Kalau setiap kali naik Gede tujuannya cuma summit, rasanya sudah terlalu biasa. Puncak Gede memang selalu punya daya tarik sendiri, tetapi kali ini saya mau coba sesuatu yang berbeda.
Kebetulan saya mendaki pada 1–2 Agustus 2026, saat kondisi musim kering sedang cukup bersahabat untuk aktivitas outdoor. Saya pun punya satu misi tambahan selain menikmati perjalanan ke Gunung Gede, yaitu hunting Milky Way di Alun-Alun Surya Kencana.
Menariknya, tanggal tersebut sebenarnya bukan waktu paling ideal kalau dilihat dari kondisi Bulan.
Pada 1 Agustus 2026, Bulan berada pada fase cembung dengan iluminasi sekitar 95,4 persen dan baru terbit sekitar pukul 20.05 WIB. Artinya, saya masih punya sedikit jendela waktu ketika langit belum diterangi cahaya Bulan.
Dan ternyata, jendela waktu itu cukup untuk memberikan pengalaman yang sampai sekarang masih saya ingat.
Pendakian Kelima ke Gunung Gede, Kali Ini Punya Misi Berbeda
Kali ini saya mendaki Gunung Gede bareng teman-teman kantor. Ada John, Tyo, dan Didi yang baru ikut pendakian kali ini. Sebelumnya, saya dan beberapa teman juga sudah pernah mendaki bareng ke Gunung Prau via Patak Banteng dan Gunung Ciremai via Sadarehe.
Kalau sebelumnya kami lebih sering ikut open trip, kali ini kami mencoba sesuatu yang berbeda. Kami mengurus pendakian secara mandiri, termasuk melakukan booking pendakian Gunung Gede secara online melalui website resmi.

Untuk perjalanan menuju Alun-Alun Surya Kencana, saya juga nggak akan membahasnya terlalu panjang di sini. Rute dan pengalaman pendakian kesana juga sudah pernah saya ceritakan di artikel pendakian Gunung Gede via Putri.
Kali ini saya lebih ingin cerita soal Milky Way yang membuat pendakian ini terasa berbeda.
Kenapa Hunting Milky Way di Alun-Alun Surya Kencana?
Sebenarnya ada banyak tempat yang bisa dipilih untuk hunting langit malam. Tapi kalau titik keberangkatannya dari Jakarta, Alun-Alun Surya Kencana terasa masuk akal.
Salah satu alasannya tentu karena lokasinya relatif dekat dan akses menuju Gunung Gede juga cukup mudah dari Jakarta dibandingkan harus mengejar gunung yang lokasinya jauh di luar Jawa Barat.
Alasan lainnya adalah karakter Surya Kencana itu sendiri.
Alun-Alun Surya Kencana merupakan area datar yang berada di ketinggian sekitar 2.750 meter di atas permukaan laut. Luasnya sekitar 50 hektare, dengan hamparan terbuka yang sangat luas di kawasan ini.
Di ketinggian hampir 3.000 mdpl, kamu punya area terbuka yang luas untuk camping sekaligus menikmati langit malam.

Buat saya, tempat seperti ini punya nilai tambah tersendiri untuk hunting Milky Way. Nggak perlu mencari spot yang terlalu rumit. Selama kondisi langit mendukung dan posisi Milky Way sedang memungkinkan, area terbuka seperti Surya Kencana sudah menawarkan pemandangan yang menarik.
Dan ternyata pengalaman saya malam itu jauh lebih effortless dari yang saya bayangkan.
Persiapan Hunting Milky Way Ternyata Gak Ribet
Sebelum berangkat, saya sempat membayangkan hunting Milky Way bakal membutuhkan banyak perlengkapan.
Kamera profesional, lensa khusus, tripod, aplikasi astronomi, dan berbagai macam perlengkapan fotografi lainnya.
Tapi ternyata, saya cuma membawa iPhone 15 basic dan powerbank dengan kapasitas besar. That’s it!
Kalau mau lebih serius, tentu tripod tetap saya rekomendasikan. Aplikasi seperti Stellarium juga sebaiknya sudah terpasang di HP untuk membantu melihat posisi benda-benda langit dan memperkirakan arah Milky Way.
