Program PHINLA Wahana Visi Indonesia
Persoalan sampah masih menjadi pekerjaan besar bagi Jakarta. Setiap hari, ribuan ton sampah dari rumah tangga, pasar, hingga kawasan usaha diangkut menuju Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang.
Pada 2025, volume sampah yang dikirim mencapai rata-rata 7.354 ton per hari atau sekitar 2,68 juta ton dalam setahun. Angka tersebut menunjukkan besarnya tekanan terhadap sistem pengelolaan sampah ibu kota sekaligus pentingnya upaya mengurangi timbulan sampah sejak dari sumbernya.
Salah satu pendekatan yang mulai menunjukkan hasil adalah pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Melalui Program PHINLA (Philippines, Indonesia, Sri Lanka), Wahana Visi Indonesia bersama Divers Clean Action, dengan dukungan Pemerintah Jerman melalui Federal Ministry for Economic Cooperation and Development (BMZ), mengajak warga memilah sampah dari rumah, mengelolanya melalui bank sampah, dan memanfaatkannya sebagai sumber pendapatan keluarga.
Sejak berjalan pada 2024, program ini telah menjangkau empat kelurahan di Jakarta Utara, dua kelurahan di Jakarta Timur, serta enam pulau di Kepulauan Seribu. Pendekatan yang digunakan menghubungkan pengelolaan lingkungan dengan penguatan ekonomi keluarga melalui penerapan ekonomi sirkular.
Mengurangi Sampah, Menambah Penghasilan
Hingga kini, Program PHINLA berhasil mengumpulkan lebih dari 283 ton sampah yang berhasil dialihkan dari tempat pembuangan akhir. Sebanyak 2.876 warga aktif terlibat dalam kegiatan tersebut, sementara 24 bank sampah yang didampingi mencatatkan pendapatan lebih dari Rp100 juta.
Program ini mengajarkan masyarakat untuk memilah sampah sejak dari rumah, kemudian menyetorkannya ke bank sampah sebagai tabungan. Hasil penjualan sampah kemudian dapat dimanfaatkan untuk memenuhi berbagai kebutuhan keluarga. Sebagai pelengkap, PHINLA juga membentuk 44 kelompok simpan pinjam berbasis komunitas dan melatih 80 kader advokasi di 11 desa dan kelurahan agar praktik pengelolaan sampah dapat terus berkembang.
Penguatan ekonomi keluarga juga dilakukan melalui integrasi dengan ASKA (Asosiasi Simpan Pinjam untuk Kesejahteraan Anak). Melalui skema tersebut, keluarga didorong mengelola pendapatan dari hasil penjualan sampah agar dapat membantu memenuhi kebutuhan anak, termasuk biaya pendidikan.
Lingkungan Bersih untuk Tumbuh Kembang Anak
Wahana Visi Indonesia menempatkan pengelolaan sampah sebagai bagian dari upaya menciptakan lingkungan yang sehat bagi anak-anak. Lingkungan yang bersih dinilai berpengaruh terhadap kesehatan, keamanan, dan kualitas hidup mereka.
“Setiap anak berhak tumbuh dalam lingkungan yang aman, sehat, dan mendukung tumbuh kembang mereka secara optimal. Kami melihat banyak anak-anak di Jakarta yang masih hidup dalam kondisi yang kurang sehat karena tingginya produksi sampah di lingkungannya, rendahnya pengelolaan sampah dari sumber, ditambah lagi masuk daerah padat penduduk. Karena itu, Wahana Visi Indonesia terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Pemerintah Jerman, untuk mendorong pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan melalui partisipasi masyarakat. Kami melihat bahwa pengelolaan sampah yang baik tidak hanya menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan mengurangi risiko banjir, tetapi juga membuka peluang penghasilan serta memberikan manfaat nyata bagi masa depan anak-anak,” ujar Program Director Wahana Visi Indonesia, Eben Ezer Sembiring.
Pemerintah Jerman memandang keterlibatan masyarakat sebagai faktor penting dalam keberlanjutan program. Counsellor for Development Cooperation Kedutaan Besar Jerman di Jakarta, Angelika Stauder, mengatakan perubahan yang sudah terlihat perlu dijaga melalui kerja sama berbagai pihak.
“Melihat masyarakat secara aktif mengumpulkan dan memilah sampahnya sendiri merupakan perkembangan yang sangat positif. Namun, keberlanjutan pengelolaan sampah membutuhkan kolaborasi jangka panjang antara masyarakat, bank sampah, pemerintah daerah, dan sektor swasta. Dukungan yang berkelanjutan inilah yang akan memastikan dampak program terus dirasakan oleh masyarakat,” ujarnya.
Perubahan Terlihat dari Tingkat Komunitas
Manfaat program juga dirasakan langsung oleh warga. Nurpiah, Ketua Bank Sampah Jakarta Utara, mengaku kondisi lingkungannya mengalami perubahan setelah masyarakat mulai terbiasa memilah sampah.
“Sebelum hadirnya program PHINLA, lingkungan saya sering sekali terkena banjir saat musim hujan. Program PHINLA mengajarkan kami untuk memahami nilai lingkungan dan nilai ekonomi sampah. PHINLA juga mengajarkan untuk memilah sampah, menjualnya, serta menabung dari hasil penjualannya. Lingkungan saya jadi tidak pernah banjir lagi, sementara penghasilan tambahan tersebut membantu kebutuhan keluarga dan pendidikan anak,” katanya.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa perubahan dapat dimulai dari kebiasaan sehari-hari. Ketika sampah dipilah sejak dari rumah dan dikelola secara kolektif melalui bank sampah, jumlah limbah yang berakhir di tempat pembuangan dapat berkurang.
Pada saat yang sama, warga memperoleh tambahan pendapatan, lingkungan menjadi lebih bersih, dan keluarga memiliki sumber daya tambahan untuk mendukung kebutuhan anak-anak. Program PHINLA memperlihatkan bahwa pengelolaan sampah berbasis komunitas dapat menghasilkan manfaat yang dirasakan langsung oleh masyarakat sekaligus mendukung pengelolaan lingkungan perkotaan yang lebih berkelanjutan.
Baca jugaAnak Dampingan Wahana Visi Indonesia Bawa Isu kekerasan ke Forum Global
Baca juga1000 Buku Cerita, Kolaborasi Wahana Visi Indonesia dan Universitas untuk Dukung Literasi Anak Papua
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News