
PEMERINTAHKabupaten Blora memastikan akan memberikan beasiswa pendidikan kepada anak dari M, 41, ibu rumah tangga asal Desa Mojorembun, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Blora, yang meninggal dunia diduga akibat beban ekonomi untuk membiayai sekolah anaknya.
Kasus tersebut menjadi perhatian serius Pemkab Blora. Bupati Blora Arief Rohman menyampaikan keprihatinan mendalam dan berharap peristiwa serupa tidak kembali terjadi.
“Saya harap kejadian seperti ini yang terakhir dan tidak terulang lagi di masa mendatang,” kata Arief, Rabu (24/6).
Menurut Arief, peristiwa itu menjadi pukulan besar bagi Pemkab Blora. Apalagi, pemerintah daerah tengah menggencarkan program pengentasan kemiskinan serta mendorong wajib belajar 12 tahun, bahkan membuka peluang dukungan pendidikan hingga perguruan tinggi.
Ia mengatakan Pemkab Blora telah menjalankan sejumlah upaya untuk memperluas akses pendidikan bagi warga, terutama keluarga kurang mampu. Salah satunya melalui Sekolah Rakyat (SR) dengan sistem kelas asrama dari tingkat SD hingga SMA, serta penyaluran berbagai program beasiswa.
Pemkab Blora Minta Warga Melapor jika Kesulitan Biaya Pendidikan
Arief menilai kasus yang menimpa keluarga korban menjadi pelajaran penting bagi pemerintah daerah. Ia meminta warga Blora segera melapor kepada pemerintah apabila menghadapi kesulitan membiayai pendidikan anak.
“Laporkan ke kami jika ada kesulitan membiayai pendidikan,” ujarnya.
Menindaklanjuti kasus tersebut, Pemkab Blora telah menurunkan tim untuk bergerak ke lokasi dan menyiapkan bantuan pendidikan bagi anak korban yang bercita-cita melanjutkan pendidikan ke pondok pesantren.
“Kami turunkan tim sudah bergerak ke sana terkait beasiswa yang akan diberikan kepada anak korban. Bantuan tersebut minimal diberikan hingga jenjang sekolah menengah atas (SMA), bahkan jika memang berprestasi beasiswa hingga ke perguruan tinggi,” ujar Arief.
Polres Blora: Tidak Ada Tanda Penganiayaan
Sementara itu, Kepala Humas Polres Blora AKP Midiyono membenarkan adanya peristiwa tersebut. Berdasarkan hasil pemeriksaan petugas, tidak ditemukan tanda-tanda penganiayaan pada tubuh korban.
Menurut Midiyono, dari keterangan keluarga, sebelum kejadian korban dan suaminya sempat membahas rencana biaya pendidikan anak mereka yang ingin masuk pondok pesantren. Kondisi ekonomi keluarga diduga menjadi beban berat bagi korban.
“Dugaan kuat korban mengalami beban berat atas kesulitan ekonomi untuk membiayai sekolah anaknya yang ingin masuk pondok pesantren,” tuturnya.
Pemkab Blora memastikan pendampingan terhadap anak korban akan dilakukan agar pendidikan yang bersangkutan tetap berlanjut. Pemerintah daerah juga mengimbau masyarakat tidak ragu meminta bantuan apabila menghadapi persoalan pendidikan maupun ekonomi. (AS/E-4)
Catatan redaksi: Jika Anda atau orang terdekat mengalami tekanan psikologis berat, segera hubungi keluarga, tenaga kesehatan, layanan darurat, atau fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan pertolongan.