Tapi malam itu saya bahkan nggak sampai perlu membuka aplikasi tersebut. Karena Milky Way-nya sudah kelihatan dengan mata telanjang.
Jam 7 Malam, Milky Way Sudah Kelihatan dari Depan Tenda

Setelah sampai di Alun-Alun Surya Kencana Barat, kami mendirikan tenda dan mulai beres-beres seperti biasa.
Saya sebelumnya sudah punya bayangan kalau mau hunting Milky Way, mungkin harus keluar tengah malam.
Situasi tersebut menjadi salah satu masalah klasik yang sering saya hadapi setiap kali punya niat memotret langit malam saat mendaki.
Sudah sampai tenda, sudah makan, sudah rebahan. Udara semakin dingin, lalu sleeping bag terasa terlalu nyaman, akhirnya ketiduran, LOL.
Atau kalau belum tidur pun rasanya malas banget keluar tenda karena suhu malam di gunung memang bisa bikin badan sangat menggigil. Makanya saya cukup senang ketika malam itu ternyata nggak perlu menunggu sampai tengah malam.
Sekitar pukul 7 malam, saya dan John keluar dari tenda. Langit sedang cerah, bintang bertaburan. Dan di atas sana, Milky Way sudah mulai terlihat. Saya bahkan nggak perlu berjalan jauh mencari spot. Cukup berdiri di depan tenda.
Beruntung Keluar Sebelum Bulan Terbit
Ada satu faktor yang membuat saya cukup beruntung malam itu. Saya keluar tenda sekitar pukul 7 malam, saat John mengajak saya buat cari warung di Alun-Alun Surya Kencana Barat.
Berdasarkan data fase Bulan, pada 1 Agustus 2026 Bulan memang memiliki iluminasi sekitar 95,4 persen, tetapi waktu terbitnya sekitar pukul 20.05 WIB.
Artinya, ketika saya keluar sekitar pukul 7 malam, Bulan belum terbit. Situasi seperti ini sangat penting kalau tujuan kamu melihat Milky Way.
Cahaya Bulan yang terang bisa membuat langit malam terlihat jauh lebih terang sehingga bintang-bintang menjadi redup dan struktur Milky Way menjadi lebih sulit terlihat.
Jadi meskipun tanggal 1 Agustus bukan tanggal yang ideal untuk hunting Milky Way kalau melihat fase Bulannya, saya masih punya kesempatan menikmati langit gelap sebelum Bulan muncul.
Jadi, Kapan Waktu Terbaik Hunting Milky Way?

Kalau kamu punya rencana hunting Milky Way di gunung, jangan cuma melihat kalender dan berpikir bahwa musim kemarau otomatis berarti langit akan bagus.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.
1. Perhatikan musim dan kondisi cuaca
Periode musim kering sering menjadi pilihan menarik untuk aktivitas astrofotografi karena peluang mendapatkan langit cerah bisa lebih baik.
Tapi cuaca tetap menjadi faktor penting.
Langit mendung tentu akan membuat perhitungan soal fase Bulan menjadi kurang berarti.
Karena itu, sebelum berangkat tetap cek prakiraan cuaca dan kondisi langit di lokasi tujuan.
2. Cek fase dan waktu terbit Bulan
Secara umum, kondisi sekitar fase Bulan Baru lebih menguntungkan untuk mendapatkan langit yang gelap. Pada Agustus 2026, Bulan Baru terjadi pada 13 Agustus, sementara 1 Agustus masih memiliki iluminasi sekitar 95,4 persen.
Tapi pengalaman saya menunjukkan satu hal menarik. Jangan cuma melihat fase Bulan. Lihat juga jam Bulan terbit dan terbenam.
Tanggal 1 Agustus memang memiliki fase Bulan yang hampir penuh, tetapi Bulan baru muncul sekitar pukul 20.05 WIB. Sehingga masih ada kesempatan singkat untuk menikmati langit sebelum cahaya Bulan masuk.
Kalau mau mengecek secara praktis, pengguna iPhone juga bisa membuka aplikasi Weather dan melihat informasi Moon Phase. Dari sana kamu bisa melihat perubahan fase Bulan dan memilih tanggal yang kira-kira paling cocok.
Untuk hasil yang lebih detail, kamu bisa menggunakan aplikasi astronomi seperti Stellarium.
