1. News
  2. Berita
  3. Bebas Memilih

Bebas Memilih

bebas-memilih
Bebas Memilih

Saat Lebaran lalu, ada seorang influencer yang mengimbau agar tamu yang berkunjung ke restoran hari itu bersikap baik karena mereka yang bekerja pada hari raya melakukannya bukan karena keinginan, melainkan tuntutan pekerjaan di industri F&B.

Pesan itu terasa mulia. Kita setuju karena memang selayaknya bersikap baik kepada siapa pun, terlepas apakah mereka terpaksa atau tidak. Pertanyaannya, apakah orang memang tidak memiliki kebebasan untuk memilih sehingga harus terpaksa melakukan tindakan yang tidak diinginkan?

Filsuf Perancis Jean Paul Sartre mengatakan, “Manusia ditakdirkan untuk merdeka; sebab begitu dilahirkan ke dunia, ia bertanggung jawab atas segala perbuatannya.” Bukankah berkah tertinggi manusia adalah kebebasan untuk memilih?

Mungkin ada yang memiliki pilihan lebih banyak sehingga terasa leluasa, tapi ada yang pilihannya sangat terbatas. Semuanya memiliki konsekuensi yang sama, bisa enak atau sebaliknya. Bahkan, memilih untuk melakukan tindakan benar pun bisa membuat kita mendapatkan konsekuensi yang tidak enak.

Berapa banyak pahlawan yang gugur karena memilih membela negara, pihak yang lemah, atau kebenaran? Oleh karena itu, banyak juga di antara kita yang kemudian memilih untuk menutup mata, telinga, dan mulut rapat-rapat. Pada situasi ini, tidak berpihak pun adalah suatu pilihan.

Para pekerja restoran bisa saja memilih tidak bekerja pada hari raya dengan konsekuensi yang berdampak pada bonusnya atau bahkan yang terburuk dipecat.  Apakah konsekuensi tidak hadir di tempat kerja pada hari raya lebih baik atau lebih buruk dibandingkan konsekuensi tidak bersama keluarga pada hari raya?

Penilaian terhadap konsekuensi bisa bersifat personal dari satu individu ke individu lainnya. Bisa saja konsekuensi kehilangan pekerjaan ternyata lebih baik bagi sebagian orang dibandingkan kehilangan momen bersama dengan keluarganya yang tidak bisa diulang karena orangtua sudah sangat sepuh.

Terpaksa adalah kenyamanan psikologis

Pilihan tidak selalu berarti opsi yang menyenangkan. Pilihan adalah tentang memutuskan di antara berbagai kemungkinan, termasuk kemungkinan yang sama-sama tidak ideal. 

Ketika seseorang berkata “tidak punya pilihan”, hampir selalu yang mereka maksud adalah “pilihan yang tersedia bagi saya semuanya buruk”. Yang jelas, setiap pilihan memiliki konsekuensi. Ini yang harus disadari secara penuh sehingga kita bisa dengan legawa menjalani konsekuensi atas pilihan yang kita ambil.

Ketika merasa dipaksa, kita tidak perlu menanggung beban moral dari keputusan yang kita buat. Kita bisa meletakkan tanggung jawab itu di luar diri, baik itu kepada atasan, sistem, maupun kepada keadaan.

Namun, ada harga yang harus dibayar. Ketika terus-menerus memosisikan diri sebagai korban dari keadaan, secara perlahan kita kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga, yakni rasa memiliki kendali atas hidup kita sendiri.

Mereka yang merasa dirinya tidak memiliki pilihan, akan menjalani situasi tersebut dengan hati menderita, mencari celah untuk menyalahkan orang lain maupun situasi yang ada. Pekerja restoran yang bekerja setengah hati membuat para tamu tidak puas dan memberikan rating buruk pada restorannya. Ketika ini terjadi, ia menyalahkan bahwa ia memang “terpaksa” harus bekerja pada hari itu.

Dalam organisasi, seorang yang bertahun-tahun mengeluhkan pekerjaannya tetapi tidak pernah mengambil langkah untuk berubah karena merasa tidak memiliki pilihan lain akibat cicilan rumah, tanggungan keluarga, dan usia yang tidak lagi muda. Namun, yang sebenarnya terjadi adalah ia telah memilih untuk tetap tinggal karena menilai biaya untuk keluar jauh lebih besar dari yang bisa ditanggungnya.

