Band heavy rock asal Cianjur, Souhaiter, kembali melanjutkan perjalanannya lewat singel ketiga bertajuk “The Fleet Halcyon”. Lagu ini dirilis pada 4 September 2026 dengan membawa cerita tentang berdamai dengan masa lalu, termasuk berbagai pengalaman yang pernah membentuk perjalanan hidup sang vokalis.
Souhaiter dihuni oleh Yuzar Djuandi pada vokal, Agung Satrio (gitar), Keysha Puteri (gitar), Fathuran Althaf (drum), dan Taufan Bara (bas). Melalui “The Fleet Halcyon”, mereka mengolah pengalaman personal menjadi sebuah cerita tentang bagaimana seseorang memilih untuk menerima hal-hal yang sudah terjadi dan melangkah tanpa membawa terlalu banyak drama ke depan.
Bagi Yuzar, pengalaman seperti berakhirnya pertemanan mau pun hubungan asmara justru menjadi bahan untuk menulis lirik lagu. Segala kejadian tersebut tidak hanya berhenti sebagai ingatan, tetapi diterjemahkan menjadi kata-kata di dalam lirik.
“Saya memaknai segala kejadian dalam perjalanan hidup sebagai pengalaman berharga, hancurnya pertemanan, hancurnya hubungan asmara,” kata Yuzar saat dihubungi Pophariini (22/09).
Tema berdamai dengan masa lalu kemudian diperkuat melalui penggunaan metafora Atropos, salah satu figur dalam mitologi Yunani yang berkaitan dengan takdir dan sesuatu yang tidak bisa dihindari. Pemilihan sosok tersebut berangkat dari karakter Atropos yang dianggap sejalan dengan prinsip Yuzar dalam menghadapi kehidupan.
“Arti nama Atropos sendiri adalah ‘yang tidak dapat diubah’ atau ‘tak terhindarkan’,” jelas Yuzar.
Menurutnya, karakter tersebut digambarkan sebagai sosok yang tidak memiliki kompromi dan tidak bisa dibujuk oleh penyesalan manusia. Referensi tersebut kemudian menjadi salah satu cara Souhaiter mempertegas gagasan bahwa ada hal-hal dalam hidup yang memang tidak bisa diubah, sehingga yang tersisa adalah menerima dan terus berjalan.
Di luar rilisan, Souhaiter juga tumbuh dalam lingkungan pertunjukan yang mempertemukan mereka dengan sejumlah kolektif lokal. Beberapa nama seperti Rumble Effect Super Music, Ourfest Shoutout Production, Uthie Project, Nyarigigs, Koentji Laci, dan Pelatar menjadi bagian dari daftar ruang yang disebut band tersebut.
Sebagian panggung sudah mereka rasakan atmosfernya. Namun, Souhaiter masih ingin mencoba kesempatan tampil di beberapa acara lain yang dianggap bisa menjadi ruang untuk berkembang.
“Sebagiannya kami sudah merasakan atmosfer stage-nya, namun kami rasa bahwa kami harus mencoba kesempatan tampil di Pelatar, The Beat Brawlers, dan Flower City Festival, Timeless Project Live,” ucap Yuzar.
Lewat “The Fleet Halcyon”, Souhaiter kembali memperlihatkan bagaimana pengalaman personal dapat menjadi bahan bakar dalam menulis musik. Di tengah cerita tentang kehilangan, berakhirnya hubungan, dan hal-hal yang tak dapat diubah, mereka memilih satu sikap, yaitu menerima masa lalu tanpa harus terus tinggal di dalamnya.