3. Download Stellarium
Malam itu saya memang nggak sampai membutuhkan Stellarium.
Tapi kalau kamu benar-benar datang dengan tujuan hunting Milky Way, saya tetap menyarankan aplikasi seperti ini disiapkan.
Kondisi langit setiap tanggal bisa berbeda. Posisi Milky Way juga berubah sepanjang malam.
Dengan aplikasi Stellarium dan sejenisnya, kamu bisa memperkirakan posisi benda-benda langit sebelum menentukan kapan dan ke arah mana kamera akan diarahkan.
Jadi jangan mengandalkan keberuntungan seperti saya malam itu, hehe…
4. Bawa tripod
Nah, ini salah satu hal yang paling saya sesali saat itu. Saya nggak bawa tripod.
Padahal dengan kondisi malam yang cukup bagus, iPhone 15 basic yang saya gunakan masih bisa menangkap Milky Way hanya dengan handheld.
Saya jadi kepikiran, kalau handheld saja hasilnya sudah lumayan, bagaimana kalau HP-nya dipasang di tripod?
Kemungkinan besar framing bakal jauh lebih stabil dan hasil foto bisa lebih tajam karena perangkat tidak bergerak ketika mengambil gambar dengan exposure yang lebih lama.
Jadi kalau memang tujuan utama kamu adalah hunting Milky Way, wajib bawa tripod.
Nggak perlu tripod yang terlalu besar. Yang penting cukup stabil untuk menopang perangkat yang akan digunakan.
5. Pahami kemampuan kamera smartphone
Untuk mengambil foto malam itu, saya menggunakan kamera bawaan iPhone 15 basic. Flash saya matikan, kemudian menggunakan timer sekitar 3 detik supaya HP tidak langsung bergerak ketika tombol shutter ditekan. Jangan lupa night mode juga diaktifkan.
Pada perangkat iPhone 15 basic yang saya gunakan durasi night mode default hanya 3 detik, tapi ketika kamera diarahkan ke langit yang gelap, durasinya bertambah 5-10 detik, bahkan bisa sampai 30 detik. Namun saat itu 5 detik saja sudah cukup buat saya.
Kalau perangkat kamu memiliki mode malam atau pengaturan exposure manual, pelajari dulu sebelum berangkat.
Hunting Milky Way di Gunung Gede Gak Harus Tengah Malam
Salah satu pelajaran yang saya dapat dari pendakian ini justru sederhana. Selama ini saya selalu menganggap hunting Milky Way berarti harus bangun tengah malam.
Padahal ternyata tidak selalu begitu.
Waktu terbaik sangat bergantung pada tanggal, fase Bulan, posisi Milky Way, cuaca, dan kondisi langit di lokasi. Pengalaman saya pada 1 Agustus 2026 menjadi contoh kecilnya.
Tanggalnya memang bukan pilihan terbaik kalau hanya melihat fase Bulan. Tapi karena saya keluar sebelum Bulan terbit, ditambah kondisi langit yang cerah, saya tetap bisa melihat Milky Way dari Alun-Alun Surya Kencana.
Dan yang paling menyenangkan, saya nggak perlu meninggalkan tenda terlalu jauh.
Apakah Alun-Alun Surya Kencana Cocok untuk Hunting Milky Way?
Menurut pengalaman saya, iya.
Terutama kalau kamu mencari lokasi yang relatif mudah diakses dari Jakarta dan ingin menggabungkan pendakian dengan pengalaman menikmati langit malam.
Surya Kencana punya area terbuka yang luas, berada di ketinggian sekitar 2.750 mdpl, dan menawarkan suasana yang jauh berbeda dibanding melihat langit malam dari kawasan perkotaan.
Tapi jangan datang dengan ekspektasi bahwa setiap malam lo pasti akan melihat Milky Way. Karena kondisi langit tetap menjadi faktor utama.
Bahkan tanggal yang secara teori bagus bisa saja gagal kalau cuaca mendung atau pandangan tertutup awan.
Sebaliknya, pengalaman saya menunjukkan bahwa tanggal yang secara astronomi kurang ideal pun masih bisa memberikan kesempatan kalau kamu memahami kondisi Bulan dan memilih waktu yang tepat.