
FENOMENA Anak Laki-Laki yang memicu kemarau ekstrem menjadi ancaman serius bagi sektor peternakan di Kalimantan Selatan (Kalsel). Sebagai lumbung ternak regional di Kalimantan, Kalsel diminta melakukan langkah antisipasi konkret guna mencegah gangguan kesehatan hingga risiko kematian pada hewan ternak akibat kekurangan pakan dan air.
Kepala Balai Veteriner BanjarbaruAris Sutomo, menyatakan pihaknya telah menyiapkan langkah-langkah strategis untuk memitigasi dampak fenomena iklim tersebut. Hal ini disampaikan di sela kunjungan kerja Komisi IV DPR RI pada Jumat (3/7) petang.
“Elnino pengaruhnya pasti sangat besar, pasti pakan dan air sangat kekurangan. Kondisi ini juga memicu munculnya penyakit. Meskipun saat ini kasusnya belum ada, antisipasi dini sangat diperlukan,” ujar Aris Sutomo.
Strategi Mitigasi dan Penanggulangan Penyakit
Guna menjaga kesehatan ternak selama musim kemarau ekstrem, Balai Veteriner Banjarbaru fokus pada pengadaan vaksin dan obat-obatan. Langkah ini diambil untuk membentengi ternak dari potensi wabah yang sering muncul saat kondisi lingkungan memburuk.
| Aspek Antisipasi | Langkah Strategis |
|---|---|
| Kesehatan Hewan | Pengadaan vaksin PMK, LSD, dan ASF serta penyediaan obat-obatan. |
| Ketahanan Pakan | Pembangunan Bank Pakan dan kebun hijauan pakan ternak tahan kekeringan. |
| Infrastruktur | Optimalisasi lahan rawa dan lebak untuk menjaga ketersediaan air. |
| Laboratorium | Peningkatan peran Balai Veteriner sebagai pusat pengujian dan penyidikan penyakit regional. |
Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian, Agung Suganda, menekankan pentingnya daerah meningkatkan ketersediaan pakan yang tahan terhadap kekeringan. Menurutnya, pembuatan Bank Pakan menjadi solusi krusial agar pasokan nutrisi ternak tidak terputus saat rumput alam mengering.
Dukungan Legislatif untuk Ketahanan Pangan
Ketua Komisi IV DPR RI, Titik Hediati Soeharto, mengingatkan bahwa berdasarkan prediksi BMKG, Kalimantan Selatan termasuk wilayah yang berpotensi mengalami curah hujan di bawah normal. Risiko kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dapat menurunkan produktivitas sektor pertanian dan peternakan secara signifikan.
“Kondisi ini memerlukan langkah strategis karena Kalimantan Selatan merupakan daerah penyangga pangan nasional. Fokus harus diarahkan pada optimalisasi lahan rawa, penguatan cadangan pangan, dan penyerapan hasil panen,” tegas Titik Soeharto.
Komisi IV DPR RI juga mendorong Balai Veteriner Banjarbaru untuk memperkuat fungsinya sebagai laboratorium pengujian dan pengamanan produk hewan di seluruh wilayah Kalimantan guna memastikan keamanan pangan asal hewan tetap terjaga di tengah tantangan iklim. (DY/I-1)