1. News
  2. Berita
  3. Rekor Kapal Perang Terbesar Indonesia: Dari KRI Irian ke KRI Gadjah Mada

Rekor Kapal Perang Terbesar Indonesia: Dari KRI Irian ke KRI Gadjah Mada

rekor-kapal-perang-terbesar-indonesia:-dari-kri-irian-ke-kri-gadjah-mada
Rekor Kapal Perang Terbesar Indonesia: Dari KRI Irian ke KRI Gadjah Mada

KRI IRIAN 201 | wikimedia commons


Akhir Agustus 2026, KRI Gadjah Mada bertolak dari Italia menuju Indonesia. Kapal ini sebelumnya bernama ITS Giuseppe Garibaldi, bekas kapal induk Angkatan Laut Italia yang diserahkan ke Indonesia dan akan menjadi kapal induk pertama yang dioperasikan TNI Angkatan Laut. Kedatangannya melengkapi rangkaian pengadaan yang sudah berjalan sejak 2025, mulai dari dua fregat buatan Italia, fregat kelas Merah Putih hasil kerja sama dengan Inggris yang dibangun PT PAL, hingga kapal survei KRI Canopus dari Jerman.

Meski menyandang status kapal induk pertama, Gadjah Mada bukan kapal perang terbesar yang pernah dimiliki Indonesia. Dengan panjang 180,2 meter dan bobot muatan penuh sekitar 14.150 ton, ukurannya masih kalah dari KRI Irian, kapal penjelajah warisan Uni Soviet yang panjangnya 210 meter dengan bobot muatan penuh 16.640 ton.

Ini bukan pertama kalinya Indonesia mencoba membangun kekuatan laut dalam waktu singkat lewat satu kapal besar. Lebih dari enam dekade lalu, pemerintah Sukarno melakukan hal serupa lewat KRI Irian, yang sempat menjadi kapal perang terbesar yang pernah dimiliki Indonesia sebelum berakhir sebagai kapal tahanan dan dijual sebagai besi tua.

Dari Armada Soviet ke Sukarno

KRI Irian awalnya bernama Ordzhonikidze, kapal penjelajah kelas Sverdlov yang selesai dibangun untuk Angkatan Laut Soviet pada 1952. Kelas ini adalah proyek ambisius Stalin untuk mengejar ketertinggalan Uni Soviet dari kekuatan laut Barat pascaperang, dengan rencana awal 30 unit. Setelah Stalin meninggal dan Khrushchev memangkas programnya, hanya 14 unit yang jadi selesai. Ordzhonikidze sempat digunakan untuk kunjungan kenegaraan, termasuk membawa Khrushchev ke Portsmouth, Inggris, pada 1956, kunjungan yang diwarnai hilangnya penyelam intelijen Inggris di dekat lambung kapal.

KRI Irian (201), kapal penjelajah bekas Uni Soviet yang sempat menjadi kapal perang terbesar yang pernah dimiliki Indonesia sebelum akhirnya dijual sebagai besi tua pada 1972. Foto: TNI AL, domain publik/Wikimedia Commons.

info gambar

KRI Irian (201), kapal penjelajah bekas Uni Soviet yang sempat menjadi kapal perang terbesar yang pernah dimiliki Indonesia sebelum akhirnya dijual sebagai besi tua pada 1972. Foto: TNI AL, domain publik/Wikimedia Commons.


Hubungan Sukarno dengan Moskow menguat sejak akhir 1950-an, seiring kebijakan konfrontasi terhadap Belanda atas status Papua Barat (saat itu disebut Irian Barat). Kunjungan Khrushchev ke Jakarta pada awal 1960 membuka aliran bantuan militer besar-besaran dari Uni Soviet, mulai dari ratusan ribu senapan hingga pesawat tempur.

Awak KRI Irian berbaris di geladak, sebagian dari sekitar 1.200 pelaut Indonesia yang dilatih mengoperasikan kapal ini pada 1962-1963. Foto: Perpustakaan Nasional RI, domain publik/Wikimedia Commons.

info gambar

Awak KRI Irian berbaris di geladak, sebagian dari sekitar 1.200 pelaut Indonesia yang dilatih mengoperasikan kapal ini pada 1962-1963. Foto: Perpustakaan Nasional RI, domain publik/Wikimedia Commons.


Bagian dari paket itu menjadikan TNI AL sebagai pemilik satu skuadron penuh kapal selam kelas Whiskey, kekuatan bawah laut terbesar di Asia-Pasifik saat itu, jauh melampaui negara tetangga mana pun di Asia Tenggara. Namun yang paling mencolok adalah keputusan Moskow mengekspor sebuah kapal penjelajah, satu-satunya kapal permukaan besar yang pernah dilepas Uni Soviet ke negara lain sepanjang Perang Dingin sebelum 1989.

