Publikasi jurnal saat kuliah pascasarjana mengajarkan saya banyak hal.
Saya manusia biasa yang alhamdulillah mendapat kesempatan kuliah pascasarjana S2 dan S3. Tidak pernah terbayang saya bakal menempuh pendidikan hingga S3. Saat menempuh S1 di sebuah PTN di Jawa Timur, saya hanya berpikir untuk segera lulus lalu bekerja.
Nasib berkata lain. Setelah lulus S1 Teknik Material, saya lanjut S2 Teknik Metalurgi dan Material di salah satu PTN di Jawa Barat. Setelahnya, saya menempuh S3 Teknik Mesin di salah satu kampus ternama di Taiwan.
Kaget dengan culture kuliah S2
Sesungguhnya saya senang selama studi S2. Secara SKS memang lebih sedikit dibanding ketika S1, tapi di S2 saya merasa lebih bisa fokus ke bidang tertentu yang saya senangi.
Sebenarnya, secara keilmuan saya tidak perlu banyak penyesuaian. Pembahasan dan bahasanya masih sama. Hanya satu hal yang lumayan bikin deg-degan, penelitian saya untuk tesis mesti ada konferensinya dan diterbitkan di jurnal ilmiah.
Awalnya saya santai saja. Saya belum tahu kalau publikasi jurnal ilmiah harus ditulis dalam bahasa Inggris dan publikasi ke jurnal terindeks Scopus Q2.
Tanpa tahu betapa ribet menerbitkan jurnal ilmiah, saya memulai tesis di semester 3 dengan pola atau ritme mengerjakan skripsi. Saya ditegur pembimbing. Dibilang penulisannya buruk, serta belum mandiri dan teliti dalam mengerjakan eksperimen.
Saat itu 2021, pandemi sedang merajalela. Penerapan proteksi kesehatan begitu ketat di laboratorium, saya jadi tidak bisa luwes melakukan penelitian.
Menjelang sidang, laboratorium tutup karena PPKM darurat. Eksperimen saya belum selesai dan terpaksa memasukan data sekunder dari literatur untuk menutupinya. Kemudian, saya masih bisa melakukan konferensi internasional dengan data seadanya.
Konferensi internasional adalah tantangan lain. Itu pertama kalinya saya berbicara di depan publik menggunakan bahasa Inggris. Rasanya deg-degan, saya latihan mati-matian dengan teman S2 yang lain.
Setelah itu saya sidang dan untung saja lulus. Namun, perjalanan studi S2 tidak hanya sampai di situ. Walau sudah lulus dan mengantongi ijazah, saya tetap harus melanjutkan eksperimen yang belum selesai karena penelitian itu harus dipublikasikan. Publikasi murni harus dari eksperimen.
Pengalaman publikasi jurnal saat S2
Akhirnya, eksperimen penelitian saya selesai. Berdasar eksperimen itu, saya langsung menyusun tulisan untuk publikasi jurnal terindeks Scopus Q2.
Ini bagian paling berat. Saya masih awam dan pembimbing sudah lepas tangan, berharap saya belajar sendiri. Ketika selesai menulis dan menyerahkan manuskrip ke pembimbing, tulisan saya hanya dapat sedikit komentar, tapi tajam.
Sebenarnya bisa saja saya tidak publikasi jurnal, tapi saya harus mengembalikan dana hibah penelitian yang mahal itu. Uang dari mana coba? Maka satu-satunya pilihan saya adalah bertahan dan menerbitkan penelitian.
Dua kali tulisan saya ditolak penerbit yang terindeks Scopus. Pembimbing mengkritik saya lagi. Saya hampir menyerah. Akhirnya saya menggunakan jasa proofreader agar tulisan bisa segera tembus. Alhamdulillah, akhirnya saat percobaan ketiga berhasil diterima meskipun saat diterima indeks jurnal saya turun menjadi Q3.
Punya bekal pengalaman publikasi jurnal saat S3
Saya kuliah S3 di Teknik Mesin di Taiwan. Untuk lulus, saya harus punya dua publikasi Q1 standar web of science (WOS). Bagi saya, standar ini lebih sulit dibanding Scopus. Untung saja saya sudah punya pengalaman publikasi jurnal saat S2, saya jadi lebih siap.
Sebelum dan saat berjalannya penelitian, saya jadi lebih banyak membaca penelitian yang terindeks Q1. Saya pelajari topik-topiknya, penyajian konten, dan penyampaian dalam bahasa Inggris.
Alhamdulillah, publikasi pertama saya di Q1 diterima dan terbit. Perjalanan berlanjut di artikel publikasi ilmiah yang kedua. Ini lebih menantang karena saya harus ganti judul sebanyak dua kali. Judul ke-3 baru bisa tembus. Kemudian, akhirnya dengan dua publikasi Q1 saya bisa lulus S3.
Jujur, pengalaman menerbitkan publikasi jurnal selama pascasarjana mengajarkan banyak sekali hal. Tidak hanya mengasah ilmu yang selama ini saya dalami dan pelajari, pengalaman ini juga mengasah saya jadi pribadi lebih tangguh.
Poin ke-2 benar-benar saya rasakan. Bagaimana untuk tidak menyerah setelah ditolak berkali-kali bukanlah hal yang mudah. Selain itu, saya jadi lebih tekun dan teliti dalam megerjakan segala sesuatu.
Tidak lupa, saya juga belajar untuk tetap berintegritas. Menunggu dalam ketidakpastian benar-benar menggoncang iman untuk melakukan segala cara sekalipun menyalahi etika penelitian. Untung saja saya tidak tergoda.
Penulis: Yudhistira Adityawardhana
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Publikasi Artikel: Saya yang Begadang, Dosen yang Dapat Nama.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini dari.
Terakhir diperbarui pada 29 Juli 2026 oleh