Torehannya yang mantap membuat Bilal melangkah lebih jauh
Jakarta (ANTARA) – Bagi atlet bela diri campuran (mixed martial arts/MMA), bertarung di kompetisi Ultimate Fighting Championship (UFC) merupakan mimpi yang sangat sulit diwujudkan.
Agar dapat tampil di sana, mereka harus melewati proses panjang yang memerlukan waktu bertahun-tahun, mulai dari level amatir sampai profesional.
Bukan cuma itu. Syarat lainnya, petarung tersebut harus konsisten menaklukkan lawan-lawannya sampai mendapatkan perhatian dari UFC.
Sejauh ini, baru dua orang Indonesia yang mampu menembus UFC, yakni Jeka Saragih dan, yang terbaru, Bilal Hasan.
Jeka mulai berlatih bela diri sejak sekolah menengah pertama. Sempat menggeluti wushu, Jeka terus konsisten meniti karier dari berstatus amatir hingga menjuarai kelas ringan One Pride MMA.
Pemuda asal Sumatera Utara itu terpilih mengikuti Road to AFC Asia Season 1, di mana dia melaju sampai final. Sayangnya, di partai puncak tersebut, Jeka kalah TKO dari wakil India Anshul Jubli.
Meski demikian, UFC tetap memberikannya kontrak bersama 11 petarung lain dari China, India, Jepang, Korea Selatan, dan Mongolia.
Debut Jeka di UFC pada November 2023 berjalan manis. Dia menumbangkan atlet Brasil Lucas Alexander dengan kemenangan KO dan merebut status performance of the night yang membuatnya meraup bonus 50 ribu dolar AS.
Sayangnya, pada dua pertandingan berikutnya, Jeka kalah dari Westin Wilson (Amerika Serikat) dan Yoo Joo-sang (Korea Selatan). Sekarang, status Jeka di UFC adalah not fighting (tanpa pertarungan).
Jejak Jeka pun diteruskan oleh Bilal Hasan. Bilal mendapatkan kepastian berlaga di UFC pada 11 Agustus 2026 setelah membuat lawannya Mridul Saikia dari India tidak berdaya hanya dalam waktu 45 detik pada Dana White’s Contender Series (DWCS).
Pencapaian gemilang Bilal Hasan menjadi buah dari kerja kerasnya sejak berumur lima tahun, saat dia pertama kali berlatih bela diri taekwondo di Amerika Serikat (AS).
Bilal memang lahir AS, tepatnya di Hawaii, pada 16 Juli 2001, tetapi besar di Mukilteo, Washington. Washington pula yang menjadi tempatnya meniti ilmu di sekolah menengah atas Kamiak High School dan menunaikan pendidikan tinggi di University of Washington Bothell, dengan fokus akademik keperawatan dan kesehatan.
Meski demikian, kedua orang tuanya berasal dari Indonesia, diaspora yang merantau ke Negeri Paman Sam.
ADHD
Pada wawancaranya dengan pemengaruh Indonesia Yoshua Marcellos Muliardo (Cellos) di akun Youtube “Celloszxz” pada 4 Juli 2025, Bilal mengakui dirinya tumbuh dengan attention deficit hyperactivity disorder (ADHD). ADHD adalah gangguan psikologis yang membuat penderitanya hiperaktif dan cenderung kurang fokus.
Anehnya, seperti disampaikannya di hadapan Cellos, Bilal menyebut dirinya justru sangat berkonsentrasi saat berlatih seni bertarung.
Di atas matras, Bilal seakan menjadi orang yang berbeda. Determinasinya sangat tinggi. Itu yang membuatnya sukses meraih prestasi apik di taekwondo level junior.
Pada 2013, Bilal menjadi bagian dari tim yang mendapatkan perunggu di Hanmadang, Korea Selatan. Dia kemudian rutin mendapatkan medali demi medali, di mana medali emas pertamanya tingkat nasional didapatkan di Kejuaraan Nasional AS untuk nomor team demo pada 2014. Tahun yang sama, Bilal Hasan merebut emas di Kejuaraan Internasional Pan American.
Penampilan gemilangnya membuat Bilal Hasan masuk ke tim taekwondo junior Amerika Serikat, tepatnya menjadi anggota kadet Tim B (-41kg), pada 2015.
Bilal Hasan meraih emas nomor tarung turnamen junior Kanada Open (-45kg) 2016, Spanish Open (-48kg) 2017, Pan American Junior Championships 2017 dan US Open (-51kg) 2018.
Kiprah Bilal terus berkilap. Saat umurnya berada di kisaran 20 tahun, dia mendalami bela diri campuran (MMA) dan menerjunkan diri ke beberapa pertarungan amatir.
