Wakil Menteri Luar Negeri dan Perdagangan Australia Matt Thistlethwaite dan Wakil Menteri Perdagangan Indonesia Dyah Roro Esti Widya Putri/Rizky
Indonesia dan Australia kembali memperkuat hubungan ekonomi melalui peluncuran Katalis 2.0, program lanjutan di bawah kerangka Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA). Program yang akan berlangsung hingga 2031 ini menjadi langkah strategis kedua negara dalam memperluas perdagangan, menarik investasi, serta membuka lebih banyak peluang bisnis dan pengembangan sumber daya manusia.
Pemerintah Australia mengalokasikan pendanaan sebesar AUD40 juta atau sekitar Rp430 miliar untuk mendukung implementasi Katalis 2.0. Dana tersebut akan digunakan untuk memperluas berbagai program yang telah terbukti berhasil pada fase pertama Katalis selama periode 2021–2025.
Peluncuran Katalis 2.0 dilakukan di Jakarta oleh Wakil Menteri Luar Negeri dan Perdagangan Australia Matt Thistlethwaite bersama Wakil Menteri Perdagangan Indonesia Dyah Roro Esti Widya Putri.
“Indonesia merupakan salah satu mitra ekonomi terdekat Australia. Bersama-sama, kita menciptakan lebih banyak peluang bagi dunia usaha, memperkuat ketahanan ekonomi, dan mewujudkan kemakmuran bersama bagi kedua negara,” ujar Matt Thistlethwaite.
Katalis 2.0 Perkuat Investasi, Perdagangan, dan Dunia Usaha
Katalis 2.0 dirancang untuk mempercepat implementasi IA-CEPA melalui kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, lembaga pendidikan, hingga berbagai institusi ekonomi. Program ini juga bertujuan mengurangi hambatan perdagangan dan investasi sekaligus mempermudah mobilitas pelaku usaha Indonesia yang ingin mengembangkan bisnis di Australia.
Matt Thistlethwaite menegaskan bahwa fase kedua Katalis bukan sekadar melanjutkan program sebelumnya, tetapi memperluas dampaknya agar semakin banyak perusahaan dan masyarakat yang memperoleh manfaat.
“Hari ini bukan sekadar meluncurkan fase baru Katalis. Melalui Katalis 2.0 kami akan terus menciptakan peluang nyata bagi pelaku usaha dan masyarakat di bawah IA-CEPA, menghubungkan dunia usaha, mendorong investasi, mendukung pengembangan keterampilan, dan membangun kemitraan yang memberikan dampak nyata,” katanya.
Sementara itu, Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri menegaskan bahwa peluncuran Katalis 2.0 menjadi bukti komitmen kedua negara untuk mengubah berbagai peluang dalam IA-CEPA menjadi manfaat ekonomi yang dapat dirasakan langsung.
“Hari ini bukan sekadar peluncuran program baru. Ini merupakan penegasan kembali atas komitmen bersama untuk mengubah berbagai peluang yang diciptakan IA-CEPA menjadi manfaat ekonomi yang nyata bagi dunia usaha, tenaga kerja, dan masyarakat di kedua negara,” ujar Roro.
Menurutnya, Indonesia terus berupaya memperluas perdagangan dan investasi guna meningkatkan daya saing industri nasional sekaligus membuka akses pasar internasional yang lebih luas bagi pelaku usaha Indonesia.
Ekspor Kakao Melonjak Tiga Kali Lipat Jadi Bukti Keberhasilan
Keberhasilan Katalis 1.0 menjadi fondasi utama lahirnya fase kedua program ini. Selama empat tahun terakhir, lebih dari 20 proyek kerja sama berhasil dijalankan di berbagai sektor.
Salah satu capaian paling menonjol adalah peningkatan ekspor kakao premium Indonesia ke Australia hingga tiga kali lipat sepanjang 2022–2025. Peningkatan tersebut tercapai melalui riset pasar, pendampingan pelaku usaha, pelatihan industri, hingga promosi kepada calon pembeli di Australia.
Matt Thistlethwaite menyebut keberhasilan tersebut menjadi bukti nyata bahwa kerja sama ekonomi mampu menciptakan nilai tambah bagi kedua negara.
“Hasilnya, sejumlah produsen kakao premium Indonesia berhasil memasuki pasar Australia. Keberhasilan ini turut mendorong peningkatan nilai ekspor kakao Indonesia ke Australia hingga tiga kali lipat dalam periode 2022 hingga 2025,” ungkapnya.
Selain sektor kakao, Katalis juga membantu perusahaan teknologi Indonesia, Privy, memperluas bisnisnya ke Australia. Program ini juga mendukung pelatihan tenaga perawat Indonesia melalui kerja sama dengan University of New England sehingga para peserta memperoleh pelatihan, proses akreditasi, hingga kesempatan bekerja di sektor layanan kesehatan Australia.
Menurut Matt, keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa manfaat Katalis tidak hanya dirasakan dunia usaha, tetapi juga masyarakat melalui peningkatan kualitas tenaga kerja.
Kolaborasi Jangka Panjang untuk Pertumbuhan Ekonomi Inklusif
Program Katalis 2.0 akan berlangsung pada periode 2026–2031 dengan fokus memperkuat investasi, perdagangan, pengembangan keterampilan, inovasi, dan kolaborasi bisnis yang lebih luas.
Deputi Bidang Pengembangan Makro Kementerian PPN/Bappenas, Eka Chandra Buana, menilai kemitraan internasional seperti Katalis memiliki peran penting dalam mendukung agenda pembangunan jangka panjang Indonesia.
“Kolaborasi yang memperkuat institusi, mendorong inovasi, dan memobilisasi investasi akan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan, inklusif, dan tangguh,” kata Eka.
Australia juga menegaskan bahwa Indonesia merupakan mitra strategis yang sangat penting. Karena itu, pemerintah Australia akan terus memperkuat hubungan ekonomi melalui peningkatan investasi, kerja sama bisnis, hingga pengembangan sumber daya manusia.
Dengan pendanaan baru sebesar AUD40 juta, Katalis 2.0 diharapkan mampu melahirkan lebih banyak proyek kolaborasi yang menghubungkan pelaku usaha kedua negara, meningkatkan daya saing industri, memperluas akses pasar, serta menghadirkan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi Indonesia dan Australia.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News