
AHLI pemuliaan tanaman Universitas IPBProf Muhamad Syukur, berhasil merakit empat varietas cabai habanero lokal pertama di Indonesia, yaitu Tabia Sala 1 IPB, Margi 2 IPB, Tabia Sala Oranye IPB, dan Tabia Sala Kuning IPB. Jenis cabai super pedas ini menjadi varietas habanero pertama yang resmi terdaftar di Kementerian Pertanian Republik Indonesia dan mendapatkan Hak Perlindungan Varietas Tanaman (PVT).
“Pada dasarnya cabai habanero di Indonesia itu belum ada. Baru ada Katokkon Sayang dari Sulawesi Selatan yang terdaftar. Jadi, yang mendapat perlindungan varietas pertama kali untuk jenis habanero adalah rakitan kami dari IPB University,” kata Guru Besar Departemen Agronomi dan Hortikultura IPB University, Prof Syukur dalam keterangannya, Selasa (14/7).
Tokoh di balik pemuliaan cabai habanero lokal ini mengatakan, salah satu daya tarik utama dari inovasi ini adalah tingkat kepedasannya luar biasa yang diukur menggunakan skala scoville heat units (SHU), bisa lima kali lipat lebih pedas dari rawit biasa. Masing-masing varietas memiliki karakteristik warna dan tingkat kepedasan yang berbeda.
“Tabia Sala 1 IPB berwarna merah dengan tingkat kepedasan ekstrem mencapai 1 hingga 1,3 juta SHU. Margi 2 IPB memiliki warna peach dengan tingkat kepedasan 350–500 ribu SHU. Tabia Sala Oranye IPB yang berwarna oranye dengan tingkat kepedasan 350–500 ribu SHU. Tabia Sala Kuning IPB yang berwarna kuning juga memiliki tingkat kepedasan 350–500 ribu SHU,” beber Prof Syukur.
Selain menang di tingkat kepedasan, keunggulan utama habanero rakitan IPB University ini terletak pada daya adaptasinya. Cabai habanero impor umumnya memiliki daya adaptasi yang rendah di iklim tropis, sementara varietas IPB University ini dirancang khusus agar tangguh dan tahan hama/penyakit keriting kuning.
Benih keempat varietas tersebut telah didiseminasikan oleh Benih Dramaga, sehingga sudah bisa diakses secara massal oleh para petani di Indonesia. Prof Syukur berharap varietas cabai baru ini dapat berkembang di petani maupun industri. Ia melihat varietas ini memiliki potensi serapan pasar domestik maupun global.
“Di dalam negeri kebutuhan akan cabai dengan kepedasan tinggi sangat besar karena dapat mengurangi jumlah cabai yang digunakan. Ada perusahaan pengolahan di Bogor yang berminat untuk mengembangkan cabai bubuk dari varietas habanero IPB University. Selain itu, potensi besar juga untuk ekspor ke Korea sebagai bahan untuk membuat hot pack yang digunakan saat musim dingin,” jelas dia.
Tim peneliti telah memulai proses perakitan varietas ini sejak tahun 2020. Ia mengungkapkan, selama 6 tahun perjalanan riset, tim peneliti menghadapi berbagai tantangan di lapangan.
“Pertama tentu dana yang berkelanjutan. Kedua, lahan terbatas dan memerlukan rumah kaca. Ketiga, sumber daya manusia pendukung, mulai asisten pemulia, asisten lapangan hingga pegawai lapangan. Keempat, fasilitas pendukung seperti alat untuk analisis kepedasan yang mahal,” pungkasnya. (H-2)