Itulah warisan yang ditinggalkan Piala Presiden 2026. Sebuah pengingat bahwa pada akhirnya sepak bola Indonesia akan selalu lebih besar daripada sekadar menang atau kalah. Selamat untuk kemenangan sepak bola Indonesia
Surabaya (ANTARA) – Peluit panjang mengakhiri adu penalti di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Kamis (6/8) malam. Para pemain Persebaya Surabaya berhamburan ke tengah lapangan merayakan keberhasilan menjuarai Piala Presiden 2026.
Tangis haru pecah di kubu “Bajul Ijo” setelah Gledson Paixsao Da Silva memastikan kemenangan 6-5 dalam adu penalti, seusai kedua tim bermain imbang 1-1 selama 120 menit.
Namun, di tengah luapan emosi itu, ada pemandangan lain yang tak kalah menarik. Kiper Persebaya Reza Arya bersama Ernando Ari lebih dulu berjalan menghampiri pemain-pemain Persib Bandung. Satu per satu mereka menyalami lawan yang baru saja dikalahkan.
Tak lama kemudian, pelatih, ofisial, hingga pemain kedua tim saling berpelukan dan berbincang. Sebagian masih menyeka air mata, sebagian lain tersenyum. Malam itu, tidak ada lagi sekat antara pemenang dan yang kalah. Barangkali, itulah penutup yang paling tepat bagi perjalanan Piala Presiden 2026.
Turnamen yang mengusung slogan “Bertanding untuk Juara, Bersatu untuk Indonesia” tidak hanya menghadirkan persaingan antarklub, tetapi juga memperlihatkan bagaimana sportivitas tetap hidup di tengah tensi pertandingan yang tinggi.
Menjaga permainan
Perjalanan Piala Presiden 2026 seolah melintasi jejak perjuangan bangsa. Fase grup dimainkan di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung, yang mengambil nama julukan Pahlawan Nasional Otto Iskandardinata.
Sehari setelahnya, turnamen juga dilaksanakan di Stadion Gelora Bung Tomo di Surabaya, yang mengabadikan nama pengobar semangat Pertempuran 10 November 1945.
Puncaknya berlangsung di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, yang mengambil nama seorang pejuang muda Bali yang gugur mempertahankan kemerdekaan pada usia 20 tahun.
Di stadion-stadion yang mengabadikan nama para pejuang itu, sepak bola Indonesia kembali mengingatkan bahwa persaingan tidak harus menghilangkan rasa hormat.
Nilai itu dijaga sejak awal turnamen, salah satunya melalui penggunaan video assistant referee (VAR) secara penuh.
Pada semifinal antara Persib Bandung melawan Persija Jakarta, VAR memastikan pelanggaran handball yang dilakukan Kerim Memija di dalam kotak penalti. Keputusan tersebut mengukuhkan hadiah penalti bagi Persib yang sukses dikonversi menjadi gol oleh Balsa Sekulic.
Di semifinal lainnya, teknologi yang sama justru mengoreksi keputusan wasit. Pemain Arema FC, Matheus Blade, semula diganjar kartu merah langsung saat menghadapi Persebaya.
Setelah meninjau tayangan ulang melalui monitor VAR, wasit membatalkan kartu merah dan mengubahnya menjadi kartu kuning.
Satu keputusan dikuatkan, satu keputusan diperbaiki. Keduanya lahir dari tujuan yang sama, memastikan pertandingan berlangsung secara adil.
Semangat serupa kembali terlihat pada perebutan peringkat ketiga antara Persija Jakarta dan Arema FC.
Gol Salim yang membawa Arema FC unggul lebih dulu dipastikan melalui pemeriksaan VAR, sebelum disahkan. Tidak lama berselang, gol Joel Vinicius justru dianulir, setelah tayangan ulang menunjukkan adanya handball dalam proses terciptanya gol.
Editor: Masuki M. Astro
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.