“Miss, bentar ya… Mama bilang jawabnya I’m fine.”
Saya cuma bisa tersenyum kecil. Yang saya ajak ngobrol sebenarnya muridnya, tetapi yang buru-buru menjawab justru ibunya. Pemandangan seperti itu sudah berkali-kali saya temui selama hampir dua tahun menjadi tutor bahasa Inggris untuk anak TK dan SD. Dari situ saya mulai percaya bahwa anak-anak sebenarnya tidak takut belajar bahasa Inggris. Yang sering membuat mereka takut justru orang dewasa yang terlalu ingin mereka cepat pintar.
Saya paham mengapa banyak orang tua bersikap begitu. Bahasa Inggris sudah dianggap sebagai bekal masa depan. Semakin cepat anak bisa berbicara bahasa Inggris, semakin tenang hati orang tua. Tidak sedikit pula yang memasukkan anak ke les sejak masih TK karena khawatir mereka tertinggal. Niat itu tentu tidak salah. Hanya saja, semakin lama mengajar, saya merasa kita sering kali terlalu sibuk mengejar hasil sampai lupa menikmati proses belajar anak.
Anak-anak ternyata tidak takut bahasa Inggris
Selama jadi tutor bahasa Inggris, saya hampir selalu menemukan pola yang sama. Orang tua duduk di samping anak ketika kelas daring berlangsung. Ada yang sekadar menemani, ada yang membantu ketika anak lupa, tetapi ada juga yang baru beberapa detik anaknya diam langsung berbisik, “Jawab, Nak. Kan sudah diajarin.”
Saya tidak pernah menyalahkan mereka. Kalau suatu hari nanti saya menjadi orang tua, mungkin saya juga akan gemas melihat anak sendiri hanya diam di depan layar. Namun, dari situlah saya justru menemukan ironi kecil. Banyak anak hafal apple, banana, elephant, bahkan hippopotamus yang mungkin belum pernah mereka lihat secara langsung. Akan tetapi, ketika saya bertanya, “How are you today?”, mereka malah menoleh ke arah ibunya seolah jawaban pertanyaan itu ada di sana.
Saya jadi bertanya-tanya, jangan-jangan selama ini kita terlalu sibuk membuat anak menghafal bahasa Inggris, tetapi lupa mengajarkan bahwa bahasa diciptakan untuk dipakai berkomunikasi. Percuma hafal puluhan kosakata kalau untuk mengatakan “hari ini aku senang” saja masih takut.
Empat sapaan sederhana dari tutor bahasa Inggris yang mengubah suasana kelas
Pemikiran itu membuat saya mengubah cara membuka kelas. Dulu saya sering memulai pelajaran dengan kalimat yang mungkin sudah menjadi slogan hampir semua guru dan tutor bahasa Inggris, “Open your book.” Lama-kelamaan saya merasa ada yang kurang. Anak-anak memang membuka buku, tetapi belum tentu benar-benar membuka dirinya.
Akhirnya saya mencoba memulai kelas dengan empat kalimat yang sama di setiap pertemuan.
“Halo!”
“Selamat pagi!”
“Apa kabarmu hari ini?”
“Apa aktivitasmu hari ini?”
Awalnya saya mengira itu hanya basa-basi. Ternyata saya salah besar.
Empat pertanyaan sederhana itu perlahan mengubah suasana kelas. Anak-anak mulai bercerita tentang aktivitas mereka sebelum les dimulai. Ada yang baru selesai membantu ibunya menyiram tanaman, ada yang habis bermain sepeda, ada yang sibuk menunjukkan mainan baru ke kamera. Obrolannya memang hanya berlangsung beberapa menit, tetapi setelah itu suasana kelas terasa jauh berbeda. Saya merasa berhasil menjadi tutor bahasa Inggris.
Ketika saya mulai masuk ke materi warna, buah, hewan, atau anggota tubuh, saya tidak perlu lagi berkali-kali mengingatkan mereka untuk fokus. Mereka justru membuka bukunya sendiri, berebut menjawab pertanyaan, bahkan meminta soal tambahan. Saya baru sadar bahwa setelah merasa didengar, anak-anak jauh lebih siap menerima pelajaran.
