1. News
  2. Opinion
  3. Mengenal ASPD, Gangguan Kepribadian yang Membuat Pelaku Kekerasan Sulit Berempati.

Mengenal ASPD, Gangguan Kepribadian yang Membuat Pelaku Kekerasan Sulit Berempati.

mengenal-aspd,-gangguan-kepribadian-yang-membuat-pelaku-kekerasan-sulit-berempati.
Mengenal ASPD, Gangguan Kepribadian yang Membuat Pelaku Kekerasan Sulit Berempati.
Mengenal ASPD, Gangguan Kepribadian yang Membuat Pelaku Kekerasan Sulit Berempati.
Ilustrasi (luar biasa)

PSIKOLOG Samanta Clara Elsener, S.Psi, M.Psi, Psikolog, mengemukakan bahwa gangguan kepribadian tertentu dapat membuat seseorang bertindak kejam terhadap orang lain. Kondisi itu bahkan dapat mendorong kekerasan diulangi tanpa terlihat bersalah.

Samanta menjelaskan, dalam psikologi kondisi tersebut dikenal sebagai gangguan kepribadian antisosial atau Gangguan Kepribadian Antisosial (ASPD). Di masyarakat umum, istilah ini sering dikaitkan dengan pengucapan psikopat atau sosiopat.

“Dalam psikologi, kita mengenal istilah gangguan kepribadian antisosial atau Gangguan Kepribadian Antisosial (ASPD), yang di masyarakat awam sering disebut sebagai psikopat atau sosiopat,” kata pengurus Himpunan Psikologi Indonesia itu, dikutip Kamis (25/6).

Menurut Samanta, ASPD tidak bisa disamakan dengan sifat galak, pemarah, atau temperamental semata. Ia menyebut kondisi tersebut sebagai gangguan mental serius yang memengaruhi cara seseorang memproses emosi dan berhubungan dengan orang lain.

“Ini bukan sekadar karakter galak atau pemarah, melainkan gangguan mental yang serius. Orang dengan kondisi ini memiliki struktur otak yang berbeda dalam memproses emosi, sehingga tidak ada empatinya,” ujarnya.

Ciri yang Kerap Muncul pada Gangguan Kepribadian Antisosial

Samanta mengatakan orang dengan gangguan kepribadian antisosial umumnya manipulatif, sulit berempati, dan memandang orang lain sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan atau kepentingan pribadi.

Dalam kondisi tersebut, seseorang dapat menyakiti orang lain tanpa merasa bersalah. Ia menyebut ketiadaan rasa bersalah atau kurangnya penyesalan sebagai salah satu fitur yang menonjol.

“Mereka tidak memiliki rasa bersalah atau kurangnya penyesalantidak punya empati, pandai memanipulasi, dan melihat orang lain bukan sebagai sesama manusia, melainkan sebagai objek untuk memenuhi kepuasan atau kebutuhan mereka sendiri,” jelas Samanta.

“Jadi, saat menyiksa mereka benar-benar tidak merasakan kompas moral yang berbunyi bahwa tindakan itu salah,” tambahnya.

Aspek Penjelasan
Istilah psikologi Gangguan kepribadian antisosial atau Gangguan Kepribadian Antisosial (ASPD)
Sebutan publik Psikopat atau sosiopat
Fitur disebutkan Manipulatif, sulit berempati, tidak memiliki rasa bersalah, dan memandang orang lain sebagai objek
Dampak perilaku Dapat menyakiti orang lain berulang kali tanpa merasakan kesalahan moral

Kasus Penyekapan dan Penganiayaan Perempuan di Bandung

Penjelasan Samanta mengemuka di tengah sorotan atas kasus seorang perempuan berusia 29 tahun yang menjadi korban penyekapan dan penganiayaan berat selama tiga tahun.

Perempuan asal Kabupaten Bandung itu dilaporkan hilang kontak dengan keluarga sejak 2023. Ia kemudian ditemukan dalam kondisi kritis di rumah sakit setelah disebut disekap dan dianiaya oleh kekasihnya selama tiga tahun.

Kepada ayahnya, korban mengaku mengalami penganiayaan yang sangat kejam dalam kurun tersebut. Selama masa itu pula, pelaku disebut kerap memindahkan korban dari satu tempat kos ke tempat kos lain di daerah Cileunyi, Kabupaten Bandung, untuk menghindari kecurigaan warga sekitar.

Data Kasus Keterangan
Korban Perempuan berusia 29 tahun
Asal Kabupaten Bandung
Kondisi Ditemukan dalam kondisi kritis di rumah sakit
Rentang kejadian Disebut berlangsung selama tiga tahun
Lokasi perpindahan Sejumlah tempat kost di kawasan Cileunyi, Kabupaten Bandung

Samanta menekankan bahwa orang dengan gangguan kepribadian antisosial dapat tidak merasakan hambatan moral ketika melakukan kekerasan.

Dalam pandangannya, ketiadaan empati dan rasa bersalah membuat korban diperlakukan bukan sebagai manusia, melainkan sebagai objek untuk memenuhi kepentingan pelaku.

Penjelasan tersebut memperlihatkan bahwa kekerasan berulang tidak hanya perlu dipahami sebagai tindakan kriminal, tetapi juga sebagai perilaku yang dapat berkaitan dengan pola kepribadian serius. Meski demikian, penanganan kasus kekerasan tetap membutuhkan proses hukum, perlindungan korban, dan pemeriksaan profesional untuk memahami kondisi psikologis pihak-pihak yang terlibat. (Ant/Z-1)

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Mengenal ASPD, Gangguan Kepribadian yang Membuat Pelaku Kekerasan Sulit Berempati.
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us