1. News
  2. Berita
  3. Nusantara Bertutur, Cerita Bero

Nusantara Bertutur, Cerita Bero

nusantara-bertutur,-cerita-bero
Nusantara Bertutur, Cerita Bero

Matahari baru saja terbangun di langit Kalimantan. Di salah satu dahan pohon meranti, seekor anak orangutan bernama Bero sedang asyik berayun.

Bero tidak sendirian. Di dekatnya, Ibu Bero sedang sibuk memilih pucuk daun muda dan buah-buahan hutan yang ranum untuk sarapan mereka.

“Bero, jangan berayun terlalu jauh,” ujar Ibu Bero, “Hutan di sebelah sana sudah berbeda. Kita harus tetap berada di dalam rumah hijau kita.”

Bero berhenti berayun. Ia memandangi batas hutan. Di seberang sana, pohon-pohon besar tempatnya biasa bermain dulu sudah tidak ada, berganti menjadi lahan terbuka yang gersang. Bero ingat, beberapa bulan lalu, suara bising mesin-mesin raksasa sempat membuat kawanan hewan ketakutan.

“Ibu, kenapa rumah kita mengecil?” tanya Bero dengan mata bulatnya yang polos. “Apakah pohon-pohon itu juga bisa berpindah tempat seperti kita?”

Ibu membelai kepala Bero dengan lembut, tatapannya menyiratkan rasa cemas yang disembunyikan. “Pohon-pohon itu tidak berpindah, Nak. Mereka ditebang. Tapi, jangan takut, di tempat kita berdiri sekarang, ada banyak ‘Sahabat Hijau’ yang sedang menjaga kita.”

“Sahabat Hijau? Siapa mereka, Ibu?” Bero penasaran.

“Merekalah yang menjaga akar-akar pohon di sini tetap kuat, menanam kembali bibit-bibit baru, dan memastikan tidak ada api yang membakar rumah kita,” jelas Ibu.

“Manusia? Bukankah manusia itu jahat?”

“Tidak semuanya jahat, Nak. Manusia para relawan itu sangat baik. Karena jasa merekalah kita masih bisa bebas bergerak ke mana-mana.”

Belum sempat Bero bertanya lebih lanjut, terdengar suara kepakan sayap yang ramai. “Plak! Plak! Plak!”

Sepasang burung engang dengan paruh besar hinggap di dahan atas. Tak lama kemudian, muncul beberapa ekor bekantan dengan hidung panjang mereka yang unik, melompat dengan riang.

“Lihatlah,” bisik Ibu. “Bukan hanya kita yang tinggal di sini. Paman Enggang, sepupu Bekantan, dan Owa Kalimantan semuanya berkumpul di hutan ini. Tempat ini adalah benteng terakhir kita.”

Tiba-tiba, dari kejauhan di jalur patroli bawah hutan, Bero melihat dua orang berjalan kaki. Mereka membawa teropong, buku catatan, dan beberapa tas berisi bibit pohon kecil. Mereka memandang ke arah Bero dan Ibunya, lalu tersenyum tanpa mengganggu.

“Apakah mereka Sahabat Hijau yang Ibu ceritakan?” tanya Bero berbisik.

“Benar,” jawab Ibu.

Bero kini tahu, meskipun sebagian hutan telah hilang, masih ada tangan-tangan baik yang peduli. Hutan tempat tinggalnya kini seperti sebuah jantung baru yang berdenyut, memberi kehidupan tidak hanya untuk dirinya, tetapi juga seluruh keanekaragaman hayati di dalamnya.*

logo baru nusantara bertutur

Oleh Tim Nusantara Bertutur
Penulis: Acep Yonny
Pendongeng: Paman Gery (Instagram: @paman_gery)
Ilustrasi: Regina Primalita

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Nusantara Bertutur, Cerita Bero
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us