
KANKER mulut sering kali dikaitkan dengan kebiasaan merokok, namun para ahli memperingatkan bahwa pola makan sehari-hari juga memegang peran krusial. Kebiasaan konsumsi makanan tertentu dalam jangka panjang dapat menciptakan lingkungan yang mendukung peradangan dan kerusakan sel di rongga mulut.
Berdasarkan data dari CDC dan IARC, berikut adalah daftar makanan dan minuman yang perlu diwaspadai karena potensinya meningkatkan risiko kanker mulut:
1. Daging Olahan
Daging olahan seperti sosis, bacon, ham, dan daging asap telah diklasifikasikan oleh International Agency for Research on Cancer (IARC) sebagai karsinogenik. Proses pengawetan seperti pengasapan dan penambahan nitrat dapat membentuk senyawa N-nitroso yang berpotensi merusak sel-sel di dalam mulut.
2. Daging Merah yang Dimasak Suhu Tinggi
Memasak daging merah dengan cara dibakar, dipanggang hingga gosong, atau diasap pada suhu sangat tinggi dapat menghasilkan senyawa PAH dan HAA. Senyawa ini diketahui berpotensi merusak DNA sel, sehingga cara memasak yang lebih sehat seperti dikukus atau direbus lebih disarankan.
3. Makanan Gorengan
Konsumsi gorengan dalam jumlah tinggi berkontribusi pada pola makan proinflamasi. Peradangan kronis pada jaringan mulut dapat menghambat proses perbaikan sel secara optimal, yang dalam jangka panjang memperbesar risiko gangguan kesehatan serius termasuk kanker.
4. Minuman Manis
Soda, minuman energi, dan kopi kemasan tinggi gula tidak hanya buruk bagi kesehatan gigi dan gusi, tetapi juga dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker tertentu. Kondisi rongga mulut yang buruk akibat konsumsi gula berlebih dapat memperparah risiko kerusakan jaringan.
5. Minuman Beralkohol
Alkohol merupakan salah satu faktor risiko terkuat. World Cancer Research Fund (WCRF) menegaskan bahwa konsumsi alkohol adalah penyebab yang meyakinkan bagi kanker mulut, faring, dan laring, terutama jika dikombinasikan dengan penggunaan tembakau.
Waspadai Gejala Dini: Segera periksakan diri ke dokter gigi jika Anda mengalami sariawan yang tidak kunjung sembuh, pembengkakan yang tidak biasa, nyeri tenggorokan menetap, atau kesulitan menelan.
Untuk menurunkan risiko, para ahli menyarankan transisi ke pola makan sehat yang kaya sayuran non-tepung dan membatasi konsumsi makanan olahan serta alkohol secara signifikan.