Kalau dipikir-pikir, orang dewasa juga begitu. Tidak ada teman yang tiba-tiba datang lalu berkata, “Buka laptop sekarang, kita kerja.” Biasanya kita bertanya dulu, “Apa kabar?” atau “Hari ini gimana?” sebelum membahas hal-hal yang lebih serius. Anehnya, kepada anak-anak kita sering lupa melakukan hal sesederhana itu.
Kapan “Apa kabarmu?” lebih penting daripada kosa kata
Perubahan itu semakin terasa beberapa minggu kemudian.
Seperti biasa aku bertanya, “Bagaimana kabarmu hari ini, Altaf?”
Kali ini Altaf tidak lagi melirik ke arah ibunya.
“Saya tidak baik-baik saja, Nona. Saya sakit… Saya batuk-batuk, Nona. Doakan saya segera sembuh.”
Kalimatnya memang belum sempurna. Tata bahasa baru masih berantakan. Bahasa Indonesianya pun masih bercampur. Namun, saat itu saya sama sekali tidak terpikir untuk langsung membetulkan susunan kalimatnya. Yang saya dengar bukan kesalahan tata bahasa, melainkan keberanian seorang anak yang akhirnya menggunakan bahasa Inggris untuk menceritakan dirinya sendiri. Sebagai tutor bahasa Inggris, penting memahami ini.
Belum sempat saya menjawab, Shazfa yang biasanya paling pendiam tiba-tiba menyela.
“Get well soon, Altaf. We sayang Altaf.”
Saya langsung tertawa kecil. Beberapa minggu sebelumnya mereka bahkan masih malu mengucapkan “Hello”. Kini mereka sudah saling menyemangati dengan bahasa Inggris versi mereka sendiri.
Sejak saat itu kelas kami terasa berbeda. Kalau ingin bermain, mereka berkata, “Miss, I want games.” Kalau bosan dengan permainan yang itu-itu saja, mereka mulai meminta permainan baru. Bahkan suatu hari, ketika waktu belajar hampir selesai, Shazfa berkata pelan, “Miss… I sad. Waktunya kok dikit kita belajar.”
Altaf langsung menimpali, “Iya, Miss. Aku happy belajar color.”
Kalimat mereka mungkin belum layak masuk buku tata bahasa. Namun, bagi saya, kalimat-kalimat itu jauh lebih membahagiakan daripada seratus kosakata yang dihafal tanpa pernah berani diucapkan.
Grammar bisa menunggu, keberanian jangan
Hari itu saya memahami sesuatu yang tidak pernah saya pelajari di buku metode mengajar. Mengajar dan jadi tutor bahasa Inggris untuk anak-anak ternyata bukan soal membuat mereka menghafal sebanyak mungkin vocabulary. Yang jauh lebih penting adalah membuat mereka merasa aman untuk berbicara.
Bukankah bayi juga belajar bahasa Indonesia dengan cara yang sama? Mereka salah mengucapkan kata, mencampur kalimat, lalu perlahan membaik. Tidak ada orang tua yang memarahi balita karena salah memakai imbuhan. Anehnya, ketika anak belajar bahasa Inggris, sedikit saja salah grammar kita sering buru-buru membetulkannya, seolah kesalahan adalah sesuatu yang harus dihindari, bukan bagian dari proses belajar.
Padahal, keberanian berbicara tidak tumbuh dari rasa takut salah. Keberanian tumbuh ketika seseorang merasa didengar dan diterima.
Mungkin itu sebabnya sampai hari ini saya selalu memulai kelas dengan “Hello”, bukan “Open your book”. Karena ternyata, sebelum membuka halaman pertama sebuah buku, ada satu hal yang lebih dulu harus dibuka: rasa nyaman seorang anak untuk berbicara.
Penulis: Jessica Nurleman
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini dari.
Terakhir diperbarui pada 7 Juli 2026 oleh