1. News
  2. Berita
  3. Nusantara Bertutur, Mbediding di Lereng Ijen

Nusantara Bertutur, Mbediding di Lereng Ijen

nusantara-bertutur,-mbediding-di-lereng-ijen
Nusantara Bertutur, Mbediding di Lereng Ijen

Pagi masih temaram dan dingin ketika Gani terbangun di pondok kayu Kakek di lereng Gunung Ijen, Jawa Timur. Saat melangkah keluar ke teras dan merapatkan sarungnya, matanya membelalak. Di remang fajar yang mulai menyingsing, ia melihat barisan pohon kopi di hadapannya memutih tertutup kristal es.

“Kakek gawat! Kenapa kebun kita jadi seperti es? Bukankah sekarang musim kemarau?” seru Gani sambil menggigil, merapatkan sarung di bahunya.

Kakek yang sedang menyeduh teh tersenyum. Diberikannya secangkir teh hangat beraroma kayu manis pada Gani.

“Ini namanya mbediding,” sahut Kakek lembut.

“Saat kemarau di tanah Ijen, langit di sini bersih tanpa awan yang menutupi. Karena awan-awan itu tidak muncul, hawa panas dari bumi dengan mudah menuju langit. Makanya, jadi sedingin ini.”

Gani menyentuh sehelai daun kopi yang kaku. “Lalu, kenapa putih-putih ini membuat tanaman kelapa dan sayur tetangga layu, Kek?”

“Masyarakat di sini menyebutnya embun upas,” jelas Kakek sambil mengelus kepala Gani. “Dinginnya begitu dalam sampai membekukan cairan di dalam daun. Tapi, tenang, pohon kopi arabika kita sudah biasa bersahabat dengan dinginnya Ijen.”

Kakek lalu mengambil dua buah cangkul kecil dan bakul bambu. “Ayo, bantu Kakek. Kita punya tugas penting pagi ini!”

Gani menyusul Kakek ke sela-sela barisan pohon kopi. Kakek mengajarinya menyapu daun-daun kopi kering, lalu menumpuknya di sekitar pangkal batang pohon.

“Mengapa daun keringnya ditumpuk di situ, Kek?” tanya Gani penasaran. Mulutnya mengembuskan uap putih setiap kali berbicara.

“Daun-daun kering ini akan jadi selimut hangat untuk akar.” ujar Kakek. “Sama seperti sarung yang kamu pakai. Kalau akarnya hangat, pohon kopi kita tetap kuat menyerap air meski udara di luar membeku.”

Gani mengangguk paham. Ia bekerja makin bersemangat. Tangannya yang kaku perlahan terasa hangat seiring gerak tubuhnya.

Tak lama kemudian, matahari fajar mulai terbit dari arah timur. Sinar emasnya perlahan melelehkan kristal embun upas di atas buah-buah kopi yang memerah. Kebun Kakek tampak berkilauan indah.

Gani tersenyum puas memandang barisan pohon kopi yang kini sudah “berselimut” daun kering. Pagi mbediding di lereng Ijen memang membekukan, tetapi kehangatan ilmu Kakek dan kebersamaan mereka telah mengalahkan dinginnya gunung.*

Mbediding: Istilah dalam bahasa Jawa untuk menggambarkan fenomena suhu udara yang menjadi sangat dingin secara mendadak pada malam hingga pagi hari di musim kemarau.

Embun Upas: Fenomena embun es/kristal es yang muncul di permukaan daun atau tanah akibat suhu udara yang drastis merosot di dataran tinggi, kerap menyebabkan sebagian tanaman pertanian menjadi layu atau mengering.*

logo baru nusantara bertutur

Oleh Tim Nusantara Bertutur
Penulis: Elyanoor Oktaviana
Pendongeng: Paman Gery (Instagram: @paman_gery)
Ilustrasi: Regina Primalita

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Nusantara Bertutur, Mbediding di Lereng Ijen
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us