1. News
  2. Berita
  3. Berlaga dengan Diri Sendiri

Berlaga dengan Diri Sendiri

berlaga-dengan-diri-sendiri
Berlaga dengan Diri Sendiri

Pertengahan Juli lalu, timnas Norwegia pulang dari pesta bola dunia. Kalah 1-2 dari Inggris di perempat final lewat perpanjangan waktu. Namun, lebih dari 100 ribu orang tetap tumpah ke jalanan Oslo menyambut mereka layaknya pahlawan. Mereka diarak dengan bus terbuka, dijamu raja, diiringi genderang Viking Row yang menjadi ciri khas dukungan sepanjang turnamen.

Kita tumbuh dengan pemahaman bahwa olahraga itu hanya soal menang atau kalah. Oleh karena itu, wajar kalau kita bertanya, “Mengapa kekalahan ini disambut hangat seolah mereka baru saja mengangkat trofi?” Padahal, di turnamen yang sama, ada tim lain yang pulang dan disambut kemarahan publik.

Sambutan itu jadi masuk akal kalau kita ingat perjalanan mereka. Tim yang 28 tahun absen dari pesta bola dunia ini menyingkirkan Brasil di babak 16 besar lewat dua gol Erling Haaland di menit akhir, lalu bertahan sampai titik penghabisan menghadapi Inggris. Yang dirayakan di Karl Johans Gate adalah perjalanan itu dan sosok yang paling mewakilinya.

Berhasil tidak berarti selesai

Cara Haaland memandang pencapaiannya sudah terlihat jauh sebelum turnamen ini. Pada Maret 2023, saat Manchester City menggilas RB Leipzig 7 gol tanpa balas di Liga Champions, ia mencetak 5 gol dan ditarik keluar setelah 63 menit. Dalam wawancara usai laga, yang keluar bukan kepuasan atas kemenangan telak itu, melainkan daftar hal yang belum selesai.

Ada peluang yang ia lewatkan, ada kaki kiri, kaki kanan, dan sundulan yang menurutnya masih kurang. Haaland bahkan bicara soal cara membantu rekan menemukan posisi yang lebih baik untuk mencetak gol.

Ia pernah bilang, setiap hari memberi kesempatan baru untuk menjadi lebih baik dan itu semata soal mentalitas. Tentu ia punya bakat luar biasa dan klub terbaik. Namun, ukuran yang ia pakai tidak berubah, antara malam ia mencetak lima gol dan malam ia tersingkir di Miami. Ukuran itu, seperti rutinitas latihan, makan, dan tidurnya, sepenuhnya dalam kendalinya.

Ini resep bagi siapa pun yang ingin terus tumbuh, termasuk mereka yang setiap pagi berangkat kerja dengan target dan tenggat yang menumpuk.

Semua bergantung pada taruhannya

Dalam berbagai aspek kehidupan, hampir selalu ada orang lain di sebelah kita, target yang harus dicapai, dan kompetensi yang perlu dikuasai. Rekan yang mengerjakan proyek serupa, yang namanya disebut lebih dulu di rapat, yang kariernya bergerak maju, sementara kita merasa jalan di tempat.

Perbandingan seperti itu sulit dihindari dan tidak selalu buruk. Ia bisa menjadi sumber informasi. Dengan melihat apa yang sudah dilakukan orang lain, kita menjadi tahu apa yang mungkin. Kehadiran pesaing bahkan dapat mendorong kita menaikkan performa. Namun, perbandingan yang sama juga bisa berubah menjadi tekanan, kecemasan, dan ketakutan bahwa kita tidak pernah cukup dibanding orang lain.

Yang menentukan bukan perbandingannya, melainkan apa yang terasa sedang dipertaruhkan. Pekerjaan kita atau harga diri kita.

Kalau yang dipertaruhkan adalah pekerjaan, yaitu bagaimana menyelesaikan persoalan dengan lebih baik, maka perbandingan menaikkan standar. Kalau yang dipertaruhkan adalah kelayakan orangnya, yaitu siapa yang pantas ada di ruangan ini, perbandingan berubah menjadi ujian yang harus terus dimenangkan.

