Banyak orang mengira generasi muda memiliki kehidupan kerja yang lebih fleksibel dibanding generasi sebelumnya. Namun, di balik kemudahan teknologi dan tren kerja hybrid, tekanan yang dirasakan justru semakin besar. Survei Deloitte Global Gen Z & Millennial Survey 2025 menemukan bahwa sekitar 40% Gen Z dan milenial merasa stres atau cemas hampir sepanjang waktu, dengan pekerjaan menjadi salah satu penyebab utamanya.
Tekanan tersebut bukan hanya berasal dari target pekerjaan, tetapi juga ketidakpastian karier, biaya hidup yang terus meningkat, hingga kekhawatiran terhadap masa depan. Di era media sosial, banyak anak muda juga merasa harus terus membandingkan pencapaian dirinya dengan orang lain. Akibatnya, rasa cemas semakin mudah muncul meski performa kerja sebenarnya sudah baik.
Apa yang paling sering memicu stres di tempat kerja?
1. Beban kerja yang berlebihan
Target yang tinggi dan jam kerja panjang membuat tubuh maupun pikiran sulit beristirahat.
2. Ketidakpastian karier
Banyak anak muda khawatir dengan peluang promosi, keamanan pekerjaan, hingga perkembangan karier jangka panjang.
3. Kondisi finansial
Kenaikan biaya hidup membuat gaji terasa cepat habis sehingga memicu tekanan psikologis.
4. Sulit menjaga work-life balance
Notifikasi pekerjaan yang datang di luar jam kerja membuat batas antara kehidupan pribadi dan pekerjaan semakin kabur.
5. Tekanan untuk selalu produktif
Budaya hustle dan media sosial sering membuat seseorang merasa harus terus bekerja agar tidak tertinggal.
Meski demikian, stres bukan sesuatu yang harus dianggap normal. World Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa lingkungan kerja yang sehat perlu memberikan beban kerja yang realistis, dukungan dari atasan, serta ruang bagi pekerja untuk menjaga kesehatan mental. Sementara itu, International Labour Organization (ILO) menegaskan bahwa kesehatan mental di tempat kerja berpengaruh langsung terhadap produktivitas dan kualitas hidup pekerja.
Karena itu, membangun karier bukan hanya soal mengejar jabatan atau gaji. Menjaga kesehatan mental, berani menetapkan batasan kerja, serta mencari lingkungan kerja yang suportif juga merupakan investasi penting untuk karier yang berkelanjutan.