Legawa bukan berarti pasrah

Kesadaran bahwa kita telah memilih, meski pilihannya terbatas, membuat kita tidak lagi berada dalam posisi defensif. Kita menjadi subyek, bukan obyek. Ketika menerima bahwa situasi ini adalah hasil dari serangkaian keputusan yang kita ambil sendiri, kita tidak lagi membuang energi untuk menyalahkan keadaan. Energi yang ada bisa digunakan untuk hal yang lebih produktif, memperbaiki keadaan, atau mempersiapkan diri untuk menjalaninya dengan lebih tenang. Pegawai yang dengan sadar memilih bekerja hari itu karena membutuhkan penghasilan untuk keluarganya, akan bekerja dengan hati gembira. ia membayangkan dari hasil pekerjaannya hari ini bisa menambah tabungannya.

Para tamu merasakan energi positifnya sehingga mungkin saja memberikan tip. Hari itu, pekerja akan pulang dengan langkah yang lebih ringan membayangkan senyum anaknya ketika ia bisa membawakan makanan enak dari hasil tip yang dikumpulkannya. 

Psikolog Julian Rotter menjelaskan, orang dengan internal locus of control, merasa mengendalikan sendiri kejadian dalam hidupnya, cenderung lebih sehat secara mental, tahan terhadap stres, puas dengan pekerjaannya, dan mampu bangkit dari kegagalan. Bukan karena hidup mereka lebih mudah, melainkan mereka merasa memiliki kendali atas responsnya.

Tanggung jawab adalah sebuah kekuatan

Menerima konsekuensi dari pilihan bukan berarti kita harus menyalahkan diri sendiri atas setiap hal yang tidak berjalan baik. Namun, ini berarti kita selalu memiliki ruang untuk memilih bagaimana untuk bersikap karena kita adalah subyek bukan lagi obyek. Ini soal kejujuran dengan diri sendiri, tentang hidup yang kita jalani.

Ada cara pandang yang bisa kita geser. Mengganti kata “harus” dengan “memilih untuk” saja sudah memindahkan rasa kendali kembali ke tangan kita. Memahami alasan di balik pilihan yang kita ambil pun bisa menjadi sumber energi untuk menjalaninya. Situasi di luar sering kali bukan pilihan kita, melainkan respons kita terhadapnya selalu pilihan kita.

Yang juga perlu kita sadari, pilihan itu tidak selalu terbaca konsekuensinya. Terkadang kita bahkan sulit mengaitkan sebuah pilihan dengan reward yang sebenarnya kita dapatkan darinya. Ambil contoh sederhana, disiplin. Berdisiplin itu sesungguhnya tidak enak, kalau anak-anak diberi pilihan, mereka pasti akan menghindarinya.

Namun, kita lihat, semakin dewasa, semakin banyak orang yang justru memilih untuk hidup disiplin. Manfaatnya memang kadang tidak langsung terlihat nyata, tetapi jauh di dasar hati, ada reward yang kita rasakan, menjadi pribadi yang berkualitas, dan kemampuan-kemampuan lain, seperti memprediksi hasil dengan lebih baik.

Jadi, bersikap baik kepada pegawai restoran yang bekerja pada hari raya adalah pilihan kita sebagai tamu, meskipun mungkin servisnya kurang prima karena tamu membludak pada hari itu. Bukan karena rasa kasihan kepada mereka yang terpaksa bekerja, melainkan mereka sedang melakukan yang terbaik dari pilihan yang mereka punyai. Dan, itu layak mendapat rasa hormat.

Baca juga: Berlaga dengan Diri Sendiri

EXPERD

HR CONSULTANT/KONSULTAN SDM

Eileen Rachman & Eileen Rachman

Character Building Assessment & Training EXPERD

EXPERD (EXecutive PERformance Development) merupakan konsultan pengembangan sumber daya manusia (SDM) terkemuka di Indonesia.

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Bebas Memilih
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us