“Lagu itu kontemplatif banget. Liriknya bikin merenung, sebenarnya manusia itu menjalani hidup seperti apa.”
Begitulah jawaban pertama yang saya terima dari praktisi pemulihan batin, Adjie Santosoputro ketika saya bertanya apakah ada satu lagu yang diam-diam mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan. Lagu yang dimaksud adalah “Lagu Pejalan” milik Sisir Tanah, sebuah lagu yang menurutnya mengajak pendengarnya berkontemplasi tentang manusia dan kehidupan.
Saya menemui Adjie di Pameran Foto & Selebrasi Kreatif Sore di Kota Orang karya Yusril Fahriza pada Juli 2026. Sore itu, ia bersama Kunto Aji mengisi sesi bincang bertajuk “Cerita Sore Perantau” yang dipandu langsung oleh Yusril. Sesuai temanya, ruang tersebut menjadi tempat para perantau berbagi kisah tentang kerinduan, kehilangan, dan bagaimana mereka bertahan menjalani kehidupan jauh dari rumah. Penampilan akustik Kunto Aji menjadi penutup acara. Ia membawakan sejumlah lagu termasuk singel “bERANI”, yang memeluk semua tubuh yang hadir.
Menariknya, saya pertama kali tau Adjie di konser Mantra Mantra Live++ Kunto Aji tahun 2019. Konser yang membawa isu kesehatan mental, hingga keseluruhan pertunjukan lebih menyerupai ruang refleksi daripada sekadar konser musik. Waktu itu saya belum benar-benar memahami mengapa begitu banyak orang larut dalam emosi sepanjang pertunjukan. Baru beberapa tahun kemudian, ketika hidup membawa pengalaman yang berbeda, saya mulai mengerti mengapa malam itu begitu membekas bagi banyak orang.
Dengan isi kepala yang penuh dan hati yang kosong, saya yang memang berniat menemui dipertemukan teman untuk mewawancarai Adjie di Sore di Kota Orang dan memulai percakapan dari sesuatu yang paling dekat dengan Pophariini, yaitu musik.
Bagi Adjie, musik bukan sesuatu yang baru hadir ketika ia dewasa. Musik sudah menemaninya sejak kecil, bahkan di masa-masa yang tidak mudah. Ia tumbuh bersama seorang ibu yang menjadi single mom, sementara kakaknya sering memutar lagu-lagu Scorpions dan Bon Jovi di rumah.
“Terutama di masa-masa sendirian saya, masa-masa kesepian saya, saya ditemenin musik. SD akhir, hampir lulus SD, terus SMP saya ngeband, SMA saya ngeband, sehingga ya sejak itu saya memang sampai sekarang saya senang musik.”
Percakapan yang awalnya dimulai dari sebuah lagu kemudian mengalir ke pembahasan yang jauh lebih dalam. Tentang seni, healing, luka, kehilangan, hingga bagaimana musik bisa menjadi teman yang menemani seseorang melewati fase-fase paling sunyi dalam hidupnya.
Simak langsung berikut ini.
Bagaimana cara membedakan antara seseorang yang benar-benar sedang memulihkan batin dengan seseorang yang sebenarnya hanya sedang mengalihkan rasa sakit?
Healing atau escaping itu dua hal yang berbeda. Sayangnya sekarang batas di antara keduanya sering kali kabur. Orang sebenarnya sedang melakukan escaping, tetapi menganggap dirinya sedang healing.
Yang membedakan adalah healing itu nggak nyaman. Jadi kalau sesuatu yang kamu anggap sebagai healing justru terasa nyaman terus, bisa jadi itu hanya escaping. Kalau kita bicara tentang luka fisik, misalnya lutut terluka lalu diberi obat, tentu terasa perih. Demikian juga dengan luka mental. Proses healing selalu mengharuskan kita berhadapan dengan luka itu. Kita mesti menghadapi dan menemui luka tersebut.
Reaksi alami manusia adalah menghindari, menekan, memendam (suppress), atau melarikan diri dari rasa sakit. Karena itu proses healing hampir selalu terasa nggak nyaman. Kalau kamu merasa nyaman dan gembira sepanjang proses itu, barangkali yang sedang terjadi justru escaping.
Mengapa manusia cenderung baru benar-benar mendengarkan diri sendiri setelah mengalami kehilangan, entah kehilangan pasangan, keluarga, pekerjaan, atau mimpi? Apakah memang luka sering kali menjadi pintu menuju kesadaran?
Salah satunya memang melalui luka. Nggak selalu, tapi salah satunya melalui luka.
Ada tiga pintu yang membuat orang menengok ke dalam dirinya sendiri. The Way of Knowledge, pengetahuan. The Way of Love, cinta. Dan yang ketiga, yang mungkin cukup banyak dialami, The Way of Suffering, yaitu luka.
Kenapa begitu? Karena kita sedang bicara tentang ego atau self-concept. Setiap orang lahir, tumbuh, lalu membangun identitas. “Aku adalah ini, aku adalah itu, pekerjaanku ini, gelarku ini, statusku ini.” Padahal semua itu hanyalah lapisan luar diri kita.
Luka, kehilangan, perpisahan, dan kekecewaan biasanya mengenai ego tersebut. Misalnya aku memiliki sepatu. Ketika sepatu itu hilang, aku mulai bertanya, apakah aku hanya sebatas pemilik sepatu? Ternyata tidak. Meskipun status sebagai pemilik sepatu itu hilang, diriku tetap ada. The Way of Suffering sering kali membuat kita menyadari bahwa ternyata diri kita nggak sebatas identitas yang selama ini kita miliki.
