1. News
  2. Berita
  3. Validasi

Validasi

validasi
Validasi

Setiap kali membuat unggahan di medsos, apakah kita selalu menantikan bagaimana publik meresponsnya? Siapa yang memberikan tanda “like” atau bahkan menanggapi dengan komentar. Ketika menyampaikan sebuah ide dalam rapat, apakah kita juga waswas menantikan peserta meresponsnya?  

Validasi semacam itu kerap kita lakukan. Anak kecil secara naluriah mencari validasi dari orangtuanya. Hal pertama yang dilakukan seorang anak setelah berhasil menyusun balok mainan atau menghabiskan makanannya, misalnya, adalah mencari mata orangtuanya. Ia berharap menemukan senyum dan tanda bangga mereka.

Mekanisme itu sudah terbentuk sejak ribuan tahun lalu. Ketika diterima menjadi bagian dari kelompok, kita merasa lega karena ini merupakan hal penting untuk bertahan hidup. Sementara itu, dikucilkan berarti hilangnya sumber daya dan perlindungan.

Secara biologis, saat kita mengantisipasi kemungkinan mendapat pengakuan, bukan hanya saat menerimanya, otak melepaskan dopamin. Peran dopamin sebenarnya sebagai sinyal “mengejar” (wanting) daripada sinyal “menikmati” (liking). Ini membuat kita terdorong terus memeriksa notifikasi, bukan sekadar rasa senang ketika mendapatkannya.  Psikolog Bonnie Zucker mengatakan, kebiasaan mencari pengakuan lewat unggahan medsos bisa berubah menjadi ketergantungan seperti candu. Apalagi dengan mekanisme respons medsos yang tidak dapat diprediksi, mirip dengan mekanisme mesin permainan di tempat perjudian yang begitu adiktif.  Rasa lega yang kita dapat dari like dan komentar bersifat sesaat. Begitu efeknya menguap, kita cenderung mencarinya lagi, dan siklus ini terus berulang. Ketika upaya mencari validasi menjadi kronis, sistem saraf pun terus berada dalam kondisi sangat waspada. Ini berkontribusi pada gangguan kecemasan, depresi, dan masalah kesehatan akibat stres karena otak terus-menerus memantau sinyal penerimaan atau penolakan. 

Validasi yang sehat

Sebenarnya wajar bila kita sesekali bertanya kepada teman, apakah telah menyinggung perasaannya atau meminta pendapat pasangan mengenai pilihan busana untuk acara penting. Manusia yang sehat mampu menerima umpan balik yang tidak menyenangkan tanpa kehilangan penerimaan terhadap dirinya.

Melalui self-compassion dan unconditional self-acceptance, seseorang dapat mengakui kekurangannya tanpa menghakimi dirinya secara keseluruhan sehingga kritik dimanfaatkan untuk pengembangan diri, bukan sebagai ancaman terhadap nilai dirinya.

Orang yang hanya mengelilingi diri dengan pujian, dan menghindar dari kritik yang membangun, cenderung kehilangan kalibrasi terhadap realita. Merasa baik-baik saja, tetapi persepsi tentang diri sendiri justru makin jauh dari kenyataan.

Susan Ashford, dalam teorinya mengenai feedback-seeking behavior, membedakan dua motif orang mencari umpan balik. Pertama, motif instrumental, yaitu mencari informasi yang akurat. Kedua, motif ego-protektif, mencari atau menghindari umpan balik untuk melindungi ego seperti yang dilakukan para atasan dari anak buah yang “asal bapak senang”. Dengan kata lain, mencari validasi itu bukan masalah, persoalannya ada pada alasan kita mencarinya.

Validasi yang sehat berfungsi sebagai cermin yang membantu kita melihat blind spot yang tidak bisa kita lihat sendiri. Validasi ini justru harus terus dipelihara, karena tanpanya kita berisiko sulit menerima kritik dan kehilangan kemampuan mengoreksi diri.

