Begini. Saya nggak mau basa-basi, nggak mau bertele-tele, dan nggak mau kebanyakan bacot. Soalnya saya masih emosi banget gara-gara kawan yang mabuk. Gambaran kejadiannya sudah saya tulis di judul. Kejadiannya juga baru Jumat kemarin.
Disclaimer dulu, saya nggak ada masalah dengan peminum atau pemabuk. Toh, saya dulu juga pernah jadi peminum (tapi sekarang sudah sober nyaris 3 tahun). Saya bahkan berteman dengan teman-teman saya yang pemabuk. Tapi mereka semua asyik-asyik, nggak ada yang kakehan cocot. Tapi ada satu teman, berinisial L, yang jadi pengecualian. Keberadaannya selalu bikin saya nggak nyaman, mau itu ketika dia dalam keadaan sadar atau nggak.
Mabuk tapi banyak tingkah
Jumat sore, saya sudah berniat untuk nongkrong di kedai kopi milik teman saya. Ini adalah kedai yang sering saya datangi, mungkin hampir setiap hari. Sesampainya di sana, sudah terlihat teman saya yang berinisial L ini duduk di meja nongkrong kami. Sebelum saya sampai di meja, saya sudah mbatin, “Dia pasti mabuk.”
Benar saja, si L ini sedang minum dengan teman-teman saya yang lain. Dia sudah dalam kondisi setengah sadar. Mabuk. Dia ini kalau sudah mabuk, ya makin menjengkelkan dan makin kakehan cocot. Saya paling nggak bisa dengan orang-orang yang nggak asyik kayak gitu. Makanya, sore kemarin saya kebanyakan diam, dan nggak mau menggubris apa pun yang keluar dari cocot-nya.
Tapi lama kelamaan, si L ini makin kakehan cocot. Sudah mabuk, kakehan cocot. Tingkahnya makin menjengkelkan, makin nggak terkontrol. Omongannya nggelambyar, bahkan di beberapa momen suka memotong omongan atau nimbrung dengan omongan yang nggak jelas, nggak nyambung. Beberapa kali saya sudah menyuruhnya diam. Dia memang langsung diam, tapi sebentar saja, lalu nimbrung lagi.
Bayangkan saja, saya lagi ngobrol soal satu hal dengan teman saya yang punya kedai kopi. Topik obrolan ini cuma kami saja yang paham. Lalu tiba-tiba si L yang nggak paham dengan obrolan kami, nimbrung dengan obrolan lain yang nggak ada kaitannya. Saya coba mengimbangi (dengan sedikit tendensi mematikan obrolannya), tapi obrolannya makin nggak karuan. Nada bicaranya juga makin terdengar nggak enak.
Di momen itu, darah di kepala saya rasanya nyaris mendidih. Hampir saja saya lezat Teman-teman saya lainnya yang ada di sana sudah paham perasaan saya saat itu. Untungnya saya bisa menahan diri. Saya memilih untuk sabar dan diam. Itu pilihan terbaik. Sebab kalau sampai saya muntab, bakal makin nggak karuan nanti situasinya. Orang mabuk ditanggap, soyo ndadi malah.
Terpaksa pulang
Sore itu, yang merasa sebel dan terganggu dengan kelakuan si L bukan hanya saya, kok. Beberapa teman lain yang ikutan nongkrong juga merasa si L ini udah agak kelewatan. Terlalu mabuk, lah. Tapi, yang kelihatan banget emosinya dan kentara banget terganggunya kayaknya ya cuma saya.
Selang 1 jam, si L ini akhirnya pulang (agak dipaksa pulang sama teman-teman yang lain) karena makin lama kelakuannya makin nggak karuan. Dia dikawal oleh teman yang lain. Setelah si L ini pulang, saya sudah agak lega dan nggak emosi. Suasana tongkrongan juga langsung jadi menyenangkan, soalnya sudah nggak ada orang yang menyebalkan dan bikin saya emosi di tongkrongan.
Itulah momen yang bikin saya emosi, bahkan nyaris muntab. Sekali lagi saya tekankan, saya itu nggak ada masalah dengan peminum atau pemabuk. Asal kalian asyik, saya juga bisa asyik. Yang penting kalau nongkrong dan mabuk, ya jangan kakehan cocot, dan jangan sampai ganggu tongkrongan. Kelakuannya dijaga, dikontrol!
Sebenarnya saya nggak pengin nulis soal kejadian ini. Saya punya kejadian lain yang juga bikin saya emosi. Tapi berhubung ini adalah kejadian yang paling baru dan lebih bikin emosi, ya nulis yang ini saja. Mumpung emosinya masih ada, hehehe.
Penulis: Iqbal AR
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Takut Mabuk di Tongkrongan Itu Memang Hal yang Wajar
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini dari.
Terakhir diperbarui pada 20 Juli 2026 oleh