Pasar Senen di masa lalu | COLLECTIE TROPENMUSEUM
Pasar Senen adalah sebuah sebuah pusat perdagangan di Jakarta Pusat. Pasar ini sangat legendaris karena sudah ada sejak abad ke-18.
Dalam sebuah unggahan di akun media sosial milik Pemprov DKI Jakarta, Pasar Senen merupakan pasar tertua di Jakarta. Pasar ini dibangun bersamaan dengan Pasar Tanah Abang di tahun 1733, sangat jauh sebelum Indonesia merdeka.
Lalu, kenapa dinamakan Pasar Senen? Apakah karena pasarnya hanya buka di hari Senin?
Sejarah dan Asal Penamaan Pasar Senen
Kisah pembangunan Pasar Senen dimulai pada Agustus 1733, di mana arsitek kenamaan Belanda kala itu, Yustinus Vinck, membangun sebuah pasar yang oleh masyarakat disebut dengan Vinck Passer.
Pasar ini dulunya memang hanya buka tiap hari Senin. Di era itu, VOC yang masih menguasai Indonesia mengatur setiap pasar di Batavia agar memiliki hari buka yang berbeda. Hal ini bertujuan agar para pedagang dari berbagai daerah punya cukup waktu untuk membawa dagangan mereka ke pusat kota.
Pasar Senen bukan sekadar menjadi pasar tua dan bersejarah. Pasar ini juga menjadi pasar pertama yang menerapkan sistem jual beli dengan menggunakan alat tukar uang.
Merangkum dari situs resmi Smart City Jakarta yang dikelola Pemprov DKI Jakarta, dulu banyak sekali pedagang-pedagang asal Tiongkok yang berdagang di sana. Orang Belanda menjulukinya “Passer Snees” yang berarti pasarnya orang Tionghoa.
Nah, warga lokal mengingat bahwa pasar ini buka di hari Senin. Mereka juga mengadaptasi kata Snees dari bahasa Belanda menjadi kata yang lebih “lokal”. Dari sinilah nama Pasar Senen lahir.
Namun, aktivitas pasar yang makin ramai membuat pemerintah Belanda melonggarkan aturan. Walhasil, per tahun 1766, pasar ini tidak hanya dibuka di hari Senin saja.
Perubahan tersebut membuat kawasan di sekitar pasar ikut berkembang. Bahkan, saking ramainya, sampai ada permukiman yang terbentuk dan dikenal dengan nama Kampung Senen.
Tempat Berkumpulnya Intelek dan Seniman Muda
Menariknya, Pasar Senen dan sekitarnya menjadi saksi bisu sebagai tempat berkumpulnya intelektual muda dan pejuang dari Stovia di era prakemerdekaan atau sekitar tahun 1930-an. Sejumlah tokoh kenamaan seperti Soekarno, Adam Malik, dan lainnya kerap menggelar pertemuan di kawasan ini.
Tak hanya itu, di era penjajahan Jepang sampai tahun 1950-an, kawasan Pasar Senen juga menjadi tempat berkumpulnya banyak seniman, seperti Ajip Rosidi dan lainnya. Mereka sampai dijuluki Seniman Senen.
Seiring berjalannya waktu, kawasan pasar terus mengalami perbaikan. Area sekitarnya tumbuh menjadi pusat ekonomi dan hiburan.
Di era Gubernur Ali Sadikin, ia mencanangkan program pembangunan yang dinamakan “Proyek Senen”, di mana saat itu dibangun fasilitas gedung parkir melingkar. Uniknya, lokasi itu menjadi gedung parkir pertama yang ada di Jakarta.
Saat ini, Pasar Senen dikenal sebagai salah satu pusat grosir murah yang menjajakan berbagai macam hal, mulai dari panganan tradisional, pakaian baru dan bekas (thrifting), kain dan tekstil, perlengkapan sekolah serta kantor, dan sebagainya.
Kawan GNFI, sebetulnya bukan cuma Pasar Senen saja yang penamaannya menggunakan hari. Disadur dari ANTARA, nyatanya di Jakarta memang ada berbagai pasar yang betul-betul dinamakan dengan nama hari, terhitung dari hari Senin sampai Minggu.
Namun, beberapa pasar tersebut ada yang sudah berganti nama karena berbagai alasan, seperti Pasar Selasa yang berubah menjadi Pasar Koja, Pasar Rabu menjadi Pasar Induk Kramat Jati, Pasar Kamis menjadi Pasar Jatinegara, Pasar Jumat menjadi Pasar Lebak Bulus, dan Pasar Sabtu yang berubah menjadi Tanah Abang.
Ada yang pernah mengunjungi dan berbelanja langsung di Pasar Senen?
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News