Oleh : Mustofa Ahmad Nugraha
Mapala Natural Forum IAI SEBI
Wartapalaindonesia.com, PERSPEKTIF – Berita mengenai aktivitas gunung api kembali menarik perhatian masyarakat. Erupsi Gunung Anak Krakatau dan aktivitas vulkanik sejumlah gunung api lainnya mengingatkan kita bahwa Indonesia hidup berdampingan dengan kekuatan alam yang tidak pernah benar-benar berhenti bergerak.
Di saat yang hampir bersamaan, persoalan lingkungan lain juga menjadi perhatian: kebakaran hutan dan lahan atau karhutla. Asap, rusaknya ekosistem, hilangnya habitat satwa, hingga buruknya kualitas udara kembali menjadi persoalan yang harus dihadapi masyarakat.
Kemunculan berbagai persoalan lingkungan tersebut kemudian menimbulkan sebuah pertanyaan: Apakah berbagai fenomena ini hanya merupakan kejadian alam yang biasa, atau alam sedang memberikan peringatan kepada manusia?
Erupsi Gunung Bukan Sekadar Akibat Kerusakan Lingkungan
Sebelum menghubungkan erupsi gunung dengan kerusakan lingkungan, kita perlu memahami bagaimana gunung api bekerja.
Indonesia merupakan salah satu wilayah dengan aktivitas vulkanik yang tinggi karena berada pada kawasan pertemuan lempeng tektonik. Pergerakan lempeng tersebut berkaitan dengan terbentuknya banyak gunung api aktif di Indonesia.
Erupsi terjadi ketika tekanan magma dan gas di dalam sistem gunung api meningkat hingga material vulkanik keluar ke permukaan. Dengan demikian, erupsi merupakan bagian dari proses geologi Bumi yang secara alami dapat terjadi.
Artinya, tidak tepat jika setiap gunung meletus langsung dikaitkan dengan kerusakan hutan, pencemaran, atau aktivitas manusia. Kerusakan lingkungan bukan penyebab utama gunung api mengalami erupsi.
Namun, bukan berarti manusia tidak memiliki peran dalam persoalan tersebut.
Ketika Kerusakan Lingkungan Memperbesar Risiko
Jika erupsi merupakan proses geologi, karhutla memiliki karakter yang berbeda.
Kebakaran hutan dan lahan dapat terjadi karena berbagai faktor. Kondisi cuaca yang panas dan kering dapat membuat vegetasi dan lahan menjadi lebih mudah terbakar. Dalam kondisi tertentu, faktor alami dapat berperan.
Namun, aktivitas manusia juga dapat menjadi salah satu faktor penting dalam terjadinya kebakaran, terutama ketika pembukaan atau pengelolaan lahan dilakukan dengan cara yang tidak bertanggung jawab.
Ketika hutan terbakar, persoalannya tidak berhenti pada hilangnya pepohonan. Ekosistem ikut terganggu, habitat satwa rusak, kualitas udara menurun, dan masyarakat yang berada di sekitar wilayah terdampak dapat merasakan akibatnya.
Karhutla menunjukkan bahwa terdapat bencana yang memang dipengaruhi kondisi alam, tetapi risikonya dapat diperbesar oleh tindakan manusia.
Dua Fenomena, Dua Penyebab
Erupsi gunung dan karhutla tidak bisa dimasukkan ke dalam satu penyebab yang sama.
Gunung meletus terutama berkaitan dengan proses geologi di dalam Bumi. Sementara itu, karhutla memiliki banyak faktor, mulai dari kondisi cuaca dan lingkungan hingga aktivitas manusia.
Justru di sinilah kita perlu berhati-hati. Ketika melihat berbagai bencana terjadi dalam waktu yang berdekatan, manusia cenderung mencari satu penyebab yang sederhana.
Padahal, alam bekerja melalui sistem yang jauh lebih kompleks.
Karena itu, pertanyaan yang lebih tepat bukanlah apakah kerusakan lingkungan membuat gunung meletus, melainkan apakah cara manusia memperlakukan lingkungan membuat kita semakin rentan ketika bencana terjadi?
Jawabannya patut menjadi perhatian.
Alam Tidak Harus “Marah” untuk Memberikan Pelajaran
Ungkapan “alam sedang memberi peringatan” mungkin terdengar puitis, tetapi tidak harus dimaknai bahwa alam memiliki kehendak untuk menghukum manusia.
Peringatan tersebut dapat kita pahami sebagai sebuah refleksi.
Erupsi gunung mengingatkan kita bahwa manusia memiliki keterbatasan dalam mengendalikan proses alam. Karhutla mengingatkan bahwa sebagian risiko lingkungan justru dapat diperparah oleh keputusan manusia sendiri.
Keduanya memberikan pelajaran yang berbeda.
Kita tidak mungkin menghentikan pergerakan lempeng tektonik. Kita juga tidak dapat memerintahkan gunung api untuk berhenti beraktivitas. Namun, kita dapat meningkatkan kesiapsiagaan, mengikuti informasi dari lembaga resmi, memahami wilayah rawan bencana, dan tidak mengabaikan tanda-tanda aktivitas vulkanik.
Di sisi lain, kita memiliki ruang yang jauh lebih besar untuk mencegah dan mengurangi kerusakan lingkungan akibat aktivitas manusia.
Bukan Takut kepada Alam, tetapi Belajar Memahaminya
Bencana seharusnya tidak hanya membuat masyarakat takut. Bencana juga harus membuat kita belajar.
Ketika gunung api erupsi, masyarakat membutuhkan informasi yang benar, bukan kepanikan. Ketika karhutla terjadi, masyarakat membutuhkan penanganan dan pencegahan yang serius, bukan sekadar menyalahkan keadaan.
Menjaga lingkungan juga bukan berarti percaya bahwa setiap bencana terjadi karena manusia merusak alam. Menjaga lingkungan berarti menyadari bahwa kehidupan manusia sangat bergantung pada kondisi lingkungan yang sehat.
Pada akhirnya, mungkin alam memang tidak sedang “marah”. Gunung yang erupsi sedang menjalankan proses geologinya. Hutan yang terbakar memiliki penyebab yang perlu ditelusuri secara ilmiah.
Namun, berbagai peristiwa tersebut tetap dapat menjadi peringatan bagi manusia untuk lebih memahami alam, meningkatkan kesiapsiagaan, dan berhenti memperparah kerusakan lingkungan yang sebenarnya masih bisa kita cegah.
Sebab kita mungkin tidak mampu mengendalikan alam.
Tetapi kita masih bisa menentukan bagaimana kita memperlakukannya dan bagaimana kita mempersiapkan diri ketika alam menunjukkan kekuatannya. (M)
Editor || Ahyar Stone, WI 21021 AB
Foto || SARMMI
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)