1. News
  2. Berita
  3. Rumah Batu Olak Kemang, Kediaman Ulama Abad ke-18 Berornamen Naga dan Tiang Kolonial di Tepian Batanghari

Rumah Batu Olak Kemang, Kediaman Ulama Abad ke-18 Berornamen Naga dan Tiang Kolonial di Tepian Batanghari

rumah-batu-olak-kemang,-kediaman-ulama-abad-ke-18-berornamen-naga-dan-tiang-kolonial-di-tepian-batanghari
Rumah Batu Olak Kemang, Kediaman Ulama Abad ke-18 Berornamen Naga dan Tiang Kolonial di Tepian Batanghari

Dok. portalbpsdm.jambiprov.go.id


Di kawasan Seberang Kota Jambi, di tepian Sungai Batanghari, berdiri sebuah bangunan yang usianya sudah melampaui dua abad. Rumah Batu Olak Kemang terletak di Kelurahan Olak Kemang, Kecamatan Danau Teluk, dan merupakan bekas kediaman Sayyid Idrus bin Hasan Al-Jufri, seorang ulama, saudagar, dan figura penting Kesultanan Jambi yang lebih dikenal dengan gelarnya sebagai Pangeran Wirokusumo.

Ia adalah besan dari Sultan Thaha Syaifudin, sultan terakhir Kerajaan Jambi yang terkenal karena penolakannya terhadap perjanjian dengan Belanda.

Yang membuat bangunan ini lain dari situs sejarah pada umumnya adalah komposisi arsitekturnya. Di satu bangunan yang sama, tiga pengaruh besar berpadu, yaitu rumah panggung khas Melayu Jambi di lantai dua, ornamen naga dan ukiran bergaya Tionghoa di dinding, serta pilar-pilar batu dan ubin terakota bergaya Eropa di lantai bawah.

Sekilas Mengenai Rumah Batu Olak Kemang

Pangeran Wirokusumo membangun kediaman ini bukan semata sebagai tempat tinggal. Lokasinya yang berdekatan dengan pesantren menegaskan fungsinya sebagai pusat pendidikan dan dakwah Islam di wilayah Seberang Kota Jambi.

Pada 1880, bersama Datuk Sintai (atau Datuk Shin Thai), seorang ulama keturunan Tionghoa, ia mendirikan Masjid Al-Ihsaniyah, masjid pertama di Jambi yang dibangun dari bahan batu.

Kedekatan antara seorang ulama Arab-Melayu dan seorang ulama Tionghoa yang bahu-membahu membangun masjid adalah gambaran tentang karakter sosial kawasan Olak Kemang pada abad ke-18 dan 19.

Dari sisi silsilah, posisi Pangeran Wirokusumo dalam jaringan kekuasaan Jambi sangat strategis. Sebagai besan Sultan Thaha Syaifudin, ia berada dalam lingkaran terdalam istana.

Rumah Batu Olak Kemang dengan demikian juga menjadi simpul dari jaringan dakwah, perdagangan, dan kekuasaan yang berpotongan dalam satu titik di tepian Batanghari.

Daya Tarik Utama Rumah Batu Olak Kemang

Hal yang paling langsung terasa saat mendekati bangunan ini adalah perpaduan elemen yang tidak biasanya ada dalam satu rumah.

Bagian lantai dua seluruhnya terbuat dari kayu mengikuti tradisi rumah panggung Jambi, sebuah bentuk yang memang logis untuk bangunan di tepi sungai yang kerap banjir. Sementara di bagian bawah, pilar-pilar dari bata dan semen dengan bentuk yang tegak dan kokoh terasa sangat berbeda dari konstruksi tradisional, lebih dekat ke gaya bangunan kolonial.

Ornamen Tionghoa hadir paling kuat di bagian dinding dan gapura. Relief naga yang terukir di dinding putih, ukiran singa dan bunga, serta bentuk atap yang mengacu pada karakteristik Dinasti Qing menjadi bagian yang dikontribusikan oleh Datuk Sintai dalam proses pembangunan

Toleransi yang memungkinkan seorang ulama Muslim membangun rumahnya dengan ornamen khas tradisi Tionghoa adalah catatan tersendiri tentang kehidupan plural di kawasan ini.

Di dekat bangunan utama, Masjid Al-Ihsaniyah yang juga didirikan Pangeran Wirokusumo bisa sekaligus dikunjungi. Masjid yang dibangun dari batu ini adalah masjid pertama dengan material batu di Jambi, dan keberadaannya memperkuat konteks kawasan Olak Kemang sebagai pusat penyebaran Islam di masa itu.

Akses Menuju Rumah Batu Olak Kemang

Rumah Batu Olak Kemang berada di Kelurahan Olak Kemang, Kecamatan Danau Teluk, Seberang Kota Jambi. Untuk mencapainya dari pusat Kota Jambi, Kawan perlu menyeberangi Sungai Batanghari.

Ada dua cara yang lazim digunakan, naik perahu ketek dari kawasan Pasar Jambi dengan ongkos sekitar Rp3.000 hingga Rp5.000, atau memutar melalui Jembatan Aur Duri yang menghubungkan kedua sisi kota dengan waktu tempuh sekitar 30 menit berkendara.

Setelah menyeberang ke Seberang Kota, kawasan Olak Kemang bisa dijangkau dengan ojek atau kendaraan pribadi. Lokasinya tidak jauh dari tepian sungai dan bisa ditemukan dengan panduan Google Maps atau bertanya kepada warga setempat.

Jam Operasional dan Harga Tiket

Rumah Batu Olak Kemang tidak memiliki jam operasional resmi layaknya museum. Kunjungan bisa dilakukan dengan menghubungi atau menemui penjaga yang merupakan anggota keluarga keturunan Pangeran Wirokusumo, terutama untuk masuk ke bagian dalam bangunan.

Tidak ada tiket masuk yang dikenakan. Kunjungan yang paling bermakna adalah saat ada koordinasi sebelumnya dengan penjaga agar bisa mendapat penjelasan langsung tentang sejarah bangunan dan keluarga pendirinya.

Ayo Berkunjung ke Rumah Batu Olak Kemang!

Rumah Batu Olak Kemang cocok untuk Kawan GNFI yang tertarik pada sisi sejarah Jambi yang jarang muncul dalam itinerary wisata umum.

Gabungkan kunjungan ini dengan Masjid Al-Ihsaniyah yang ada di dekatnya, dan gunakan perahu ketek dari kawasan pusat kota untuk pengalaman menyeberangi Batanghari yang sudah menjadi bagian dari keseharian warga Jambi sejak berabad-abad lalu. Selamat berkunjung!

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Rumah Batu Olak Kemang, Kediaman Ulama Abad ke-18 Berornamen Naga dan Tiang Kolonial di Tepian Batanghari
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us