Jakarta (ANTARA) – Kementerian Pemuda dan Olahraga memaparkan prioritas pendanaan bagi federasi menanggapi soal upaya penggalangan dana secara mandiri untuk atlet tunarungu yang mengikuti kejuaraan internasional.
“Kita tahu bahwa sesuai dengan Undang-Undang Keolahragaan, pendanaan yang secara sah bisa kita berikan adalah kepada organisasi yang memang diakui oleh organisasi internasionalnya,” kata Pelaksana Tugas Deputi Bidang Pembudayaan Olahraga Kemenpora Budi Ariyanto Muslim dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa.
Ia menjelaskan bahwa para atlet tunarungu yang mengikuti ajang Asia Pacific Deaf Multi-Sport di Penang, Malaysia, 3-10 Oktober diorganisir oleh Perhimpunan Olahraga Tuna Rungu Indonesia (Porturin).
Sedangkan, federasi olahraga tuna rungu Indonesia yang berafiliasi dengan federasi internasional atau International Committee of Sports for the Deaf (ICSD) adalah Perkumpulan Atlet Tunarungu Indonesia (Patrin) yang saat ini dipimpin Dimyati Hakim.
Oleh sebab itu, Kemenpora tidak memberikan dukungan pendanaan untuk keikutsertaan atlet untuk ajang di Malaysia karena keterbatasan anggaran akibat kebijakan efisiensi anggaran.
“Jadi, kami juga sangat menyayangkan dengan adanya narasi-narasi di sana bahwa seakan-akan pemerintah tidak hadir,” katanya.
Sementara itu, Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora Surono menjelaskan bahwa Kemenpora terus memberikan perhatian terhadap olahraga disabilitas di Indonesia
Pada ajang ASEAN Para Games 2025 di Thailand, atlet-atlet disabilitas Indonesia berhasil meraih 135 medali emas, 143 medali perak, dan 114 perunggu, dan berada di peringkat kedua.
Kemenpora, kata dia, memiliki kerja sama yang baik pula dengan National Paralympic Committee (NPC) Indonesia, baik di level pusat maupun daerah, untuk partisipasi Indonesia dalam kegiatan olahraga disabilitas, termasuk Olimpiade khusus atlet tunarungu atau Deaflympic, ASEAN Para Games, dan Asian Para Games.
Selain itu, dukungan finansial juga diberikan untuk pembangunan fasilitas Paralympic Training Center Indonesia di Karanganyar, di Jawa Tengah, yang merupakan terbaik di Asia Tenggara.
“Jadi Kemenpora selalu hadir untuk mendukung prestasi olahraga disabilitas termasuk ke depan yang berkaitan dengan persiapan hingga Paralimpade,” katanya.
Baca juga: Perkumpulan atlet tunarungu klarifikasi soal penggalangan dana
Pewarta: Aloysius Lewokeda
Editor: Irwan Suhirwandi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.