Musik sering hadir dalam dua momen paling emosional dalam hidup, ketika kita jatuh cinta dan patah hati. Mengapa lagu begitu mudah menjadi tempat kita menyimpan kenangan?
Karena musik memiliki spektrum yang sangat luas dalam mengomunikasikan sesuatu. Liriknya juga nggak kaku. Tafsirnya nggak hanya satu, tetapi bisa dimaknai dengan cara yang berbeda oleh setiap orang. Justru karena sifatnya yang multitafsir, banyak orang merasa lagu tertentu begitu relate dengan pengalaman hidupnya.
Orang lain bisa saja mendengarkan lagu yang sama dan memiliki tafsir yang berbeda. Itulah kekuatan musik. Selain itu, manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan relasi dan teman. Ketika mendengarkan lagu yang terasa dekat dengan pengalaman kita, musik seperti menjadi teman yang hadir di saat kita membutuhkannya.
Ada lagu yang membuat seseorang merasa dipeluk, tetapi ada juga lagu yang justru membuat luka lama kembali terasa hidup. Dari sudut pandang pemulihan batin, apakah lagu memiliki kekuatan menyembuhkan, atau sebenarnya lagu hanya membuka pintu menuju emosi yang selama ini belum selesai?
Ada luka yang memang bisa disembuhkan hanya dengan ditemui. Ketika sebuah lagu membuat kita kembali mengunjungi luka atau kesedihan itu, untuk luka yang mungkin tidak terlalu berat, emosi tersebut bisa rilis dengan sendirinya.
Namun, tidak menutup kenyataan bahwa ada luka-luka yang jauh lebih dalam. Dalam kondisi seperti itu bisa terjadi retraumatisasi, yaitu trauma yang kembali muncul. Hal seperti ini juga perlu diwaspadai. Selama ini pembahasannya sering berhenti pada anggapan bahwa kita kembali bersedih karena sebuah lagu. Padahal, kalau pembahasannya lebih mendalam, ada sisi lain yang juga perlu diperhatikan.
Kalau seseorang mengalami trauma yang berat, lalu lagu tersebut memicu luka itu kembali tanpa ada bantuan atau langkah lanjutan, kondisi tersebut justru bisa memperdalam luka yang belum selesai.
Banyak orang sengaja mengulang lagu yang sama saat sedang patah hati. Apakah itu bentuk keberanian untuk merasakan emosi secara utuh, atau justru cara halus untuk tetap tinggal di masa lalu? Bagaimana seseorang bisa mengenali batas di antara keduanya?
Kalau mengunjungi kembali kesedihan atau emosi itu membuat kamu tidak bisa menjalankan fungsi sehari-hari, entah itu self-care, makan, mandi, bekerja, atau menjalani aktivitas seperti biasanya, berarti kondisinya sudah tidak sehat.
Yang perlu diperhatikan adalah dampaknya. Apakah setelah mendengarkan lagu itu kamu masih bisa menjalani hidup seperti biasa atau justru tenggelam dalam kesedihan dan kenangan tersebut. Kalau masih bisa berfungsi, it’s okay. Tapi kalau justru membuatmu larut hingga tidak bisa menjalani kehidupan dengan baik, mungkin memang sudah waktunya berhenti mendengarkan lagu itu. Karena ada sisi lain dalam diri yang memang perlu dipulihkan terlebih dahulu.
Semakin bertambah usia, kehilangan terasa datang dalam bentuk yang lebih beragam, hubungan, kesempatan, orang tua, kesehatan, bahkan versi diri yang dulu pernah kita impikan. Mengapa menerima kehilangan di usia dewasa terasa jauh lebih kompleks?
Karena ini kenyataan pahitnya.
Hidup ini adalah perjalanan kehilangan.
Sejak kecil kita diajarkan bahwa hidup adalah perjalanan mendapatkan. Mendapatkan nilai yang baik, pekerjaan, pasangan, kesuksesan, dan banyak hal lainnya. Padahal kalau kita melihat lebih dalam, hidup justru merupakan perjalanan kehilangan dan melepaskan.
Bahkan perjalanan terakhir manusia adalah melepaskan badan kita sendiri. Sehingga memang, ya that’s the fact. Faktanya begitu. Dan menerima kenyataan itu memang selalu nggak mudah.
Kalau musik bisa menjadi teman perjalanan batin, apakah setiap orang sebenarnya memiliki soundtrack yang mencerminkan fase hidupnya? Apa yang bisa kita pelajari dari lagu-lagu yang terus kita putar berulang kali?
Iya.
Setiap orang punya perjalanan hidupnya masing-masing. Kita semua tersusun dari pengalaman masa lalu. Bahkan ada yang masih dihantui oleh kejadian-kejadian di masa lalunya.
Sering kali lagu atau playlist yang terus kita dengarkan mencerminkan pengalaman hidup tersebut. Karena itulah saya percaya setiap orang punya soundtrack-nya sendiri. Bedanya, ada yang menyadarinya dan ada juga yang tidak.
Terakhir, jika suatu hari seseorang datang dan berkata, “Saya ingin sembuh, tetapi saya tidak tahu harus mulai dari mana,” lalu Mas Adjie hanya boleh memberi satu rekomendasi lagu dan satu kalimat, bukan satu nasihat panjang. Apa itu?
“Sementara” dari Float. “Semua hanya sementara, nggak ada yang selamanya.”