Sejarah hubungan antara Gunung Kawi dan Mpu Sindok berakar pada masa perpindahan pusat pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno (Medang) dari Jawa Tengah ke Jawa Timur pada abad ke-10. Jauh sebelum dikenal dengan stigma mistis modern, Gunung Kawi merupakan kawasan suci prasejarah, pusat spiritualitas, dan tempat ziarah para raja Jawa.
Magnet bagi Penguasa Setelahnya: Karena dianggap memiliki energi spiritual (tuah) yang tinggi bekas pertapaan Mpu Sindok, tempat ini konon kerap dikunjungi tokoh besar Nusantara abad berikutnya untuk mencari ilham, mulai dari Prabu Kameswara (Kerajaan Kediri), Ken Arok (Singasari), hingga Mahapatih Gajah Mada (Majapahit).
Pergeseran Makna dari Era Kuno ke Modern
Masa Kerajaan & Kolonial: Gunung Kawi awalnya merupakan tempat suci untuk bertapa, mencari ketenangan batin, serta menghormati leluhur (seperti Mpu Sindok, lalu menyusul tokoh penyebar Islam seperti Eyang Jugo dan Eyang Sujo). Ritualnya berfokus pada ngalap berkah (memohon keselamatan dan kelancaran rezeki kepada Tuhan).
Era Modern (Pasca-Kemerdekaan): Seiring berkembangnya kapitalisme dan desakan ekonomi, pemaknaan ngalap berkah bergeser di sebagian kalangan masyarakat menjadi tindakan pragmatis untuk memperkaya diri secara instan, yang kemudian memicu lahirnya mitos-mitos mistis baru.