
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mulai memperkuat kesiapsiagaan bencana di lingkungan Sekolah Rakyat. Langkah tersebut dilakukan melalui Pelatihan Dasar Manajemen Bencana (DMB) yang digelar di Kota Ternate, Maluku Utara, pada 7-11 September 2026.
Pelatihan yang diinisiasi Pusat Pendidikan dan Pelatihan Penanggulangan Bencana (Pusdiklat PB) BNPB itu diikuti 40 peserta dari unit Sekolah Rakyat di Kota Ternate. Program tersebut menjadi bagian dari upaya BNPB mendukung prioritas nasional dan program Asta Cita Presiden, khususnya dalam meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) serta kesiapsiagaan masyarakat menghadapi ancaman bencana.
Pelatihan dibuka pada Senin (7/9) dan dirancang khusus untuk memperkuat kemampuan manajemen bencana di lingkungan Sekolah Rakyat. Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari Pusdiklat Kementerian Sosial selaku pembina Sekolah Rakyat, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui program Satuan Pendidikan Aman Bencana, BPBD Provinsi Maluku Utara, BPBD Kota Ternate, BPSDM Provinsi Maluku Utara, serta pengelola Sekolah Rakyat di wilayah Kota Ternate.
Koordinator Tim Kerja 3 Pusdiklat BNPB, Roswanto, menegaskan bahwa upaya menciptakan sekolah yang tangguh menghadapi bencana membutuhkan kerja sama lintas sektor.
“Upaya membangun sekolah tangguh bencana tidak bisa berjalan sendiri. Dibutuhkan kolaborasi erat antara pemerintah pusat, daerah, satuan pendidikan, dan seluruh pemangku kepentingan kebencanaan,” ujar Roswanto.
Materi diberikan 41 jam
Pelatihan tersebut berlangsung dengan total 41 jam pelajaran. Materi yang diberikan mengacu pada kurikulum dasar manajemen bencana yang disusun khusus bagi Sekolah Rakyat.
Menurut Roswanto, peserta diharapkan tidak berhenti pada pemahaman teori. Pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan harus dapat diterapkan secara langsung untuk meningkatkan keselamatan warga sekolah.
“Harapannya, peserta tidak hanya memahami teori dasar kebencanaan, tetapi juga mampu menerapkannya langsung di lingkungan sekolah,” jelasnya.
Penguatan kapasitas sekolah dinilai penting karena institusi pendidikan memiliki posisi strategis dalam membangun budaya sadar bencana sejak dini. Melalui pendidikan kebencanaan, para peserta didik dapat diperkenalkan dengan berbagai aspek, mulai dari pemetaan risiko, mitigasi, kesiapsiagaan, hingga langkah tanggap darurat ketika bencana terjadi.
BNPB berharap pelatihan tersebut menjadi langkah awal dalam membentuk Sekolah Rakyat yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar, tetapi juga mampu menjadi lingkungan yang aman dan siap menghadapi berbagai risiko bencana.
Mencetak Generasi Tangguh
Konsep Sekolah Tangguh Bencana yang didorong BNPB tidak hanya berorientasi pada kemampuan teknis menghadapi bencana. Lebih jauh, program tersebut diarahkan untuk membentuk generasi yang memahami risiko, mampu mengambil keputusan ketika menghadapi situasi krisis, serta memiliki kepedulian terhadap keselamatan bersama.
Dengan pembekalan sejak lingkungan sekolah, pengetahuan mengenai kebencanaan diharapkan dapat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Para peserta didik juga diharapkan mampu membawa budaya kesiapsiagaan tersebut ke lingkungan keluarga dan masyarakat.
Acara pembukaan pelatihan turut dihadiri Kepala Sekolah Rakyat Menengah Pertama 26 Ternate, Manton La Usma. Sementara itu, Kepala Pusdiklat BNPB, Dr. Kheriawan, M.M., tidak dapat hadir karena tengah memimpin misi kemanusiaan dalam penanganan darurat bencana.
BNPB menilai kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, satuan pendidikan, dan pemangku kepentingan kebencanaan menjadi kunci untuk membangun ekosistem pendidikan yang aman.
Melalui program tersebut, Sekolah Rakyat di Maluku Utara diharapkan dapat menjadi bagian dari ekosistem pendidikan yang aman, tangguh, dan berkelanjutan sekaligus menjadi ruang penting untuk mencetak generasi yang lebih siap menghadapi ancaman bencana di masa depan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News
Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.
Tim Editor