Sebuah eksperimen dalam buku Top Dog karya Po Bronson dan Ashley Merryman menunjukkan hal itu. Sebanyak 124 mahasiswa Princeton dibagi dua. Kelompok pertama diingatkan betapa sedikit teman SMA mereka yang lolos ke Princeton, lalu diberi tes berlabel ujian kemampuan intelektual. Kelompok kedua mengerjakan tes yang sama, hanya dengan label tantangan. Padahal, tidak ada kompetisi apa pun di antara mereka, tidak ada lawan maupun peringkat.

Namun, kelompok pertama hanya menjawab benar 72 persen, sedangkan kelompok kedua 90 persen. Yang membedakan bukan soalnya, melainkan apakah mereka merasa dirinya sendiri yang sedang diuji atau sekadar mengerjakan sebuah tugas.

Di tempat kerja pun begitu. Rekan yang diam-diam mencari celah kesalahan kita mungkin bukan orang jahat. Ia barangkali menyimpulkan bahwa yang dinilai adalah dirinya, bukan pekerjaannya, sehingga menghalalkan cara untuk memenangkan persaingan. Inilah yang disebut winning at all costs, lawan dari winning well, yaitu tetap ingin menang, tetapi dengan cara yang bisa kita pertanggungjawabkan.

Sebagian orang memang lebih rentan merasa dirinya yang dinilai. Namun, tak jarang perasaan itu justru ditumbuhkan oleh lingkungannya. Entah lewat promosi yang tidak jelas dasarnya ataupun lewat kebiasaan membanding-bandingkan orang secara terbuka.

Ada menang yang tidak tercatat

Kalau begitu, apa ukuran keberhasilan yang masuk akal? Pendekatan PACT (purposeful, actionable, continuous, trackable) menaruh ukuran bukan pada hasil akhir, melainkan pada tindakan bermakna yang bisa kita ulang dan kendalikan sendiri. Seorang manajer yang pernah kami dampingi pelan-pelan mengubah ukuran yang ia pakai ke arah ini.

Dulu, sebagai orang yang sangat kompetitif dan menuntut, ia menetapkan ukuran keberhasilannya pada upaya mengungguli orang lain, divisi lain, dan organisasi lain. Anggota timnya tergopoh-gopoh mengikuti pecutannya dan tak sedikit yang akhirnya habis tenaga atau memilih pergi.

Yang berubah bukan kepribadiannya, melainkan perilaku dan apa yang ia kejar. Ia mulai melihat dari sudut pandang orang lain dan mendorong tim dengan cara yang lebih suportif. Ia menemukan bahwa perlombaan yang memuaskan bukan mengalahkan yang lain, melainkan menjadi versi dirinya yang lebih baik.

Ia mungkin belum seluwes mereka yang secara kepribadian peka terhadap kebutuhan orang lain. Perjalanannya masih panjang. Namun, dalam memimpin tim, ia jauh melampaui dirinya yang dulu.

Versi kita pada masa depan akan selalu selangkah lebih maju dan pengejaran itu tidak pernah selesai, tetapi justru di situ maknanya. Orang-orang di Oslo bersorak bukan untuk piala, melainkan untuk perjalanan yang mereka saksikan. Begitu pula pertanyaan yang layak kita bawa pulang. Tidak semata siapa yang kita kalahkan, tetapi juga apa yang sebenarnya kita pertaruhkan tiap kali membandingkan diri dengan orang lain. Dan, sejauh mana kita sudah melangkah dibanding versi kita yang kemarin.

Baca juga: Berharganya Suatu Keputusan

EXPERD

HR CONSULTANT/KONSULTAN SDM

Eileen Rachman & Linawaty Mustopoh

Character Building Assessment & Training EXPERD

EXPERD (EXecutive PERformance Development) merupakan konsultan pengembangan sumber daya manusia (SDM) terkemuka di Indonesia.

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Berlaga dengan Diri Sendiri
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us