Saat masih sekolah atau kuliahliburan yang ideal itu identik dengan perjalanan jauh. Entah pergi ke luar kota bersama keluarga atau menjelajahi alam bersama teman-teman. Pokoknya, liburan kurang afdal kalau tidak pergi jauh.
Akan tetapi, roda kehidupan terus berputar. Setelah dewasa dan masuk dunia kerja dengan tanggung jawab yang seolah-olah nggak ada habisnya, definisi liburan yang menyenangkan perlahan bergeser.
Sekarang, liburan terbaik bukan lagi soal seberapa jauh kita pergi atau seberapa banyak tempat yang kita kunjungi. Liburan terbaik di usia dewasa adalah momen sederhana ketika kita bisa rebahan di kasur tanpa ada satu pun notifikasi pekerjaan yang masuk ke ponsel.
Coba ingat ingat kapan terakhir kali kamu bangun tidur tanpa rasa cemas melihat layar ponsel. Biasanya, mata baru terbuka sedikit saja jempol kita sudah refleks membuka aplikasi pesan instan. Ada pesan dari atasan, ada laporan yang minta direvisi, atau minimal ada obrolan grup kantor yang jalannya cepat sekali. Kepala langsung rasanya berat padahal tubuh baru saja bangun dari tidur.
Liburan dan bisa terlepas sejenak dari pekerjaan adalah kemewahan
Siklus hidup seperti ini yang bikin banyak orang dewasa mengalami kelelahan mental secara diam diam. Kita seperti dikejar kejar oleh kewajiban yang tidak ada hentinya.
Liburan akhir pekan yang seharusnya jadi ajang pemulihan energi malah sering kali cuma berpindah tempat stres. Kita jalan jalan ke luar kota, tapi pikiran tetap tertinggal di meja kantor karena grup obrolan pekerjaan masih saja berdering.
Di titik itulah kita mulai menyadari satu hal penting. Bebas dari gangguan notifikasi adalah kemewahan tertinggi bagi orang dewasa.
Momen ketika bisa mematikan nada dering, menyalakan kipas angin atau pendingin udara, lalu meluruskan punggung di atas kasur tanpa ada rasa bersalah itu nikmatnya tiada tara. Tidak perlu dandan rapi, tidak perlu memikirkan pakaian apa yang cocok untuk dipakai keluar, dan tidak perlu pusing memikirkan kemacetan jalanan.
Kamu cuma perlu rebahan, mendengarkan lagu favorit, membaca buku yang sudah lama tertunda, atau bahkan sekadar tidur siang tanpa perlu menyalakan alarm. Rasanya seperti berhasil mencuri waktu sebentar dari dunia yang bergerak terlalu cepat.
Bukan kurang produktif
Banyak orang bilang gaya liburan seperti ini terkesan membosankan atau tidak produktif. Namun, bagi orang dewasa yang setiap harinya harus menguras pikiran, memimpin rapat, atau menangani berbagai masalah di tempat kerja, rebahan tanpa gangguan adalah bentuk penyembuhan jiwa yang paling masuk akal.
Tubuh dan pikiran kita ini punya batas kapasitas. Kalau terus dipaksa bergerak dan menerima informasi tanpa henti, lama lama mesin dalam diri kita bisa rusak. Rebahan seharian di rumah tanpa memegang ponsel bukan tanda bahwa kita malas, melainkan bentuk pertahanan diri agar kita tidak kehilangan kewarasan.
Jadi kalau akhir pekan ini kamu tidak punya rencana pergi ke mana mana dan cuma ingin menghabiskan waktu di kamar sambil mematikan notifikasi ponseltidak perlu merasa ketinggalan dari orang lain. Nikmati saja momen itu sepenuh hati. Karena pada akhirnya, liburan paling berharga adalah liburan yang berhasil mengembalikan ketenangan di dalam kepala kita.
Penulis: M Wahyu Agani
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini dari.
Terakhir diperbarui pada 21 Juli 2026 oleh