Foto oleh Fasyah Halim di Unsplash
PT Astra International Tbk (ASII) mencatat penurunan kinerja keuangan pada semester I 2026. Laba bersih perseroan tercatat sebesar Rp12,5 triliun, turun 19 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp15,5 triliun.
Penurunan laba tersebut terjadi bersamaan dengan melemahnya pendapatan bersih konsolidasian Astra. Sepanjang enam bulan pertama 2026, pendapatan tercatat Rp157,9 triliun, turun 3 persen dibandingkan Rp162,9 triliun pada semester I 2025.
Head of Corporate Relations Astra International, Tira Ardianti, mengatakan perseroan saat ini memiliki tiga bisnis inti, yakni otomotif, jasa keuangan, serta solusi pertambangan dan alat berat.
Menurutnya, ketiga sektor tersebut masih menjadi penopang utama bisnis Astra dengan kontribusi sekitar 90 persen terhadap pendapatan konsolidasi. Sementara itu, bisnis lainnya atau wider businesses menyumbang sekitar 10 persen.
“Tiga bisnis inti ini menyumbang sekitar 90 persen terhadap pendapatan secara konsolidasi,” ujar Tira dalam Astra Media Day di Menara Astra, Jakarta Selatan, Rabu (23/9).
Penurunan laba secara keseluruhan terutama dipengaruhi melemahnya kontribusi bisnis solusi pertambangan dan alat berat. Kondisi tersebut terjadi meski sebagian besar lini bisnis Astra masih mampu mencatatkan kinerja positif.
Bisnis Tambang Tertekan, Otomotif Justru Tumbuh
Bisnis solusi pertambangan dan alat berat menjadi salah satu faktor utama yang menekan kinerja Astra pada semester I 2026. Laba bersih segmen tersebut, di luar non-recurring items, tercatat Rp2,7 triliun.
Angka itu anjlok 46 persen dibandingkan Rp5 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Penurunan tersebut dipengaruhi sejumlah faktor. Salah satunya adalah minimnya penjualan emas dari tambang Martabe. Selain itu, penurunan kuota produksi batu bara nasional melalui alokasi RKAB turut berdampak terhadap permintaan alat berat dan jasa penambangan.
Tekanan tersebut tercermin dari penjualan alat berat Komatsu. Hingga semester I 2026, penjualan tercatat 1.994 unit atau turun 27 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Penurunan terutama terjadi pada alat berat berukuran besar yang digunakan di sektor pertambangan. Pelemahan tersebut sejalan dengan turunnya alokasi RKAB.
Kinerja tambang emas jadi perhatian
Kinerja tambang emas Martabe juga menjadi perhatian. Produksi atau penjualan emas hanya mencapai sekitar 23.000 ons pada semester I 2026, jauh di bawah capaian 125.000 ons pada periode yang sama tahun lalu.
Operasional tambang tersebut sempat dihentikan sementara pada awal 2026 dan baru kembali beroperasi pada kuartal II.
Meski bisnis pertambangan dan alat berat mengalami tekanan, tidak seluruh lini usaha Astra mencatat penurunan. Segmen otomotif justru membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 9 persen menjadi Rp5,9 triliun.
Sementara itu, bisnis jasa keuangan juga mencatat pertumbuhan. Laba bersih segmen tersebut naik 6 persen menjadi Rp4,6 triliun.
Kinerja tersebut menunjukkan adanya perbedaan kontribusi antarsegmen dalam struktur bisnis Astra. Ketika sektor pertambangan dan alat berat tertekan akibat faktor produksi dan permintaan, bisnis otomotif serta jasa keuangan masih mampu memberikan kontribusi positif terhadap kinerja grup.
Dengan tiga bisnis inti yang menyumbang mayoritas pendapatan konsolidasi, perkembangan masing-masing sektor akan menjadi faktor penting bagi kinerja Astra pada paruh kedua 2026.
Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.
Tim Editor