
KETEGANGANdi Timur Tengah kembali mencapai titik didih setelah Arab Saudi meluncurkan serangkaian serangan udara terhadap kelompok pemberontak Houthi Dari kekayaan pada Senin (13/7)pagi. Eskalasi militer ini secara efektif mengakhiri gencatan senjata yang sebelumnya diupayakan oleh pemerintahan Donald Trumpsekaligus memicu lonjakan harga minyak mentah dunia.
Bandara Sanaa Menjadi Target Utama
Pemberontak Houthi yang didukung Iran melaporkan bahwa pesawat tempur Arab Saudi membombardir Bandara Internasional Sanaa. Serangan tersebut dilaporkan terjadi saat suatu pesawat asal Iran mencoba mendarat di bandara tersebut. Akibat insiden ini, perintah evakuasi segera dikeluarkan untuk area bandara dan permukiman di sekitarnya.
Juru bicara kelompok Houthi menyatakan berakhirnya fase deeskalasidan memberikan peringatan keras bahwa agresi tersebut tidak akan dibiarkan tanpa balasan. Konflik ini memperpanjang perang saudara selama satu dekade antara aliansi militer pimpinan Saudi di selatan dan Houthi yang menguasai wilayah utara Yaman.
Harga Minyak Melonjak dan Krisis Selat Hormuz
Menyusul berita serangan tersebut, harga minyak dunia melonjak lebih dari tiga persen pada Senin pagi. Pasar bereaksi terhadap meningkatnya risiko gangguan pasokan, terutama terkait kontrol atas Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang membawa seperlima pasokan minyak dunia.
Presiden Donald Trump, berbicara dari KTT NATO di Ankara, menyatakan bahwa nota kesepahaman (MoU) dengan Iran memasuki fase krisisdan menganggap kesepakatan tersebut telah berakhir. “Ada yang salah dengan mereka. Sejauh yang saya ketahui, ini sudah berakhir,” tegas Trump merujuk pada kegagalan diplomasi dengan Teheran.
Kutipan Strategis: “Kami mengambil alih selat itu,” ujar Donald Trump kepada Fox News, merujuk pada langkah AS untuk mengamankan Selat Hormuz dari ancaman Iran.
Eskalasi Regional dan Penutupan Jalur Laut
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran merespons tekanan militer AS dengan menyatakan penutupan Selat Hormuz hingga pemberitahuan lebih lanjut. Iran menegaskan bahwa tidak ada kapal atau kerajinan angkatan laut yang diizinkan melintas selama intervensi melanggar hukumoleh pihak luar masih berlangsung.
Selain di Yaman, ketegangan meluas ke beberapa negara tetangga. Iran mengeklaim telah menargetkan pangkalan militer AS di Bahrain, Yordania, Kuwait, Oman, dan Qatar. Di Yordania, pihak berwenang melaporkan telah menembak jatuh empat rudal yang mengarah ke Pangkalan Udara Prince Hassan, meski Teheran mengeklaim telah menghancurkan pusat komando di sana.
Respons Militer Amerika Serikat
Komando Pusat AS (Centcom) mengonfirmasi bahwa serangan balasan diarahkan untuk mendegradasi kemampuan Iran dalam menyerang pelaut sipil dan kapal komersial. Target serangan AS mencakup:
- Situs rudal dan drone.
- Fasilitas penyimpanan amunisi.
- Jaringan komunikasi dan pengawasan pesisir.
- Kapabilitas angkatan laut IRGC.
Menteri Pertahanan (Secretary of War) Pete Hegseth menegaskan bahwa AS akan terus melakukan tindakan balasan atas serangan Iran terhadap aset-aset Amerika. “Iran membuat pilihan yang buruk. Sekarang mereka harus membayarnya,” pungkas Hegseth. (Daily Mail/I-2)