
BESARNYA biaya yang harus ditanggung Amerika Serikat (AS) akibat konflik bersenjata dengan Iran mulai terungkap dan memicu perdebatan sengit di Washington. Departemen Pertahanan AS (Segi lima) dilaporkan tengah menyiapkan permintaan anggaran tambahan kepada Kongres senilai US$80 miliar atau setara Rp1.423 triliun untuk menutupi biaya operasional dan kebutuhan pertahanan lainnya.
Laporan Jurnal Wall Street menyebutkan bahwa angka ini jauh melampaui estimasi awal yang beredar di publik sebesar US$25 miliar (sekitar Rp450 triliun). Lonjakan ini mencerminkan intensitas konflik yang telah menguras sumber daya militer AS secara signifikan dalam waktu singkat.
Beban Ekonomi Jangka Panjang
Meski pemerintah merilis angka resmi di kisaran puluhan miliar dolar, sejumlah ekonom dan anggota Partai Demokrat memperkirakan dampak ekonomi riil bagi 330 juta penduduk AS jauh lebih besar. Estimasi total beban ekonomi diprediksi mencapai antara US$630 miliar hingga US$1 triliun (Rp17,8 kuadriliun).
Pejabat Pentagon sebelumnya melaporkan kepada Kongres bahwa pada enam hari pertama konflik di bulan Maret, operasi militer telah menghabiskan dana sebesar US$11,3 miliar. Pelaksana tugas pengawas keuangan Pentagon, Jay Hurst, menyatakan bahwa pihaknya masih merumuskan usulan tambahan dana melalui Gedung Putih.
“Kami akan menyampaikan usulan tambahan kepada Kongres setelah memiliki penilaian lengkap tentang biaya konflik tersebut. Saat ini kami memperhitungkan biaya amunisi dan operasional langsung,” ujar Hurst dalam kesaksiannya bersama Menteri Pertahanan Pete Hegseth, sebagaimana dilansir CNNMinggu (21/6).
Ketimpangan Biaya Alutsista
Ekonom Universitas Harvard, Linda Bilmes, menyoroti ketimpangan biaya yang menciptakan tekanan besar pada anggaran pertahanan. Salah satu contoh nyata adalah penggunaan rudal pencegat sistem pertahanan udara AS seharga US$4 juta per unit hanya untuk menjatuhkan drone Iran yang biaya produksinya diperkirakan hanya US$30.000.
Analisis Biaya Perang:
- Permintaan Tambahan Pentagon: US$80 Miliar
- Estimasi Total Beban Ekonomi (Linda Bilmes): US$1 Triliun (Mata Uang Rupiah Rp17.000 Triliun)
- Biaya Operasional 6 Hari Pertama: US$11,3 Miliar
Selain biaya tempur, Bilmes menekankan adanya “biaya tersembunyi” jangka panjang, termasuk pemulihan fasilitas militer yang rusak serta tunjangan kesehatan bagi puluhan ribu veteran yang dikerahkan ke kawasan konflik. Pengalaman perang sebelumnya menunjukkan bahwa biaya kesejahteraan veteran dapat membebani anggaran negara hingga ratusan miliar dolar selama puluhan tahun ke depan.
Hingga saat ini, Direktur Anggaran Gedung Putih Russell Vought mengakui pemerintah belum memiliki angka final yang menyeluruh. Perdebatan mengenai transparansi anggaran ini diprediksi akan terus memanas di Kongres dalam beberapa bulan mendatang seiring dengan penyusunan laporan resmi dampak finansial perang. (Fer/I-1)