1. News
  2. Berita
  3. Kecemasan pada AI

Kecemasan pada AI

kecemasan-pada-ai
Kecemasan pada AI

Beberapa waktu lalu, medsos sempat diramaikan berita PHK besar-besaran di Tokopedia. Buntut dari akuisisi Tokopedia oleh TikTok telah menyebabkan ratusan karyawannya mengalami PHK pada periode 2024 dan 2025.

Namun, isu PHK besar bulan Juli lalu dibantah manajemen Tokopedia. Meski demikian, berita-berita mengenai pengurangan karyawan, baik di dalam maupun luar negeri yang banyak terjadi pada perusahaan-perusahaan teknologi, seperti Amazon, dan IBM telah membuat banyak pekerja merasa cemas.

Semakin intensifnya penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam pekerjaan kita sehari-hari, disinyalir merupakan salah satu penyebab jumlah pengurangan karyawan semakin tinggi. CEO Amazon Andy Jassy mengatakan, AI akan mengurangi jumlah karyawan korporat dalam beberapa tahun ke depan.

Pekerjaan-pekerjaan yang bersifat administratif banyak yang sudah digantikan oleh AI. Ini meninggalkan kita dengan pertanyaan besar, “Kalau semuanya bisa dikerjakan dengan mudah oleh mesin, apa yang tersisa untuk saya?”

Pertanyaan yang sama bisa jadi terlintas di benak kita atau rekan kerja yang belakangan terlihat lebih pendiam saat rapat membahas rencana AI. Kita menyebutnya kecemasan terhadap teknologi.

Kecemasan ini berbeda dengan kecemasan biasa yang terkait dengan transformasi kerja, seperti mempelajari sistem baru ataupun restrukturisasi organisasi. Ini bukan sekadar menuntut kemampuan individu untuk beradaptasi, tetapi menyentuh titik terdalam mengenai pertanyaan apa “nilai” kita di tempat kerja.

Selama bertahun-tahun kita membangun keterampilan, memeram pengalaman. Namun, tiba-tiba mesin dapat mengerjakannya dalam hitungan detik dengan hasil yang mungkin lebih baik. Di sini, identitas profesional kita terguncang ketika kita merasa “kalah” dari mesin.

Khawatir tidak relevan

Hubungan kita dengan AI bisa terasa membingungkan. Di satu sisi, kita menikmati bantuannya dengan kemudahan yang diberikan. Di sisi lain, cemas terhadap dampaknya pada diri kita secara personal dan profesional.

Dimulai dari kekhawatiran akan kemampuan kita mengikuti kecepatan perkembangannya, sampai pada rasa waswas kapan diri kita akan digantikan oleh mesin ini. Di sinilah banyak yang terlihat seperti enggan menggunakan AI dan dibaca sebagai resistensi atau kurang agile oleh manajemen.

Padahal, keraguan itu justru merupakan kesempatan berharga untuk diisi dengan penjelasan, jawaban mengenai bagaimana mereka dapat berkembang selaras dengan AI. Orang tidak takut pada teknologi, mereka takut dirinya, atau organisasinya menjadi tidak relevan.

Menariknya, ketakutan ini tidak selalu datang dari kelompok yang paling gagap teknologi. Riset ketenagakerjaan terbaru justru menemukan, generasi muda yang selama ini dianggap paling akrab dengan gawai dan aplikasi baru, adalah kelompok yang paling gelisah menghadapi AI.

Bisa jadi karena mereka paling menyadari, betapa cepat mesin yang secara perlahan menggerus orisinalitas pemikiran mereka. Selain itu, bisa pula mengubah aturan main hingga menggoyang tangga karier yang baru saja mereka bangun.

Terlepas dari mempertimbangkan besarnya sumber daya yang dihabiskan untuk menghidupkan mesin berpikir ini, kita juga perlu percaya bahwa selama kita memakainya secara efisien dan selama otak kita sendiri tetap menjadi pusat pertimbangan bukan sekadar penyalur perintah, AI bisa menjadi alat yang membantu tanpa mengambil alih.

