Dok. Lany pirna (Wikimedia)
Tidak jauh dari deretan situs bersejarah di kawasan Banten Lama, sekitar 10 hingga 11 kilometer dari pusat Kota Serang, terdapat sebuah danau buatan yang sudah ada sejak abad ke-16.
Namanya Danau Tasikardi, berlokasi di Desa Margasana, Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang. Nama ini berasal dari bahasa Sunda Kuno yang berarti danau buatan, dan memang begitulah adanya. Danau seluas 5 hektar ini dibuat pada masa pemerintahan Sultan Maulana Yusuf, sultan Banten kedua yang bertakhta antara 1570 hingga 1580.
Yang menarik dari danau ini adalah fungsinya yang jauh melampaui sekadar tempat rekreasi. Di zamannya, Danau Tasikardi adalah infrastruktur air yang penting bagi Kesultanan Banten.
Air yang ditampung dari Sungai Cibanten disaring melalui tiga situs penyaringan khusus yang dikenal dengan nama situs pangindelan abang, pangindelan putih, dan pangindelan emas, sebelum dialirkan ke Keraton Surosowan melalui pipa tanah liat berdiameter 2,4 meter. Air yang sama juga mengairi sawah di sekitarnya, sehingga menjadi sebuah sistem pengelolaan air yang cukup canggih untuk ukuran abad ke-16.
Di tengah danau terdapat pulau kecil bernama Kaputren, yang dahulu menjadi tempat bertafakur bagi ibunda Sultan Maulana Yusuf. Di pulau itu masih bisa ditemukan sisa peninggalan kesultanan seperti kolam penampungan air, pendopo, dan kamar mandi keluarga kerajaan.
Sekilas Mengenai Danau Tasikardi
Danau Tasikardi dibangun oleh Hendrik Lucas Cardeel, nama yang juga melekat pada pembangunan Benteng Speelwijk dan desain menara Masjid Agung Banten. Satu orang yang sama terlibat dalam beberapa situs paling penting di kawasan Banten Lama.
Pada 1998, Danau Tasikardi secara resmi ditetapkan sebagai cagar budaya. Bersama Masjid Agung Banten, Keraton Surosowan, Keraton Kaibon, Benteng Speelwijk, Pasar Lama Serang, dan Vihara Avalokitesvara, danau ini masuk dalam situs Banten Lama yang menjadi kawasan warisan sejarah Kesultanan Banten.
Catatan sejarah menyebut bahwa pada 1706, danau ini pernah digunakan sebagai tempat menerima tamu dari Belanda, yakni seorang pelukis dan penjelajah bernama Cornellis de Bruin. Dasarnya yang dilapisi ubin batu bata masih bisa dilihat hingga sekarang, sehingga kondisi itu menjadi salah satu bukti fisik usia dan kualitas konstruksi danau ini.
Daya Tarik Utama Danau Tasikardi
Danau Tasikardi menarik karena menawarkan sesuatu yang tidak banyak dimiliki destinasi wisata lain di Banten, yaitu perpaduan antara wisata alam dan nilai sejarah yang bisa dinikmati dalam satu kunjungan.
Pulau Kaputren di tengah danau adalah bagian yang paling sering menjadi tujuan pengunjung. Untuk mencapainya, Kawan bisa menyewa perahu yang tersedia di tepi danau.
Di pulau ini masih ada sisa bangunan yang menjadi bagian dari kehidupan keluarga kesultanan, termasuk pendopo dan kamar mandi kerajaan. Berjalan di atas pulau bersejarah ini sambil melihat danau dari dekat memberikan kesan yang berbeda daripada sekadar mengamati dari tepi.
Danau itu sendiri cukup menyenangkan untuk dinikmati. Kawan bisa menyewa bebek-bebekan untuk berkeliling, duduk piknik di tepi danau, atau memancing santai di pinggirnya. Suasana di sini tenang dan tidak terlalu ramai, sehingga cocok untuk yang memang ingin menghabiskan waktu dengan santai tanpa banyak keramaian.
Berjalan mengitari area danau juga bisa menjadi pilihan. Ada jalan setapak yang mengelilingi kawasan, sehingga pemandangan danau dari berbagai sudut memberikan perspektif yang berbeda-beda.
Akses Menuju Danau Tasikardi
Danau Tasikardi berlokasi di Jalan Banten Lama, Desa Margasana, Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang. Dari pusat Kota Serang, jaraknya sekitar 10 hingga 11 kilometer dan bisa ditempuh dalam waktu kurang dari 30 menit menggunakan kendaraan bermotor.
Rutenya cukup mudah. Dari arah Kota Serang, Kawan menuju ke barat ke arah Alun-Alun Kecamatan Kramatwatu, kemudian belok kanan di perempatan dekat alun-alun menuju Jalan Tasikardi. Kendaraan roda dua maupun roda empat sama-sama bisa digunakan untuk mencapai lokasi ini.
Posisi Danau Tasikardi yang berada dalam kawasan Banten Lama memungkinkan Kawan menggabungkan kunjungan ke sini dengan situs lain seperti Masjid Agung Banten, Keraton Surosowan, Keraton Kaibon, dan Benteng Speelwijk dalam satu rute perjalanan.
Jam Operasional dan Harga Tiket
Danau Tasikardi buka setiap hari dengan tiket masuk Rp10.000 per orang. Di lokasi tersedia area parkir, toilet, musala, warung makan, serta penyewaan bebek-bebekan dan perahu untuk menuju Pulau Kaputren. Waktu terbaik berkunjung adalah pagi atau sore hari agar tidak terlalu panas dan suasananya lebih nyaman.
Ayo Berkunjung ke Danau Tasikardi!
Kalau Kawan GNFI sedang merencanakan kunjungan ke kawasan Banten Lama, Danau Tasikardi layak masuk dalam rute. Datang pagi hari, bawa bekal atau manfaatkan warung yang ada, dan sempatkan naik perahu ke Pulau Kaputren agar kunjungannya terasa lebih lengkap.
Jadi, kapan Kawan mau berkunjung ke Danau Tasikardi?
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News