Kala Perpaduan Budaya Aceh dan Minangkabau Dipentaskan di Pesta Tari Singapura pada 1984 | Berita Harian 9 Januari 1984
Apa jadinya sebuah pentas seni yang memadukan dua unsur kebudayaan khas dari Indonesia, yakni Aceh dan Minangkabau dalam satu pementasan sekaligus? Pertunjukan yang memadukan kedua budaya dari tanah Sumatra ini ternyata pernah terjadi pada 1984 silam.
Tidak di Indonesia, pertunjukan ini justru terjadi di negara tetangga Singapura. Perpaduan dua unsur budaya ini dipentaskan di Pesta Tari Singapura yang digelar pada waktu itu.
Meskipun digelar di Singapura, keterlibatan orang Indonesia sangat kental terasa dalam pertunjukkan tersebut. Terlebih perpaduan antara kedua unsur budaya ini sendiri merupakan kreasi dari seniman asli Indonesia.
Bagaimana momen saat pementasan yang memadukan dua unsur budaya Aceh dan Jawa yang digelar di Pesta Tari Singapura pada 1984 silam? Simak ulasan terkait momen yang satu ini dalam artikel berikut.
Perpaduan Dua Budaya Indonesia
Disitat dari artikel “Budaya Aceh, Minangkabau dlm Pesta Tari S’pura” yang terbit di surat kabar Berita Harian edisi 9 Januari 1984, Pesta Tari Singapura adalah sebuah perhelatan yang pernah diselenggarakan di Singapura pada 1984 silam. Acara tersebut digelar pada Juni 1984 saat itu.
Dalam pementasan ini, ada sebuah persembahan kebudayaan yang ditampilkan untuk menghibur para pengunjung yang datang. Pertunjukkan tersebut menampilkan perpaduan dua budaya asli dari Indonesia, yakni Aceh dan Minangkabau.
Pemilihan pertunjukan ini disebutkan karena akar tarian Melayu yang banyak berkembang di Singapuran memiliki banyak pengaruh dari kedua budaya tersebut. Para penari asli dari Singapura pun ikut terlibat dalam pementasan yang menampilkan kebudayaan khas Indonesia tersebut.
Sajian Kesenian Lain untuk Para Pengunjung
Untuk mempersiapkan pertunjukkan ini, dua ahli dari Indonesia didatangkan langsung untuk melatih para penari yang ada di Singapura. Kedua ahli yang didatangkan langsung dari Indonesia tersebut adalah Nurdin Daud dan Tom Ibnur dari Majelis Seni Indonesia.
Kedua seniman ini juga memegang peranan penting dalam pertunjukan tersebut. Sebab tarian yang ditampilkan dalam Pentas Tari Singapura ini merupakan kreasi dari Nurdin Daud dan Tom Ibnur.
Nurdin Daud menjadi orang di balik pementasan tari yang dia beri judul “Piasan Rajo.” Judul ini mengambil dua kata dari bahasa Aceh dan Minangkabau, yakni Piasan (Aceh) dan Rajo (Minangkabau).
Judul ini sendiri secara harfiah berarti “Pesta Raja.” 30 penari terlibat langsung dalam pertunjukkan yang diciptakan oleh Nurdin Daud tersebut.
Tidak hanya sekadar tarian saja, alat musik khas dari kedua kebudayaan ini juga turut mengiringi pertunjukkan “Piasan Rajo.” Terdapat beberapa alat musik tradisional yang dimainkan oleh 10 pemusik untuk mengiringi pementasan ini, yakni talempong, rebana, gendang, tambur, dan kentung.
Selain “Piasan Rajo,” Nurdin Daud jga mengajarkan tiga tarian lagi yang digunakan sebagai pembuka sebelum pentas utama, yakni “Pukat,” “Tari Si Gumarang,” dan “Amboi Cik Awang.” Di sisi lain, Tom Ibnur juga turut merumuskan satu jenis tarian lainnya, yakni “Padam.”
Persiapan untuk mematangkan tarian-tarian ini dilakukan selama tiga minggu penuh di bawah bimbingan Nurdin Daud dan Tom Ibnur. Puluhan penari juga ikut terlibat langsung selama pelatihan tersebut sebelum dipilih langsung oleh kedua mentor untuk menampilkan tarian yang akan dibawakan dalam Pesta Tari Singapura.
Empat tarian pembuka yang ditampilkan sebelum sajian utama memakan waktu lebih kurang 90 menit. Sementara itu, pertunjukan “Piasan Rajo” yang menjadi inti dari pementasan tersebut berlangsung selama lebih kurang 45 menit.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News