Legenda Sumur Tua Pantai Kelang di Serdang Bedagai, Cerita Rakyat dari Sumatra Utara | Magnific AI
Legenda Sumur Tua Pantai Kelang adalah salah salah satu cerita rakyat yang berasal dari daerah Sumatra Utara. Legenda ini berkisah tentang sumur yang memiliki air tawar meskipun berada di pinggir pantai.
Simak kisah dari legenda Sumur Tua Pantai Kelang ini dalam artikel berikut.
Legenda Sumur Tua Pantai Kelang di Serdang Bedagai, Cerita Rakyat dari Sumatra Utara
Dikutip dari artikel Mardiah Mawar Kembaren, dkk., “Cerita Rakyat Melayu Sumatra Utara Berupa Mitos dan Legenda dalam Bentuk Kearifan Lokal Masyarakat yang terbit di Rumpun Jurnal Persuratan Melayu, alkisah pada zaman dahulu ada seorang ulama besar yang bernama Syekh Maulana Maghribi. Ulama ini memiliki dua orang murid yang bernama Ali dan Kari.
Setelah belajar cukup lama, kedua murid Syekh Maulana Maghribi dirasa sudah memiliki ilmu yang cukup. Ali dan Kari pun dipersilahkan untuk mengembara menjalankan ilmu yang mereka dapatkan.
Ali dan Kari memahami perintah dari sang guru. Mereka pun mempersiapkan berbagai macam keperluan untuk memulai pengembaraan.
Setelah semua persediaan tersedia, Ali dan Kari kemudian pergi menghadap Syekh Maulana Maghribi. Mereka akan berpamitan dengan sang guru sebelum memulai perjalanan panjang.
Syekh Maulana Maghribi memberikan hadiah untuk kedua muridnya. Hadiah ini akan sangat berguna bagi mereka di perjalanan nantinya.
Hadiah yang diberikan oleh Syekh Maulana Maghribi berupa tempurung bertuah. Namun tempurung ini bukanlah tempurung biasa saja.
Tempurung dari Syekh Maulana Maghribi ini memiliki tuahnya tersendiri. Namun tuah dari tempurung itu hanya bisa digunakan sebanyak tiga kali saja.
Syekh Maulana Maghribi berpesan agar tempurung itu digunakan untuk membantu orang yang kesusahan. Ali dan Kari mendengarkan perintah dari sang guru dengan seksama.
Akhirnya Ali dan Kari memulai perjalanan. Mereka pergi meninggalkan tempat sang guru dengan menggunakan kapal.
Di tengah perjalanan, Ali dan Kari dihadapkan dengan sebuah peperangan. Ali dan Kari kemudian menggunakan tempurung mereka untuk menolong pihak yang kalah.
Namun sayang, pilihan mereka ini ternyata tidak tepat. Sebab Ali dan Kari ternyata menolong kelompok lanun atau perompak.
Raja Lanun berterima kasih atas bantuan Ali dan Kari. Namun dia sadar tidak bisa memanfaatkan kedua pemuda itu lebih jauh.
Oleh sebab itu, Raja Lanun menawarkan anak gadisnya pada Kari untuk dinikahi. Kari pun setuju dan menerima hadiah dari Raja Lanun itu.
Di sisi lain, Ali sadar bahwa dia sudah melakukan hal yang salah. Alih-alih menerima hadiah dari Raja Lanun, dia pun memilih untuk meninggalkan kelompok itu.
Ali melanjutkan perjalanannya untuk mencari orang yang membutuhkan. Sebaliknya, Kari justru menjelma menjadi perompak yang ganas.
Setelah berjalan cukup jauh, sampailah Ali di sebuah desa nelayan yang ada di Kerajaan Bedagai. Desa ini sangat miskin dan kotor.
Ali pun menggunakan kesaktiannya untuk membantu penduduk yang ada di sana. Dengan tempurung yang dia miliki, Ali membantu masyarakat untuk terlepas dari wabah penyakit yang tengah melanda daerah tersebut.
Selain itu, Ali juga mengajarkan ilmu bela diri pada masyarakat. Dengan demikian, mereka bisa mempertahankan diri dari bahaya yang datang.
Tidak lama kemudian, desa nelayan yang perlahan makmur ini ternyata menarik perhatian Kari. Dia pun mengirim pasukan untuk menjarah desa nelayan tersebut.
Pasukan Kari pun berangkat dengan kekuatan penuh. Namun dengan bekal ilmu yang diajarkan oleh Ali, masyarakat di desa nelayan berhasil memukul mundur pasukan Kari.
Hal ini memancing amarah dari Kari. Dia pun memimpin langsung armada untuk menyerang desa nelayan tersebut.
Begitu tiba di pinggir pantai, Kari menggunakan tempurung bertuahnya untuk mengeluarkan garam yang banyak. Akibatnya air yang ada di desa itu berubah menjadi asin dan tidak bisa dikonsumsi.
Namun sayang Kari ternyata sudah menggunakan tiga kali tempurung bertuahnya. Garam yang keluar tanpa henti itu justru menenggelamkan Kari bersama armada perompaknya yang lain.
Ali ternyata mengetahui perbuatan yang dilakukan oleh Kari. Dia pun bergegas menuju desa nelayan tersebut.
Sesampainya di sana, Ali menggunakan kesaktian terakhir dari tempurungnya. Dia membuat lubang di daerah tersebut yang mengeluarkan air tawar.
Konon dari lubang inilah yang menjadi asal usul dari Sumur Tua Pantai Kelang. Meskipun berada di daerah pantai, air sumur itu tetap tawar dan bisa dikonsumsi masyarakat.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News