Liburan sekolah kali ini terasa berbeda bagi Kiman. Sepupunya dari Surabaya datang berlibur ke Pulau Buru, Maluku. Namanya Amir.
Sejak pagi, Kiman mengajak Amir menjelajahi kebun di belakang rumah. Mereka berlari-larian mengejar kupu-kupu, mengamati burung-burung bertengger di pohon dan mengumpulkan buah pala.
Namun, menjelang siang, “Aduh, perutku sakit,” keluh Amir memegangi perutnya.
Kiman segera berlari masuk ke rumah. Tak lama ia membawa sebotol minyak kayu putih. “Oleskan sedikit di perutmu!”
Amir menurut. “Aromanya membuat segar sekali.”
“Ini minyak kayu putih dari pulau ini,” kata Kiman.
Beberapa saat kemudian, perut Amir sudah terasa nyaman.
Kiman tersenyum. “Kalau begitu, aku mau menunjukkan sesuatu yang menarik.”
Kiman lalu mengajak Amir berjalan menuju perbukitan yang dipenuhi pohon kayu putih.
“Ayah bilang akar pohon kayu putih sangat kuat. Akarnya bisa mencari air jauh ke dalam tanah,” kata Kiman.
Amir mengamati daun-daunnya yang panjang dan ramping. ”Jadi, minyak kayu putih berasal dari daun-daun ini?”
“Iya. Oleh karena itu, kampung kami ini dijuluki Negeri Kayu Putih.”
Kiman lalu memetik beberapa helai daun, meremasnya perlahan, dan mendekatkannya di hidung Amir. “Harum sekali, bukan?” kata Kiman sambil tertawa. “Itu karena daun kayu putih mengandung minyak.”
“Bagaimana minyaknya bisa keluar dari daun?”
“Nanti kamu lihat sendiri?” Kiman lalu mengajak Amir ke tempat penyulingan.
Bangunan itu tampak sederhana. Dindingnya terbuat dari papan, sementara atap seng menaunginya dari terik matahari Pulau Buru. Sebuah ketel besar berdiri di tengah ruangan, tersambung dengan pipa-pipa panjang yang berkelok menuju bak pendingin.
Ayah Kiman yang sedang bekerja menyambut mereka. “Selamat datang. Mau melihat bagaimana minyak kayu putih dibuat?”
“Tentu, Om!” jawab Amir antusias.
Ayah Kiman lalu menunjukkan pipa panjang yang keluar dari ketel. Tak lama kemudian, tetesan cairan mulai menetes dari ujung pipa ke dalam wadah bening. Amir mengamatinya penuh rasa ingin tahu. “Cairan itu adalah minyak,” jelas ayah Kiman.
Amir kemudian diajak menuju ruang pengemasan. Di sana, beberapa pekerja dengan teliti menuangkan minyak ke dalam botol-botol kecil.
Setelah melihat proses pembuatan minyak kayu putih, Amir semakin kagum. Selain itu, ia diberi beberapa botol.
“Untuk oleh-oleh dari Pulau Buru,” kata ayah Kiman.
Amir sangat senang dengan liburannya di Pulau Buru. Ia belajar banyak hal baru dan menikmati petualangan yang tak terlupakan. *
Oleh Tim Nusantara Bertutur
Penulis: Saharul Hariyono
Pendongeng: Paman Gery (Instagram: @paman_gery)
Ilustrasi: Regina Primalita