Kapal Sepanjang 210 Meter di Surabaya

Ordzhonikidze berangkat dari Sevastopol pada 5 April 1962 setelah menjalani modifikasi untuk operasi di daerah tropis, termasuk penambahan ventilasi dan generator, dan tiba di Surabaya pada 5 Agustus 1962. Selama enam bulan berikutnya, awak Soviet melatih sekitar 1.200 pelaut Indonesia untuk mengoperasikan kapal seberat 14 ribu ton yang seluruh instrumennya masih berhuruf Sirilik, pelatihan bagi orang-orang yang sebelumnya tidak pernah mengawaki kapal lebih besar dari fregat. Dinas intelijen Belanda saat itu bahkan mencatat kecurigaan bahwa sejumlah awak yang tampil berseragam Indonesia sebenarnya masih perwira Soviet.

Dek haluan KRI Irian dengan tiga meriam 152 mm terlihat dari belakang, saat helikopter mendekat untuk mendarat. Foto: Perpustakaan Nasional RI, domain publik/Wikimedia Commons.

info gambar

Dek haluan KRI Irian dengan tiga meriam 152 mm terlihat dari belakang, saat helikopter mendekat untuk mendarat. Foto: Perpustakaan Nasional RI, domain publik/Wikimedia Commons.


Uni Soviet resmi menonaktifkan kapal ini dari daftar armadanya pada 24 Januari 1963, dan lima hari kemudian menyerahkannya kepada Indonesia. Kapal ini dikomisikan sebagai KRI Irian dengan nomor lambung 201, dan langsung menjadi kapal bendera armada. Ironisnya, penyelesaian sengketa Papua Barat dengan Belanda sudah tercapai lewat Perjanjian New York pada 5 Agustus 1962, jauh sebelum Irian resmi berbendera Indonesia, sehingga kapal ini tidak pernah menembakkan senjatanya dalam konflik itu. Pada 1 Mei 1963, saat Indonesia meresmikan status Irian Barat sebagai provinsi ke-26, kapal ini berlabuh di lepas pantai sebagai latar seremoni yang dihadiri Presiden Sukarno.

by GNFI

info gambar

by GNFI

Rusak dalam Hitungan Bulan

Masa dinas KRI Irian di bawah bendera Indonesia berjalan singkat dan bermasalah. Tidak lama setelah alih kepemilikan, kapal ini mengalami tabrakan dengan sebuah kapal selam, lalu dengan kapal perusak pengawalnya.

Pada November 1963, enam boiler kapal rusak akibat pengoperasian yang tidak tepat, melumpuhkan fungsinya sebagai kapal perang kurang dari setahun setelah diserahterimakan. Irian kemudian dikirim kembali ke Vladivostok pada awal 1964 untuk perbaikan besar, dan awak Soviet yang menerimanya dilaporkan terkejut melihat seberapa cepat kondisi kapal memburuk. Salah satu perubahan yang mereka temukan, ruang perwira telah diubah menjadi ruang ibadah, sesuatu yang sejak 1922 dilarang di kapal Soviet.

Setelah perbaikan, Irian kembali beroperasi dari Surabaya pada Agustus 1964, tetapi aktivitasnya sebagian besar terbatas pada pelayaran singkat keluar pelabuhan setiap beberapa bulan.

Dari Kapal Bendera ke Kapal Tahanan

Situasi berubah drastis setelah peristiwa politik 1965 sampai 1966. Dukungan Uni Soviet terhadap Indonesia menyusut seiring pergeseran kekuasaan ke Suharto, dan aliran suku cadang untuk peralatan buatan Soviet, termasuk untuk Irian, terhenti. Pada 1967, kondisi kapal kembali memburuk, dan alih-alih diperbaiki, kapal ini digunakan sebagai penjara terapung untuk menahan tawanan politik di Surabaya.

Kondisinya terus merosot hingga pada 1970 kapal ini terpaksa ditambatkan di atas gundukan pasir untuk mencegahnya tenggelam di pelabuhan. Dua tahun kemudian, pada 1972, kapal ini dijual sebagai besi tua kepada perusahaan di Taiwan. Sejumlah catatan sejarah berbeda soal detail akhir perjalanannya, namun yang pasti kapal ini tidak pernah lagi berlayar untuk Indonesia.

Hingga hari ini, KRI Irian tetap tercatat sebagai kapal perang terbesar yang pernah dioperasikan Indonesia. Setelah kapal ini keluar dari layanan, TNI AL selama beberapa dekade hanya mengoperasikan fregat dan korvet dengan bobot di bawah 3.000 ton.

Modernisasi Angkatan Laut Hari Ini

Cara Indonesia membangun kekuatan laut pada era Sukarno dan hari ini sangat berbeda. Pada 1960-an, hampir seluruh kekuatan tempur laut dan kapal selam Indonesia bergantung pada satu pemasok, Uni Soviet, sehingga ketika hubungan politik dengan Moskow memburuk pascatahun 1965, seluruh armada warisan itu ikut lumpuh tanpa suku cadang maupun dukungan teknis.