Laman MMA yang berbasis AS, Sherdog, melaporkan, pertarungan amatir Bilal di MMA adalah menghadapi Aman Amwar pada Legion of Combat 1 dengan kemenangan TKO pada ronde kedua.
Setelah itu, Bilal selalu memenangi empat pertarungan amatirnya dari Aaron Cortez (TKO), Jaiden Bundy (TKO), Xavier Rake (TKO) dan Christian Tariji (menang angka mutlak).
Melangkah jauh
Torehannya yang mantap membuat Bilal melangkah lebih jauh. Pada 2022, dia memutuskan untuk bertarung secara profesional di Cage Fury Fighting Championship (CFFC). CFFC dianggap salah satu kompetisi paling penting di AS untuk membuka jalan menuju UFC.
Bertemu dengan lawan-lawan tangguh di CFFC, Bilal yang bermain di kelas terbang (flyweight) melanjutkan kampanye yang membuat lawan ciut.
Pada laga pertamanya di CFFC kontra Xhelai Lleshi, Bilal menang dengan keputusan terbelah (split decision). Selanjutnya, Bilal tidak terkalahkan di CFFC, memenangi tujuh pertandingan berikutnya di sana dengan TKO, KO atau kuncian (submission).
Bilal bahkan merebut gelar juara kelas ringan CFFC kala menaklukkan Jose Leon pada akhir September 2024. Gelar itu pun terus dalam genggamannya sampai saat ini.
Dengan status sebagai juara kelas ringan CFFC, Bilal terlibat dalam Dana White’s Contender Series (DWCS). DWCS itu semacam wadah yang disediakan Presiden UFC Dana White untuk menyaring petarung berpotensi.
Petarung yang dianggap terbaik di DWCS berhak atas kontrak UFC. Syaratnya tidak harus menang, tetapi wajib menampilkan kemampuan yang impresif supaya memperoleh penilaian positif dari Dana White dan tim UFC.
Bilal Hasan memasuki arena pertandingan DWCS Season 10 di Meta APEX, Las Vegas, Amerika Serikat, Selasa (11/8), dengan kepercayaan tinggi.
Motivasinya berlipat, Bilal datang dengan keinginan membawa nama Indonesia terbang tinggi di kancah MMA dunia.
“Saya sangat bersemangat untuk memopulerkan MMA di Indonesia dan menempatkan Indonesia di peta dunia MMA,” ujar Bilal suatu kali kepada CFFC. Tidak heran Bilal diberi julukan The IndoNinja.
Begitu lonceng berbunyi, Bilal menatap tajam Mridul Saikia, mencari celah di antara pertahanan tubuhnya.
Tendangan dan pukulan dilepaskan untuk membuka benteng Saikia. Tenaga Bilal terjaga di setiap gerakan, ciri khas yang sudah dibangunnya dengan susah payah dari anak-anak.
Bilal, yang ditetapkan laman MMAMania.com sebagai “Prospek Bulan Ini” pada Februari 2026, memang terkenal dengan serangan (striking) yang kuat dan presisi, baik itu dengan tangan maupun kaki.
Pukulan dan tendangannya kerap menyakiti lawan. Terbukti, dari seluruh atau delapan kemenangannya di CFFC, hanya sekali yang diputuskan dengan angka. Lainnya tuntas dengan KO atau TKO, rata-rata hanya sekitar dua ronde.
Hanya satu yang dia menangkan dengan kuncian leher (rear-naked choke), atas Jose Leon, dan itu membuahkannya sabuk juara kelas terbang CFFC. Satu fakta yang memperlihatkan kemampuan pertarungan ground-nya tidak bisa dipandang sebelah mata.
Begitulah, baru 45 detik laga berlangsung, Bilal menghentikan perlawanan Mridul Saikia. Pukulan tangan kanan yang membuat Saikia terjatuh, dilanjutkan hantaman bertubi-tubi ke wajah petarung India itu menghasilkan kemenangan untuk Bilal.
Melihat “ledakan” Bilal di WS, Dana White tidak ragu memberikannya kontrak UFC. Seusai laga, Dana White juga menyebut Bilal Hasan sebagai “petarung terfavorit sepanjang sejarah Contender Series“.
Bilal Hasan sudah menempatkan dirinya dalam mimpi petarung-petarung MMA. Akan tetapi, perjalanannya masih panjang. Masih banyak tantangan dan kesulitan yang akan dihadapi, apalagi UFC kerap tidak ramah dengan petarung Asia apalagi Asia Tenggara.
Akankah Bilal bisa menjadi kampiun di UFC berikutnya dari Asia Tenggara setelah petarung Myanmar Joshua Van melakukannya pada Desember 2025 setelah dia mengalahkan juara kelas terbang (flyweight) Alexandre Pantoja?
Suatu saat. Semoga saja.
Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.