1. News
  2. Berita
  3. Tak Semua yang Hijau Baik, Waspada Tumbuhan Invasif Bisa Mengganggu Kelestarian Hutan

Tak Semua yang Hijau Baik, Waspada Tumbuhan Invasif Bisa Mengganggu Kelestarian Hutan

tak-semua-yang-hijau-baik,-waspada-tumbuhan-invasif-bisa-mengganggu-kelestarian-hutan
Tak Semua yang Hijau Baik, Waspada Tumbuhan Invasif Bisa Mengganggu Kelestarian Hutan

Cagar Alam Manggis Gadungan di Kabupaten Kediri, Jawa Timur, tetap terlihat hijau dengan pepohonan dan tumbuhan yang memenuhi ruang di bawah hingga sekitar tajuk. Namun, kondisi hijau tidak selalu menunjukkan bahwa sebuah ekosistem berada dalam keadaan baik.

Di dalam hutan, setiap tumbuhan berkompetisi mendapatkan cahaya, ruang, air, dan unsur hara. Sebagian tumbuh perlahan di bawah naungan, sementara lainnya memanfaatkan tumbuhan di sekitarnya untuk mencapai cahaya. Salah satunya adalah liana atau tumbuhan merambat.

Kehadiran liana sebenarnya merupakan bagian dari dinamika alami ekosistem hutan. Masalah dapat muncul ketika jenis tertentu berkembang dominan dan berpotensi menekan tumbuhan lain, mengubah struktur vegetasi, serta memengaruhi proses ekologis.

27 Jenis Tumbuhan Masuk Analisis

Hasil analisis risiko KSDAE Kementerian Kehutanan mencatat terdapat 27 jenis tumbuhan berpotensi invasif di Cagar Alam Manggis Gadungan. Dari jumlah tersebut, tiga jenis memiliki nilai keinvasifan tertinggi dan menjadi prioritas pengendalian, yakni Poikilospermum suaveolens, Senegalia pennata, dan Marsdenia sinensis.

Ketiganya memiliki karakter sebagai tumbuhan merambat. Strategi hidup liana memungkinkan tumbuhan menggunakan vegetasi lain sebagai penopang untuk mencapai bagian hutan yang mendapatkan lebih banyak cahaya.

Namun, menentukan suatu tumbuhan sebagai prioritas pengendalian tidak cukup hanya berdasarkan jumlahnya di lapangan. Risiko terhadap ekosistem dan kemungkinan pengendaliannya perlu dianalisis terlebih dahulu.

Dokumen analisis risiko tersebut menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam pengelolaan tumbuhan invasif sekaligus mendukung upaya pemulihan ekosistem. Setiap jenis dinilai melalui sejumlah pertanyaan dan sistem skor yang kemudian digunakan untuk mengelompokkan tingkat risikonya, mulai dari sangat tinggi, tinggi, medium, rendah hingga dapat diabaikan.

Pendekatan ini membuat pengendalian tidak dilakukan hanya karena sebuah tumbuhan terlihat banyak atau dianggap mengganggu.

Pengendalian Harus Berbasis Data

Dalam kawasan konservasi, keputusan untuk mengendalikan tumbuhan juga membutuhkan kehati-hatian. Tindakan yang tidak tepat dapat menimbulkan gangguan baru terhadap ekosistem.

Karena itu, ada dua hal penting yang perlu dipertimbangkan: seberapa besar risiko suatu jenis terhadap ekosistem dan seberapa memungkinkan jenis tersebut dikendalikan.

Hasil analisis terhadap tiga liana tersebut memberikan dasar untuk menentukan prioritas. Namun, penetapan prioritas bukan berarti persoalan selesai. Pemantauan di lapangan tetap diperlukan untuk melihat pola penyebaran, tingkat dominansi, perubahan populasi, serta dampak terhadap vegetasi di sekitarnya.

Persoalan Tidak Berhenti di Batas Cagar Alam

Di luar cagar alam, perwakilan Cabang Dinas Kehutanan Trenggalek bersama pegiat konservasi Kediri menyampaikan persoalan tumbuhan invasif di sejumlah kawasan yang berperan dalam perlindungan sumber mata air.

Kawasan tersebut antara lain memiliki pohon-pohon dari genus Ficus. Di sisi lain, ditemukan pula tumbuhan invasif dan sejumlah pohon besar yang tumbang. Kondisi tersebut membuka peluang kolaborasi untuk menangani tumbuhan invasif pada kawasan yang memiliki fungsi penting bagi sumber air di Kediri.

Persoalan ekologis tidak berhenti pada batas administratif. Benih dapat berpindah melalui air, angin, satwa maupun aktivitas manusia. Karena itu, pengelolaan tumbuhan invasif membutuhkan kerja sama antara pengelola kawasan konservasi, pemerintah daerah, masyarakat, akademisi, peneliti, dan kelompok konservasi.

Memulihkan Hutan Tidak Cukup dengan Pohon

Analisis tersebut mempertemukan berbagai pihak, mulai dari Dinas Lingkungan Hidup Kediri, Cabang Dinas Kehutanan Trenggalek, Seksi Konservasi Wilayah I Kediri, Muspika Kecamatan Puncu, hingga pemerintah desa penyangga seperti Manggis, Wonorejo, dan Asmorobangun.

Turut terlibat Yayasan Masyarakat Ficus Indonesia, Wild Water Indonesia, Pramuka Saka Wanabakti Kediri, Pokmas Alas Simpenan Sejahtera, Mapala Pelita, staf BBKSDA Jatim, Kader Konservasi Rudiyanto, serta unsur akademisi dari Universitas Brawijaya dan peneliti Kebun Raya Purwodadi.

Keterlibatan banyak pihak penting karena pemulihan ekosistem tidak selalu berarti menanam pohon baru. Pada kawasan yang masih memiliki kemampuan regenerasi alami, pengelolaan dapat dilakukan dengan menjaga proses tersebut sekaligus mengurangi gangguan yang menghambatnya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Tak Semua yang Hijau Baik, Waspada Tumbuhan Invasif Bisa Mengganggu Kelestarian Hutan
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us