Mangkol, ribuan pohon durian, nyatoh, pelawan, dan sisil ditanam kembali.
Kukang Bangka dan Mentilin, Harta Karun yang Tak Ternilai Harganya
Bangka Belitung memiliki kekayaan hayati yang unik, salah satunya kukang Bangka (Nycticebus bancanus) yang kini berstatus Critically Endangered atau sangat terancam punah menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN).
Alobi menjadikan kukang Bangka sebagai salah satu fokus konservasi utamanya.
“Sebagai warga Bangka kita sangat bersyukur memiliki satwa endemik kukang sendiri yaitu Nycticebus bancanus yang tidak dimiliki daerah lain. Ini merupakan harta karun yang sebenarnya kita semua berkewajiban menjaga,” kata Langka dalam wawancara dengan Kukangku pada 13 Juli 2023.
Selain kukang, Alobi juga memberi perhatian pada mentilin atau Horsfield’s tarsier (Cephalopachus bancanus). Primata mungil nokturnal ini merupakan fauna identitas Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berdasarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 522.53-958 Tahun 2010.
Mentilin memiliki panjang tubuh sekitar 12-15 sentimeter dengan berat hanya sekitar 117-128 gram. Hewan ini berperan penting sebagai pengendali populasi serangga karena makanan utamanya adalah kumbang, jangkrik, semut, belalang, hingga kupu-kupu.
Menariknya, mentilin sering disebut sebagai spesies indikator. Istilah ini berarti keberadaan mereka dapat menunjukkan apakah kondisi ekosistem hutan masih sehat atau mulai mengalami kerusakan.
Ancaman Terbesar Bukan Pemburu, tetapi Hilangnya Hutan
Bagi Langka, tantangan terbesar saat ini bukan hanya perdagangan satwa liar, tetapi hilangnya rumah mereka sendiri. Dalam wawancaranya dengan Kukangku, ia mengatakan bahwa banyak habitat satwa telah berubah menjadi perkebunan dan kawasan pertambangan.
“Satwa kita itu terusir dari habitat atau rumah mereka sendiri. Ini merupakan sebuah hambatan dan menjadi kendala untuk kita mempertahankan satwa liar di Indonesia,” ujarnya.
Akibatnya, konflik antara manusia dan satwa semakin sering terjadi. Hewan yang kehilangan hutan terpaksa masuk ke permukiman dan kebun warga. Karena itulah Alobi aktif melakukan edukasi ke sekolah-sekolah, mulai dari TK hingga perguruan tinggi.
“Kami datang juga ke sekolah TK, SD, SMP, SMA hingga kampus di Bangka Belitung. Tujuannya, dalam diri mereka tumbuh kepedulian pada kelestarian lingkungan,” kata Langka kepada Mongabay Indonesia.
Penghargaan dari KLHK
Dedikasi Alobi mendapat apresiasi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Pada peringatan Hari Keanekaragaman Hayati Sedunia dan Hari Konservasi Alam Nasional 2021, Direktur Jenderal KSDAE KLHK, Wiratno, menyerahkan penghargaan kepada Langka Sani atas kontribusi Alobi dalam konservasi satwa liar dan penyelamatan lingkungan.
Pengakuan itu terus berlanjut. Pada 2026, Alobi kembali menerima penghargaan Kalpataru Adya kategori Penyelamat Lingkungan. Penghargaan tersebut menjadi bukti bahwa gerakan yang berawal dari sekelompok penghobi satwa kini telah berkembang menjadi salah satu kekuatan penting konservasi di Bangka Belitung.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News