Sebaliknya, validasi sebagai kebutuhan emosional terlihat ketika kita tidak lagi bisa membuat keputusan tanpa persetujuan orang lain, ketika suasana hati naik turun mengikuti reaksi orang di sekitar, atau ketika kita mengubah pendapat dan penampilan hanya demi diterima. Ketergantungan ini membuat kita kehilangan kemampuan menilai situasi secara mandiri.

Awal 2026, diperkirakan ada sekitar 5,79 miliar identitas pengguna medsos di dunia (sekitar 70 persen populasi global). Berarti hampir 7 dari 10 orang di bumi berada dalam mesin raksasa yang dirancang untuk terus-menerus meminta dan memberi validasi emosional yang dangkal karena algoritma medsos pada dasarnya mengoptimalkan keterikatan, bukan untuk akurasi umpan balik.

Tetap menjaga kendali

Ada beberapa langkah yang dapat kita coba untuk tetap terbuka terhadap masukan tanpa kehilangan kendali atas diri sendiri.

Pertama, bertanya pada diri sendiri sebelum membuat unggahan. Apakah saya sedang mencari informasi untuk berkembang, atau supaya merasa lebih baik? Kalau jawabannya membuat kita ragu, ada baiknya tahan dulu menekan tombol kirim.

Kedua, alih-alih terus mencari pengakuan dari luar, dari mereka yang belum tentu mengenal kita, temukan dan kelilingi diri dengan orang yang menerima dan menghargai diri kita apa adanya. Penerimaan yang tulus bisa memupus dahaga akan pengakuan superfisial.

Ketiga, berlatih untuk mengakui sekecil apa pun pencapaian diri, tetapi terbuka pada masukan yang berbeda. Ini yang disebut validasi diri, kemampuan mengakui bahwa apa yang kita rasakan dan capai itu sah, terlepas dari apakah ada yang menepuk pundak kita atau tidak.

Validasi diri yang sehat bukan berarti berhenti mendengarkan orang lain. Ia menggunakan masukan orang lain untuk uji keakuratan, tapi tidak bergantung pada mereka untuk merasa berharga. Semakin sering kita melatihnya, semakin kuat pula fondasi rasa percaya diri kita dari dalam.

Keempat, batasi penggunaan medsos. Kita tidak perlu sepenuhnya menjauh dari medsos, tetapi harus memilih dengan sadar kapan kita membuka aplikasi, bukan sekadar refleks setiap ada notifikasi. Terakhir, isi waktu luang dengan berbagai aktivitas yang dapat membuat kita merasa puas dan bermakna sehingga kita tidak lagi menunggu validasi dari luar.

Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) berkolaborasi dengan Princeton University melakukan riset pada awal 2026, yang melibatkan 1.502 responden di 30 kota di Indonesia. Kelompok responden yang diminta berhenti menggunakan medsos selama satu bulan, menunjukkan penurunan skor kecemasan, sementara kelompok yang tetap aktif justru mengalami peningkatan.

Penurunan yang lebih besar terjadi pada kelompok yang berhenti bersama seluruh anggota keluarga. Ini berarti yang dibutuhkan bukan menjauh dari validasi, melainkan berpindah dari sumber validasi yang dangkal ke sumber yang jujur dan bisa dipercaya.

Pada akhirnya, mencari pandangan orang lain bukan kelemahan yang harus kita hilangkan karena itu salah satu cara manusiawi untuk tetap rendah hati dan terus berkembang. Namun, ingat, medsos bukanlah kehidupan yang sesungguhnya. Apa yang kita lihat di layar hanyalah potongan kecil yang sudah dipilih dengan sangat cermat, bukan gambaran utuh dari kehidupan siapa pun, termasuk kehidupan kita sendiri.

Baca juga: Memelihara Sukacita

EXPERD

HR CONSULTANT/KONSULTAN SDM

Eileen Rachman & Eileen Rachman

Character Building Assessment & Training EXPERD

EXPERD (EXecutive PERformance Development) merupakan konsultan pengembangan sumber daya manusia (SDM) terkemuka di Indonesia.

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Validasi
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us