1. News
  2. Berita
  3. Jauh Sebelum Tren AI, Ternyata Mahasiswa Unpad Sudah Gagas Embrio Sistemnya di Tahun 1992

Jauh Sebelum Tren AI, Ternyata Mahasiswa Unpad Sudah Gagas Embrio Sistemnya di Tahun 1992

jauh-sebelum-tren-ai,-ternyata-mahasiswa-unpad-sudah-gagas-embrio-sistemnya-di-tahun-1992
Jauh Sebelum Tren AI, Ternyata Mahasiswa Unpad Sudah Gagas Embrio Sistemnya di Tahun 1992

24 Agustus 2026 22.00 WIB • 2 menit

Jauh Sebelum Tren AI, Ternyata Mahasiswa Unpad Sudah Gagas Embrio Sistemnya di Tahun 1992

images info

Ilustrasi AI dan manusia | Unsplash/Igor Omilaev


Tahukah Kawan GNFI, saat internet belum sepopuler sekarang dan istilah artificial intelligence (AI) masih terasa asing, seorang mahasiswa di Bandung justru sudah melangkah jauh ke depan. Ia memberanikan diri membayangkan bagaimana kecerdasan buatan bisa membantu tugas-tugas rumit para akuntan di masa depan.

Adalah Rudi Fajar, alumni Program Studi Sarjana Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran (FEB Unpad). Pada Juli 1992, Rudi merampungkan skripsinya yang berfokus pada pemanfaatan AI untuk membantu akuntan publik memilih prosedur pemeriksaan piutang.

Hal ini sangat unik karena pada tahun tersebut, internet belum betul-betul menjangkau secara merata di seluruh Indonesia. Sumber-sumber literatur pun belum semasif dan mudah didapat seperti sekarang. Bagaimana cerita Rudi yang sudah mengangkat fenomena penggunaan AI di awal tahun 1990-an?

Berawal dari Satu Paragraf di Buku Teks

Melansir dari situs resmi Unpad, pilihan topik yang diambil Rudi pada masa itu memang terbilang sangat tidak lazim di tengah dominasi penelitian akuntansi yang masih konvensional. Ketertarikannya muncul murni dari rasa ingin tahu yang besar dan dorongan idealisme keilmuan saat masih muda.

“Waktu itu kan masih muda, penuh dengan rasa ingin tahu, penuh dengan idealisme keilmuan, dan utamanya tertantang,” kata Rudi.

Gagasan ini pertama kali terlintas saat ia mengikuti mata kuliah System Management. Di sana, Rudi menemukan satu paragraf dalam buku teks berbahasa Inggris yang menyebutkan bahwa AI dan expert system bakal jadi tingkat tercanggih dari program komputer di masa depan.

Meskipun informasi yang didapat sangat minim, Rudi tidak patah semangat untuk mendalami topik ini lebih jauh. Tantangan terbesar yang ia hadapi saat itu adalah kelangkaan literatur ilmiah mengenai AI di dalam negeri.

Mengingat referensi sulit ditemukan di Bandung maupun Jakarta, Rudi akhirnya memutuskan berburu buku hingga ke Singapura. Dari perjalanan tersebut, ia berhasil membawa pulang beberapa buku penting yang dibutuhkan untuk menyusun penelitiannya.

“Saya tidak menemukan referensinya di Bandung maupun Jakarta. Karena sudah kepalang basah, saya mencari literatur ke Singapura dan mendapatkan dua sampai tiga buku yang saya perlukan,” ungkapnya.

📷 Instagram Embed

https://

(Preview akan muncul di halaman artikel)

Mengembangkan Embrio AI Sederhana

Dalam skripsinya, Rudi mengeksplorasi gagasan bahwa ketersediaan data yang lengkap akan menghasilkan pengolahan informasi yang jauh lebih akurat. Sistem yang diproses dengan data melimpah juga dinilai mampu meminimalkan risiko kecelakaan atau kesalahan manusia (human error).

Guna merealisasikan ide tersebut, Rudi tidak bekerja sendirian. Ia menggandeng rekan indekosnya yang merupakan mahasiswa Teknik Industri ITB untuk merancang sebuah program komputer sederhana.

Menggunakan perangkat lunak Clipper Summer ’87, mereka berdua berhasil membuat simulasi program yang membantu pemilihan sampel pemeriksaan piutang. Program ini dirancang khusus untuk mempermudah proses pengambilan keputusan dalam audit.

“Dikaitkan dengan AI dengan definisi saat ini tentu akan debatable. Program tersebut lebih tepatnya embrio atau cikal-bakal AI,” katanya.

Dalam paparannya, Rudi mengungkap jika tujuan utama dari penulisan skripsi tersebut sebenarnya bukan sekadar menciptakan aplikasi yang sempurna. Rudi ingin menyampaikan sebuah gagasan besar tentang masa depan teknologi melalui contoh sederhana yang mudah dipahami.

Kawan GNFI, mengutip dari Swiss Cyber Institute, dijelaskan bahwa konsep AI sebetulnya sudah ada sejak tahun 1950-an. Di tahun 1956, The Darmouth Workshop kemudian menciptakan istilah AI.

Seiring berjalannya waktu, konsep AI terus digodok dan dikembangkan. Namun, dalam praktiknya, pendanaan untuk AI sempat menurun di tahun 1970-1980-an. Akan tetapi, hal tersebut tidak berlangsung lama.

Kini, AI telah berkembang pesat dan menjadi bagian tak terpisahkan dari berbagai industri global. Gagasan yang dikemukaan oleh Rudi di tahun 1992 sendiri menjadi bukti bahwa masih banyak masyarakat Indonesia yang memiliki semangat berpikir visioner.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firda Aulia Rachmasari lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firda Aulia Rachmasari.

Tim Editorarrow

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Jauh Sebelum Tren AI, Ternyata Mahasiswa Unpad Sudah Gagas Embrio Sistemnya di Tahun 1992
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us