Pertanyaannya bukan lagi memakai atau menolak, melainkan siapa yang sebenarnya memegang kendali saat keduanya bekerja bersama.

Sadari, terima, hadapi

AI anxiety menjadi kecemasan yang sering disembunyikan di permukaan. Bagaimana mungkin kita mengakui bahwa kita takut menghadapi mesin yang juga membuat pekerjaan jadi lebih mudah?

Ambivalensi seperti ini sebenarnya respons yang rasional. Memaksakan diri untuk memilih salah satu sikap saja tanpa pertanyaan, justru terlalu menyederhanakan dan tidak mencerminkan kompleksitas situasi yang dihadapi.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan, sebagai pemimpin, sebagai kolega, atau sebagai yang mungkin juga diam-diam merasa cemas?

Langkah pertama, dengan jujur mengakui kalau memang kita merasa cemas dan menerima bahwa kegelisahan menghadapi sesuatu yang tidak kita ketahui itu wajar. Mengakui perasaan, bahkan hanya pada diri sendiri, adalah langkah pertama sebelum bisa mengelolanya secara sadar.

Berikutnya kita bisa menggali apa yang membuat kita berharga di tempat kerja, yang bukan ditentukan seberapa cepat kita mengetik atau menghitung, melainkan oleh bagaimana kita menimbang, merasakan, dan hadir untuk orang lain. Perbarui CV dan profil profesional kita serta perluas jaringan.

Buat satu langkah kecil yang berfokus pada mengembangkan kapasitas manusiawi kita sendiri, empati yang tulus dalam hubungan kerja, penilaian etis dalam situasi yang ambigu, kreativitas yang lahir dari pengalaman hidup yang unik, juga kemampuan membangun kepercayaan dari nol dengan orang lain. Memiliki rencana, bahkan rencana cadangan, dapat mengubah kecemasan dari kekuatan yang melumpuhkan menjadi kekuatan yang memotivasi.

Belajar keahlian baru memang penting, tetapi mengejarnya semata-mata dengan ketakutan, bukan dari rasa ingin tahu atau minat yang tulus, malah membuat kita cepat lelah.

Mengejar keahlian teknis paling mutakhir adalah perlombaan yang sulit dimenangkan siapa pun, karena definisi “mutakhir” terus bergeser sesuai perkembangan. Kombinasi keahlian teknis dasar dengan kapasitas manusiawi akan  lebih sulit ditiru dan tergantikan.

Ketakutan bahwa teknologi akan menghapus pekerjaan manusia bukan hal baru. Sejarah mencatat bagaimana revolusi industri menghapus berbagai peran yang awalnya menggunakan tenaga manusia, tetapi kemudian juga menciptakan peran-peran baru yang menuntut fungsi manusiawi yang lebih tinggi. 

Ketika ATM mulai dipasang, peran pekerjaan teller berubah dari yang sekadar menangani transaksi tunai menjadi konsultan produk finansial dan membangun relasi dengan nasabah.

Data dari World Economic Forum, dalam Future of Jobs Report 2025, memproyeksikan 170 juta peran baru akan tercipta hingga 2030, sementara 92 juta akan tergeser, menghasilkan penambahan bersih 78 juta pekerjaan secara global.

Masa transisi ini memang akan sulit, tetapi bukan jalan suram yang tak berujung. Pada akhirnya, pertanyaan yang layak kita renungkan bukan apakah AI akan mengambil alih pekerjaan kita, melainkan bagian mana dari pekerjaan kita yang sesungguhnya tidak pernah bisa digantikan, dan apakah kita sudah cukup mengenalinya untuk berani mempercayai dan mengembangkannya?

Baca juga: Berlaga dengan Diri Sendiri

EXPERD

HR CONSULTANT/KONSULTAN SDM

Eileen Rachman & Eileen Rachman

Character Building Assessment & Training EXPERD

EXPERD (EXecutive PERformance Development) merupakan konsultan pengembangan sumber daya manusia (SDM) terkemuka di Indonesia.

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Kecemasan pada AI
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us