Program modernisasi yang berjalan sejak beberapa tahun terakhir dibangun dengan pendekatan berbeda, menyebar pengadaan ke banyak negara sekaligus. Dua fregat multiguna kelas PPA dari galangan Fincantieri, Italia, senilai kontrak sekitar 1,25 miliar dolar AS, KRI Brawijaya tiba pada September 2025 dan KRI Prabu Siliwangi menyusul pada awal 2026. Dari galangan yang sama, Indonesia juga menerima KRI Gadjah Mada, bekas kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi yang dihibahkan pemerintah Italia dan menjadi kapal induk pertama yang dioperasikan TNI Angkatan Laut.

ITS Giuseppe Garibaldi (C 551) saat masih berdinas di Angkatan Laut Italia. Kapal ini kini menjadi KRI Gadjah Mada, kapal induk pertama yang dioperasikan TNI Angkatan Laut.https://www.navy.mil; exact Source

info gambar

ITS Giuseppe Garibaldi (C 551) saat masih berdinas di Angkatan Laut Italia. Kapal ini kini menjadi KRI Gadjah Mada, kapal induk pertama yang dioperasikan TNI Angkatan Laut.https://www.navy.mil; exact Source


PT PAL di Surabaya membangun fregat kelas Merah Putih berdasarkan desain Arrowhead 140 asal Inggris, dengan kapal pertama diluncurkan Desember 2025. Untuk kekuatan bawah laut, dua kapal selam kelas Scorpène sedang dikerjakan bersama Prancis untuk melengkapi tiga kapal selam buatan Korea Selatan yang sudah beroperasi, sementara kapal cepat rudal baru dipesan dari Turki. Indonesia juga membuka pembicaraan awal dengan Jepang untuk kemungkinan pengadaan delapan fregat kelas Mogami yang telah ditingkatkan kemampuannya.

Menurut catatan pelacakan armada dunia berbasis sumber terbuka, per pertengahan 2026 TNI AL mengoperasikan 345 kapal aktif dan berada di peringkat kesembilan dari 80 angkatan laut yang tercatat secara global. Namun beberapa analis pertahanan mencatat bahwa pertumbuhan jumlah kapal ini membawa tantangan tersendiri, karena setiap keluarga desain kapal, termasuk Gadjah Mada yang berusia lebih dari 40 tahun dan memerlukan modernisasi senilai ratusan juta dolar AS sebelum bisa beroperasi penuh, membawa mesin, sistem radar, sonar, dan perangkat lunak tempur yang berbeda-beda, yang semuanya membutuhkan pasokan suku cadang, pelatihan awak, dan kapasitas galangan perbaikan yang terpisah. Pertumbuhan armada di atas kertas hanya akan menghasilkan kekuatan nyata jika seluruh dukungan logistik itu bisa dijaga berjalan bersamaan, sebuah pelajaran yang sudah lebih dulu ditunjukkan oleh nasib KRI Irian enam dekade lalu.

Referensi:

Detik Oto. (2026, August 26). Intip spesifikasi kapal induk pertama Indonesia KRI Gadjah Mada. detikOto. https://oto.detik.com/berita/d-8634676/intip-spesifikasi-kapal-induk-pertama-indonesia-kri-gadjah-mada

ANTARA News. (2026, July 28). Giuseppe Garibaldi: A new chapter in Indonesia’s maritime defense. https://en.antaranews.com/news/424272/giuseppe-garibaldi-a-new-chapter-in-indonesias-maritime-defense

Army Recognition. (2026, August 29). Former Italian aircraft carrier Giuseppe Garibaldi departs for Indonesia after final flag lowering. https://www.armyrecognition.com/news/navy-news/2026/italy-giuseppe-garibaldi-aircraft-carrier-indonesia-departure

Defence Security Asia. (2026, February 14). Italy’s retired aircraft carrier Giuseppe Garibaldi set to join Indonesian Navy by October 2026, marking Southeast Asia’s first full-deck carrier era. https://defencesecurityasia.com/en/italy-giuseppe-garibaldi-indonesian-navy-aircraft-carrier-2026-blue-water-shift/

Wikipedia contributors. (n.d.). Italian aircraft carrier Giuseppe Garibaldi. Wikipedia. https://en.wikipedia.org/wiki/Italian_aircraft_carrier_Giuseppe_Garibaldi

Stand by: Italy’s carrier arriving. (1984, March). Proceedings, 110(3/973). U.S. Naval Institute. https://www.usni.org/magazines/proceedings/1984/march/stand-italys-carrier-arriving

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Rekor Kapal Perang Terbesar Indonesia: Dari KRI Irian ke KRI Gadjah Mada
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us